Sepercik Riak Untuk Gelombang

3 Nov

Supernova: Gelombang

 

Judul: Supernova: Gelombang

Penulis: Dee Lestari

Penerbit: Bentang Pustaka

ISBN: 978-602-291-057-2

Harga: Rp 79.000,-

Tahun Terbit: Oktober 2014

Tebal: 492 halaman

 

 

Sejujurnya, penilaian untuk Gelombang tidaklah murni 5 bintang. Saya memberikan 4.75, sedikit lebih rendah dari Partikel atau Petir. Ada sesuatu “kekosongan”, yang sulit dijabarkan, yang membuat Gelombang belum mencapai sempurna.

Seperti biasa, untuk kesekian kalinya, saya tidak akan bosan mengulang prolog yang sama setiap kali memberikan komentar untuk seri Supernova. Pertemuan saya dengan Supernova terbilang baru seumur jagung. Dibandingkan penggemar Dee yang telaten menunggu hingga bertahun-tahun, saya hanyalah butiran debu. Awalnya justru saya cenderung skeptis dan apatis dengan euforia Supernova.

Tapi, sialan, tidak sampai setahun melahap habis semua serinya, termasuk Gelombang, saya benar-benar resmi menjadi butiran debu! Saya terjatuh, tenggelam, hingga tersesat-dan-tak-tahu-arah-jalan-pulang sejak membaca buku pertama. Dan sialnya (lagi), sekarang saya sudah dalam tahap adiksi dan kepalang sakau menunggu Intelegensi Embun Pagi.

Dee dan Supernova-nya memang selalu magis dan menghipnosis. Ketika memangku Gelombang untuk pertama kalinya, saya bahkan sampai menggelinjang. Gugup dan haru menyatu. Norak, memang. Seperti mau kencan pertama saja. Oke, ini berlebihan, tapi sekaligus sungguhan.

Sebelum mulai membaca, saya sudah menyiapkan berlembar-lembar kertas kosong. Saya memang berniat membuat resensi “betulan” untuk buku kelima ini. Tapi, (lagi-lagi) sial! Penyakit lama saya kambuh. Setiap kali berhadapan dengan Supernova, jari-jemari saya mendadak impoten. Otak saya mendadak beku dan tidak bisa diajak kompromi untuk melakukan analisis ini-itu, kritik sana-sini, atau sekadar ocehan ngalor-ngidul. Saya seolah dipaksa untuk menikmatinya saja. Pada akhirnya, dari berlembar-lembar kertas yang saya siapkan, tak lebih dari setengahnya saja yang terisi penuh.

Jika ingin membandingkan Gelombang dengan seri Supernova lain, mungkin Partikel adalah lawan yang paling seimbang. Mirip seperti kisah Zarah, cerita tentang Thomas Alfa Edison Sagala ini juga sangat kultural. Namun, rasa-rasanya porsi lokalitas dalam Gelombang sedikit lebih besar—tergambar dari adegan upacara gondang, gambaran garis keturunan yang khas, dialog yang kental, dan sebagainya. Gelombang unggul satu kosong untuk poin ini.

Dari segi gaya penulisan, kedua karya itu agaknya tidak dapat diadu. Teknik menulis Dee jelas memiliki ciri yang konsisten. Dia sangat pandai bermain sebagai “aku”, tanpa meninggalkan celah yang berpotensi meruntuhkan logika sudut pandang orang pertama. Diksi yang digunakan megah sekaligus mudah dicerna. Dia bisa menyulap kompleksitas nalar menjadi fiksi yang estetis. Plus, inilah bagian yang paling saya sukai, Dee memiliki humor autentik yang menyumbangkan sebongkah nyawa ke dalam setiap karyanya. Satu hal yang bisa melemahkan Gelombang dari Partikel adalah aliran plotnya yang relatif lambat. Saya merasa Partikel lebih “padat” dan maju beberapa langkah lebih cepat, khususnya pada bagian transisi menuju kedewasaan para tokoh.

Tentang kebesaran ide cerita, sebetulnya baik Gelombang maupun Partikel menyajikan sesuatu yang bersifat grandeur. Saya yang realis ini selalu tidak habis pikir bagaimana Dee bisa mengolah hal-hal surreal menjadi kelaziman yang bisa diterima akal sehat. Jika Partikel banyak berbicara tentang portal dunia lain dan pelbagai tema metafisika, Gelombang mengangkat kesakralan alam mimpi dan menyinggung sisi medis. Bisa jadi, karena Partikel menawarkan hal yang baru bagi saya, ia menjadi tampak lebih bergizi.

Seperti seri-seri sebelumnya, Dee menyelipkan kepingan puzzle yang kian memperjelas Supernova sebagai suatu entitas. Kali ini pembaca digiring untuk menekuri perjalanan Gio, tokoh dalam Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh. Dalam kebuntuannya mencari Diva, ia justru dihadapkan pada misi pencarian baru. Keping demi keping Supernova lantas mulai terkumpul, seperti halnya para Peretas yang saling menemukan satu sama lain. Segala pertanyaan, penantian, dan kegelisahan baru akan terjawab dalam seri terakhir Supernova, yang (semoga saja) akan segera lahir. Semoga!

2 Tanggapan to “Sepercik Riak Untuk Gelombang”

  1. kentutmambo 22 Januari 2015 pada 10:19 am #

    Gw suka dengan gambaran kegelisahan lo saat memangku gelombang “menggelinjang, gugup dan haru” tiba2 saja cuplikan film ketika Cameron Diaz bangun tidur dan langsung berjoged dengan penuh semangat (lupa judul filmnya) langsung melintas dikepala gw, gw suka dengan setiap detail kata yang lo tulis penuh enerjik dan cerdas, dan tentunya ternyata karena lo juga penggemar tulisan Dee… yeah,,, tapi bedanya mungkin gw gak “menggelinjang” aja pas pertama buka Gelombang, gugup dan penuh haru dan harap mungkin iya, bahkan cenderung lapar dan haus akan alur cerita yang sudah 2 tahun gw nantikan.

    PS : niatnya sih mau komen di tulisan ter-update lo (soalnya terakhir buka blog lo bulan Juli) tapi gw gak nahan buat komen ditulisan ini.

    • cinthyayuanita 22 Januari 2015 pada 12:39 pm #

      Hehe seneng ada merespon sama tentang Gelombang. Makasi udah baca, btw🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: