Kejutan Kilat

11 Des

“Yakin mau ke sana?”

“Kok cepet bangeeet ciiin!!!”

“Weekend ini banget???”

“Kenapa mendadak gitu?!?!”

“Sediihhh. Tapi nanti bisa sering pulang kaan??”

“Gila gue kaget banget nih, Cint! Syok!”

“Bohong kaaan loo?!”

“Aaaaak…sedih banget dengernyaa”

“Kita harus ketemu dulu!”

“Sedih banget gw cinn. Nggak boong.”

Kalau handphone adalah manusia, LCD HP saya pasti sudah basah dan sembab karena banyak menerima emoticon sedih dan menangis. Bisa jadi, ia pun mengalami cardiac arrest karena dibuat terkejut berulang kali. Sejak kemarin sampai hari ini, HP saya memang dibanjiri air mata virtual dan ekspresi kaget yang masif. Dari kemarin, kalimat-kalimat seperti di atas terus bermunculan di layar ponsel saya. Semua bermula dari sebuah pesan singkat di pagi hari.

“Cinthya, kemungkinan kamu berangkat weekend ini, ya.”

Singkat. Tapi berhasil mengubah segala.

Akhir minggu ini saya akan meninggalkan Pulau Jawa, memulai petualangan di tempat yang baru. Bagian tengah Indonesia menjadi destinasi saya berikutnya—sekaligus tempat menetap selama setahun ke depan. Keberangkatan ini memang sedikit mendadak. Yah, sebenarnya tidak terlalu mendadak juga, beberapa waktu lalu saya sudah dikabarkan untuk bersiap-siap sekitar pertengahan Desember. Tapi, tetap saja, kata-kata “weekend ini” berhasil menggemparkan dunia saya yang biasanya adem ayem. Awalnya saya cuma memberi tahu beberapa orang terdekat, tapi rupanya mereka terlalu gatal untuk tidak menyebarkannya ke seluruh dunia.

Sejujurnya saya sedikit geli melihat respon dari para pengirim pesan. Geli di sini bukan berarti jijik, melainkan perasaan lucu. Lucu rasanya melihat kehebohan mereka. Lucu sekaligus senang ketika mengetahui kenyataan bahwa banyak yang sayang sama akoohh (pardon me for being so alayly annoying). Your sad emot, your “aaaakh”, and all those expression were very meaningful for me, guys! :3

Akhirnya, momen ini ditutup dengan epik oleh ibu saya. Tadinya saya berpikir akan melewati momen dramatis yang penuh haru biru. Dia memang tampak sedikit galau, tapi di ujung wejangannya, dia cuma berkata, “Mendadak banget, ya. Ini jauh, loh. Ke Bekasi aja perlu persiapan.”

Dari sekian banyak kota di Indonesia, kenapa ibu saya membandingkan dengan Bekasi? Mama bukan termasuk komunitas pembuat meme yang suka ngebully Bekasi, kan?

Satu Tanggapan to “Kejutan Kilat”

Trackbacks/Pingbacks

  1. Yang Tertinggal Dari Tahun Pertemuan   | orkestraksara - 22 Januari 2015

    […] sempat menikmati masa-masa pengangguran, tiba-tiba sebuah kejutan kilat datang. Hanya tiga minggu sejak mendarat dari Lebong, saya harus terbang lagi ke Luwuk. Dan di […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: