Kicau Kacau

Pak Anies, Anak-Anak Seperti Inikah Yang Akan Mendapat KJP Tunai Meski Mereka Tidak Sekolah?

Malam ini adalah malam yang menguras adrenalin saya. Bahkan ketika membuat tulisan ini, saya masih sedikit gemetar dan merasa waswas. Sesekali saya melihat ke luar jendela, hampir merasa tidak aman di rumah sendiri. Anak-anak itu masih saja berkeliaran di luar, masih berlarian, berteriak, bernyanyi sumbang sambil memainkan gitar kecil.

Saat ini hampir pukul 00.00 dan beberapa menit yang lalu saya baru saja melabrak segerombol anak remaja pembuat onar di depan rumah. Remaja-remaja pria tanggung ini, bukan hanya sekali dua kali membuat keributan tepat di depan rumah orangtua saya. Biasanya mereka mulai berkumpul sehabis maghrib, membawa ukulele, bersandar di pagar sambil mengguncangkannya, merokok, membuang sampah di halaman rumah, dan tentu saja membuat gaduh. Entah darimana datangnya mereka, tapi sepertinya tempat tinggal mereka bukan di sekitar sini. Yang jelas makin larut jumlah mereka makin banyak, dan area depan pagar rumah saya berubah seperti pasar malam.

Keadaan ini sudah berlangsung kurang lebih satu tahun. Awalnya ritual mereka itu hanya terjadi di malam minggu atau malam senin. Tapi makin hari, intensitasnya makin sering. Pernah suatu hari di malam kamis mereka nongkrong sampai jam 12 malam. Bernyanyi keras seperti orang mabuk, tertawa kencang seperti orang gila, mengguncang-guncangkan pagar dengan begitu berisik, tanpa peduli pemilik rumah dan lingkungan sekitarnya. Ini adalah video saat mereka kerasukan entah apa dan masih saja membuat ribut sampai jam 12 malam.

Saya dan keluarga berusaha sabar dan hanya bisa berdoa atau melapor pada RT (yang ternyata tidak ada gunanya). Kadang jika memang sudah keterlaluan, kami keluar untuk menegur mereka. Itu pun dengan cara halus. Boro-boro menggunakan ancaman atau gencatan senjata, makian saja tidak pernah kami keluarkan. Kami tidak bisa berbuat banyak. Saya tidak bermaksud playing victim apalagi mengerdilkan diri, tapi ruang gerak kami sebagai minoritas memang serba terbatas. Trauma akan diskriminasi di masa lalu begitu kuat. Mau berbuat ini, takut nanti efeknya macam-macam. Kami jadi ragu dan takut.

Lanjutkan membaca “Pak Anies, Anak-Anak Seperti Inikah Yang Akan Mendapat KJP Tunai Meski Mereka Tidak Sekolah?”

Iklan
Kicau Kacau

Belajar Menulis Dan Mengembalikan Kewarasan

Jangan tanya berapa lama waktu yang saya habiskan untuk membuat tulisan ini. Sepanjang proses menulis, jari-jari saya hanya sibuk berkutat pada siklus backspace-spasi-enter-backspace. Writer’s block? Saya bahkan tidak berani meminjam istilah tersebut. How dare you say “writer’s block” if you’re not a writer (anymore)?

Sejak postingan terakhir di bulan Maret 2015, saya hampir tidak pernah lagi menyentuh blog ini. Awalnya saya menggunakan alibi susah sinyal sebagai pembenaran untuk rehat dari kegiatan menulis. Sepuluh bulan tinggal di sebuah desa di Kabupaten Banggai membuat saya terbiasa hidup tanpa media sosial. Lanjutkan membaca “Belajar Menulis Dan Mengembalikan Kewarasan”

Kicau Kacau

Hujan, KI Balut, dan Senyum Mereka

Langkah menjadi panutan. Ujar menjadi pengetahuan. Pengalaman menjadi inspirasi

Malam minggu kali itu berbeda dengan malam-malam sebelumnya di Banggai. Rasanya seperti mau pergi kencan pertama. Ada eksitasi endorfin yang membuncah, bersamaan dengan percikan adrenalin yang sesekali meletup ringan.

Walaupun mood saya sempat dibuat berantakan oleh PLN yang hampir seharian mematikan listrik—sehingga pompa air tidak berfungsi lalu kami tidak bisa mandi karena kehabisan air dan seisi rumah menjadi kacau balau—rasa antusias itu tidak bisa diredam.

That would be the best Sat nite ever! Dalam hitungan jam saya akan bertemu orang-orang hebat, bergabung dalam sebuah acara hebat, dan memetik pengalaman hebat. Saya akan mengikuti Kelas Inspirasi Banggai Laut yang hebat!

Menjelang malam, setelah packing superkilat, saya berangkat ke kota Luwuk dengan sepeda motor. Semuanya berjalan lancar sampai tiba-tiba … BYURR!!! Hujan turun tiba-tiba dan memaksa kami berteduh di bawah pohon. Bukannya mereda, hujan justru semakin deras dan berangin. Teman saya, yang juga hendak mengikuti KI, langsung histeris dan mengajak pulang begitu melihat pakaian dan tas kami yang kian kuyup.

Seperti biasa, bocah plegmatis ini lantas berada di persimpangan. Antara mengikuti saran teman untuk pulang atau menjalani kata hati untuk tetap melanjutkan perjalanan.

Lanjutkan membaca “Hujan, KI Balut, dan Senyum Mereka”

Kicau Kacau

Hai, Banggai!  

Seharusnya postingan ini sudah dipajang sejak beberapa waktu lalu. Tapi, keterbatasan akses internet memaksa saya terus menundanya.

Sudah hampir dua bulan saya berada di Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah. Kurun waktu ini merupakan masa adaptasi yang lumayan menantang. Tidak jarang saya menggeragap ketika terbangun dari tidur. Kadang merasa berada di Jakarta, kadang seperti membaui aroma rumah dinas di Lebong.

Disorientasi. Entah kenapa perantauan kali ini terasa berbeda. Mungkin karena keberangkatan saya ke tempat ini lumayan mendadak. Mungkin juga karena jeda yang terlalu singkat antara masa internship dan bekerja. Entah harus senang atau sedih.

Saat ini saya lebih kangen Jakarta, rindu keluarga, sering memimpikan teman-teman, ingin cepat pulang, mau ini itu, dan sejuta hal manja lainnya.

Pemandangan Kota Luwuk, Ibukota Kabupaten Banggai
Pemandangan Kota Luwuk, Ibukota Kabupaten Banggai

Lanjutkan membaca “Hai, Banggai!  “

Kicau Kacau

Yang Tertinggal Dari Tahun Pertemuan  

Januari sudah berlalu separuh jalan. Semoga saja tulisan-tulisan yang bertema kaleidoskopis belum kelewat basi untuk dipajang di halaman blog.

Kalau mau dibandingkan, 2014 memang jauh lebih cerah ceria ketimbang 2013 yang dihujani ujian (dalam arti sebenarnya).

Dua ribu empat belas adalah tentang pertemuan. Saya bertemu bermacam-macam manusia yang datang dengan segala ciri dan motifnya. Orang baru ataupun lama. Yang menetap atau hanya singgah sejenak. Yang berlanjut dengan pertemanan atau berakhir dengan pertanyaan. Yang terlupakan atau lebih dulu melupakan. Yang semakin mendekat atau kian menjauh. Yang menciptakan kenangan atau minta diceburkan ke kubangan. Yang tiba-tiba menghilang setelah datang tanpa diundang. Dan terakhir dan paling menyentak, yang tiba-tiba datang setelah lama menghilang.

Saya lupa apakah saya sempat menulis resolusi pada awal tahun kemarin. Saya pun tidak tahu apakah tahun 2014 sudah berjalan sesuai dengan rencana. Tapi, buat saya 2014 sudah terlewati dengan amat baik.

Lanjutkan membaca “Yang Tertinggal Dari Tahun Pertemuan  “

Kicau Kacau

Tiga Mitos Internship

Ketika tulisan ini dibuat, bukan berarti saya belum move on dari status dokter internship. Bukan juga karena mau kasih kode ke anak internship. Bukan.

Kemarin saya mendapat kabar bahwa pendaftaran internship sudah dibuka lagi. Akhirnya teman-teman dan adik kelas saya–yang kemarin menjadi korban kekacauan birokrasi–mendapatkan sedikit titik terang.

Saya pun sempat dihujani pertanyaan-pertanyaan teknis seperti:

Berapa insentif daerahnya?
Gimana biaya hidup di sana?
Dapet fasilitas apa?
Internet lancar?
Ada tempat wisatanya nggak?
Siapa pacar sekarang?

Lanjutkan membaca “Tiga Mitos Internship”