Sekeping Chip di Kepala Hawa  

12 Des

Aku rasa ini bukanlah sebuah kebetulan.

Aku berjalan di koridor yang sama, yang cat dindingnya sudah mengelupas di beberapa tempat. Penghiduku segera mengenali aroma yang familiar—kombinasi dari bau ruangan laundry dan restoran cepat saji. Brankar-brankar berlarian menciptakan decit yang menggemaskan. Orang-orang berkostum putih lalu lalang dengan wajah sibuk dan terburu-buru.

Biasanya aku tidak sempat memerhatikan sekitar. Biasanya aku menjadi bagian dari kumpulan-orang-yang-berjalan-tergesa-gesa-dan-fokusnya-entah-di-mana. Tapi, hari ini lain. Aku punya terlalu banyak waktu untuk mengukur lebar dinding yang terkelupas, menebak merek pengharum seprai bangsal, atau mengamati muka-muka tegang yang berseliweran.

Aku juga punya terlalu banyak waktu—dan terlalu sedikit alasan—untuk tidak menghindarimu.

Akhir-akhir ini aku memang jarang berdoa. Tapi, tidak semestinya Tuhan membalasku dengan cara seperti ini. Mataku terkunci di persimpangan itu, pada sebuah bayangan yang menyerupai kamu. Ia terus mendekat. Lama-kelamaan ia tidak lagi menyerupai kamu.

Karena bayangan itu tak lain adalah kamu.

Kamu terlihat kuyu. Sudah berapa malam kamu tidak tidur? Bobot badanmu juga sepertinya terkuras habis-habisan. Jas putihmu itu terlihat sedikit kedodoran, tahu. Pasti kamu terlalu sibuk mengurusi menu makanan senior—sementara jadwal makanmu sendiri hancur berantakan. Dari dulu kamu selalu begitu. Kelewat sibuk mendahulukan urusan orang lain lalu mengabaikan dirimu sendiri—dan orang-orang dekatmu. Iya, kan?


Tadinya aku ingin menggunakan jurus lamaku. Berputar haluan dan pura-pura tidak melihatmu. Tapi rupanya sistem limbik ini telah menyabotase fungsi motorik. Sambil menahan palpitasi, aku terus bergerak maju. Ada raut terkejut pada air mukamu ketika akhirnya kita bertumbukan.

“Hai!”

Aku hanya membalas sapaan refleksmu dengan senyuman. Rasanya seperti ada bola tenis yang mengganjal di kerongkongan.

“Sudah di Jakarta?”

Aku mengangguk sambil menelan ludah banyak-banyak, berharap bola tenis itu larut seketika.

“Sejak kapan?”

Dua minggu lalu

“Kok nggak bilang?”

Kamu yang tidak bertanya

“Kenapa selama ini kamu nggak menghubungi aku?”

Oh ya? Kenapa harus aku yang memulai? Kenapa bukan kamu?

“Ke mana saja kamu?”

Harusnya aku yang bertanya, kamu ke mana saja?

Masa lalu mengetuk pintu di ujung koridor. Hendak kubuka, tapi langkahku tak kunjung tiba. Setiap kali melangkah, koridor ini bertambah panjang dua kali lipat. Lorong ini jadi terasa sangat berjarak. Atau, jarak kitalah yang membuat ujung jalan ini tak lagi dekat?

Kemudian kamu sibuk mengoceh tentang kesibukanmu. Sesekali menyelipkan kenangan-kenangan yang memabukkan. Laki-laki! Selalu begitu. Pergi tiba-tiba, menghancurkan segala, lantas muncul kembali—tepat pada saat semua telah rapi tertata.

Aku dari dulu curiga. Ada satu rahasia yang tidak ditafsirkan dengan benar pada kitab suci. Tuhan tidak hanya menitipkan rusuk Adam di tubuh Hawa. Ia juga menanamkan sekeping chip di kepala wanita itu, yang tersambung dengan sebuah pusat kendali di dalam diri pria. Sejak saat itu, pria jadi lebih leluasa untuk melakukan siklus muncul—pergi—kembali. Berkat chip itu, pria bisa kembali dengan mudah, tepat saat wanita memutuskan untuk menyerah dan pergi jua. Mereka selalu tahu saat yang tepat untuk menghancurkan semua tatanan yang susah payah dibuat oleh wanita.

“Ah, aku sudah banyak bercerita. Giliranmu. Ayo, katakan sesuatu.”

Mungkin ada gunanya juga Hawa menemukan pohon pengetahuan. Ia menjadi mampu untuk membedakan yang baik dan jahat, yang benar dan salah. Seperti tulang rusuk, kepingan chip itu mungkin tidak bisa dikeluarkan dari tempat asalnya. Tapi lama kelamaan, Hawa belajar untuk tidak menuruti kendalinya.

“Biar kukatakan kepadamu. Aku tidak lagi menerima orang yang datang hanya untuk pergi.”

2 Tanggapan to “Sekeping Chip di Kepala Hawa  ”

  1. mesz 17 Desember 2014 pada 11:55 am #

    hai salam kenal Cinthya…

    awal mula saya kenal blog kamu sejak nyari-nyari puisi tentang move on. dari semua puisi yang saya baca, ternyata puisi move on kamu paling berkesan, dari segi bahasa sangat sederhana dan tidak melebay-lebay.

    akhirnya saya. menelusuri lebih dalam isi blog kamu, dan saya merasa ketagihan dan sering menjadikan kalimat-kalimat sederhana kamu menjadi status medsos(ex:bbm) hehe

    dan rasanya sekali dalam beberapa hari sering mantau tulisan kamu, apakah ada yang baru… hahaha.

    oke ditunggu kisah-kisah berikutnya. maaf ya, saya nulis ini tidak melalui pesan, saja,

    • cinthyayuanita 17 Desember 2014 pada 12:57 pm #

      Halo mesz, makasi ya mau mampir ke blog ini. Saya malah baru sadar kalau kebanyakan puisi di sini tentang move on. :p

      Semoga nggak bosen mampir. Selamat move on! :))

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: