Tiga Mitos Internship

9 Jan

Ketika tulisan ini dibuat, bukan berarti saya belum move on dari status dokter internship. Bukan juga karena mau kasih kode ke anak internship. Bukan.

Kemarin saya mendapat kabar bahwa pendaftaran internship sudah dibuka lagi. Akhirnya teman-teman dan adik kelas saya–yang kemarin menjadi korban kekacauan birokrasi–mendapatkan sedikit titik terang.

Saya pun sempat dihujani pertanyaan-pertanyaan teknis seperti:

Berapa insentif daerahnya?
Gimana biaya hidup di sana?
Dapet fasilitas apa?
Internet lancar?
Ada tempat wisatanya nggak?
Siapa pacar sekarang?

Setiap calon peserta internship hampir pasti mengalami kegelisahan yang sama. Tidak heran bila kadar kekepoan mereka tiba-tiba melonjak drastis.

Dulu, sebelum berangkat internship, ada beberapa mitos yang berhasil membuat saya gelisah. Hmm, sebenarnya kurang tepat kalau disebut mitos. Tapi tak apalah, biar judulnya sedikit bombastis seperti media-media online zaman sekarang.

1. Wajib Memakai Cincin Penangkal Bala
Bala di sini bukan berarti marabahaya, tapi lebih kepada “jodoh yang tak diinginkan”. Untuk menghindari kedatangan cinta-yang-tidak-pada-tempatnya itu, beberapa kakak kelas menyarankan untuk memakai cincin. Saya yang masih polos ini manut-manut saja dan menyematkan cincin tipuan itu di jari manis.

Tapi status memang tidak bisa berbohong. Toh, cincin itu hanya bertahan sebulan sebelum saya campakkan ke koper. Percuma. Cincin itu tidak cukup ampuh untuk menyamarkan aura kejombloan seseorang. Setiap kali ditanya perihal status, saya malah jadi gelagapan karena tidak bisa berbohong.

Lagipula, setelah tidak pakai cincin pun, hidup saya dan teman-teman masih aman-aman saja. Sampai sekarang belum ada perasaan yang gimana-gimana gitu.

Saran saya, nggak usahlah pakai cincin tipuan segala. Walaupun sudah pakai cincin batu akik di sepuluh jari pun, kalau memang jomblo, pasti ketahuan, mblo! Kalau masih mau menggunakan cincin, jangan lupa latihan berbohong terlebih dahulu. Atau, cari cincin yang bisa bicara sekalian.

2. Potong Rambut Ala Polwan
Mitos ini populer di kalangan perempuan. Entah kenapa, menjelang keberangkatan internship, banyak teman-teman perempuan yang memotong rambutnya sampai sebahu. Saking larisnya jenis potongan ini, mungkin kami bisa mengusulkan hak paten “model rambut anak internship”.

Saya sendiri sudah menjadi korban mode ini. Bukan karena mau mengikuti tren. Simpel saja, saya ketiduran sewaktu potong rambut! Alhasil, rambut saya yang waktu itu masih panjang kayak Chelsea Islan berubah jadi ala Chibi Maruko Chan. *sounds rhymed?*

image

Buat cewek-cewek, coba dipikir-pikir lagi kalau mau potong rambut sebelum internship. Jarak antara risiko dan keuntungannya sangat tipis, sist.

Jangan karena ketakutan tidak ada salon di wahana internship, kamu jadi membabat habis rambutmu. Seorang teman saya malah jadi menguasai hair cutting skill saking seringnya memotong rambut sendiri. Yap, every cloud has a silver lining.

3. Bawa Textbook Satu Lemari
“Gilak! Nanti gue bakal pegang pasien sendiri! Harus tahu segala-galanya, nih. Harus pinter! Oke, di tempat internship nanti, gue bakal baca satu chapter buku ajar setiap harinya. Sekalian curi start buat persiapan tes PPDS.”

Familiar dengan pernyataan di atas? Sungguh luhur dan mulia, ya, cita-cita anak kedokteran yang kayak gitu. Tapi, jangan lupa, bayang-bayang keomdoan selalu mengekor di belakang (sebagian) anak FK.

Coba diingat lagi. Kalau sedang ronde dan dapat pertanyaan susah dari konsulen yang galaknya setengah mati, hati ini pasti sudah kalang kabut membuat janji-janji manis. “Tuhan, kalau Engkau menyelamatkanku kali ini saja, aku janji lebih rajin baca. Janji abis selesai ronde ini, aku akan cari jawabannya sampai dapat. Atau aku bikin makalah sekalian nggak apa-apa deh, Tuhan.”

Tapi, setelah lolos dari ronde maut itu, kadang janji tadi menguap seketika. Begitulah. Hal yang sama juga berlaku untuk janji-janji tentang textbook.

Percayalah, membawa textbook ke wahana internship hanya akan membuang-buang jatah bagasi. Cukup bawa beberapa guidelines dan “buku dewa” yang tipis-tipis. Atau cukup dengan mengunduh aplikasi-aplikasi medis di ponsel pintar, dan voila! selesailah perkara.

image
Gambar diunduh dari akun Facebook Kapita Selekta Kedokteran. (Bukan postingan berbayar)

Selamat dan semangat menjalani internship, teman-teman!🙂

3 Tanggapan to “Tiga Mitos Internship”

  1. rezanufa 12 Januari 2015 pada 9:35 am #

    Unik ya. Mungkin cincin itu buat mencegah ajakan kenalan dari pasien cowok yang masih jomblo. Gue sendiri, sebagai lelaki, memang ngerasa harus lebih hormat sama cewek yang sudah pakai cincin di jari manis.

    Btw, gue penasaran sama penampilan lo saat pake potongan rambut Maruko. Muka lo punya ekspresi cengo kayak Maruko juga soalnya.😄

    • cinthyayuanita 13 Januari 2015 pada 10:18 am #

      Wuoh gitu ya. Okelah nanti gw pake cincin Lord of The Ring sekalian.

      Cengo -_-”
      Gpp lah gw anggap itu pujian. Cengo-nya Maruko kan menggemaskan. :3
      *sudah pingin muntah?*

      • rezanufa 14 Januari 2015 pada 8:27 am #

        Berarti Smeagol jadi gebetan lo? Hahaha. Duh, gue ngebayangin Smeagol sama Maruko ada di film yang sama. *nangis*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: