Perihal Kematian dan Yang Hidup  

17 Nov

Menyaksikan kematian ibarat membaui aroma karbol rumah sakit. Awalnya tidak suka, lantas—mau tidak mau—mulai terbiasa. Mungkin ada puluhan kematian yang sudah saya hadapi.

Waktu mengalami kematian yang pertama, saya sampai ketakutan seperti melihat setan. Bulu kuduk saya meremang setiap kali mendengar surat Yasin dibacakan. Badan saya gemetar ketika tanda-tanda sakratul maut mulai kelihatan. Lisan saya bahkan mendadak gagu waktu diminta memvonis ketiadaan.

Puncaknya, saya tidak bisa tidur nyenyak berhari-hari karena dibayangi oleh adegan pembungkusan jenazah. Saat itu kematian terasa sangat menyeramkan. Menyeramkan dalam konteks ketakutan terhadap hantu atau hal-hal yang bersifat gaib. Penakut, memang.

Beberapa tahun setelahnya, ternyata saya semakin akrab dengan kematian. Saya tidak lagi bergidik ngeri ketika melihat seseorang meregang nyawa. Saya bahkan sudah berani membantu ritual pengikatan dan pembungkusan jenazah. Saya mulai terlatih menghadapi kematian.

Yang masih harus saya pelajari hingga saat ini adalah berhadapan dengan perpisahan. Saya masih tidak kuat saat mendengar jerit tangis mereka yang ditinggalkan. Lidah saya masih ngilu ketika harus mengabarkan kematian. Percayalah, ini semua tidak semudah apa yang terlihat di layar kaca. Aktor berseragam dokter itu membuat segalanya terlihat lebih enteng. Hanya perlu memasang mimik pilu, menggelengkan kepala perlahan, lalu mengeluarkan kalimat sakti “Maaf, kami sudah berusaha maksimal, tapi … ah sudahlah.” Nyatanya, walaupun telah mengantongi kompetensi breaking bad news, saya toh tetap gugup setiap kali mempraktikkannya.

Tangisan dan histeria akibat kematian memang selalu menciptakan kekalutan. Tetapi, dari semua episode perpisahan, pemandangan yang paling membuat saya mencelus adalah wajah-wajah yang diselimuti ketabahan.

 ***

“Ibu Dokteeer!” Suara cempreng itu muncul lagi, mengalihkan fokus saya dari tumpukan rekam medis. Di balik meja nurse station, seorang bocah perempuan mengintip sambil memamerkan gigi kelincinya. Air mukanya memberi sinyal bahwa ia sedang tebar pesona, minta diajak bermain.

Namanya Fiona. Sudah lebih dari seminggu ia bermalam di ruang rawat inap, menunggui ibunya yang sedang dirawat karena penurunan kesadaran. Sejak awal datang, ia tidak pernah tahu apa yang sebenarnya ia lakukan di tempat ini. Yang ia tahu, bangsal ini sekarang resmi menjadi area bermainnya. Setiap hari, ia cuma tahu tersenyum, berceloteh, dan membuat gemas seisi rumah sakit. Ia tidak pernah tahu bahwa sewaktu-waktu ia bisa saja kehilangan ibunya yang mengidap tumor intrakranial.

“Fiona, itu siapa sih yang sakit?”

“Mak ku”

“Sakit apo?”

“Idak tau”

“Dari kapan Mak tidur terus begitu?”

“Umm…umm…dari kecik”

“Fiona sayang sama Mak idak?”

“SAYAAANG!!!”

Tak berapa lama setelah dialog itu, kesadaran ibu Fiona semakin menurun. Waktu saya memasang monitor untuk memantau tanda vital ibunya, Fiona masih saja cengar-cengir, sementara kakak dan bapaknya sudah memasang wajah mendung. Tanpa air mata, tanpa sedu sedan, cuma pandangan nanar yang berkabut.

Satu keluarga yang menahan kesedihan, ditambah seorang anak yang masih saja tidak tahu apa-apa, walaupun bayang-bayang kehilangan sudah di depan mata. Tidak ada yang lebih buruk daripada membayangkan anak itu akan tumbuh tanpa ibu. Tidak ada yang lebih mengkhawatirkan daripada memikirkan bahwa anak yang saat ini tertawa-tawa, bisa saja bertangis-tangisan di kemudian hari.

Saya mungkin sudah terlatih menangani kematian. Tapi, saya masih perlu belajar untuk menghadapi yang hidup. Belajar ketabahan dari kehilangan.

Oh, berkat Fiona, saya jadi teringat orang-orang yang sepertinya sudah bosan hidup di luar sana. Sekadar saran, kalau penyakit bosan hidup itu sedang kambuh, coba ingat-ingat “Fiona” di hidup kalian masing-masing. Berada dalam posisi ditinggalkan itu tidak pernah menyenangkan. Tidak akan pernah. Jadi, masih ingin mati muda(h)?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: