Menapaki Eksotika Alam dan Sejarah Bukittinggi  

25 Agu

Ranah Sumatra seolah menyimpan pesona yang tak ada habisnya untuk dijelajahi. Berjarak sekitar sembilan puluh kilometer dari Kota Padang, Bukittinggi merupakan alternatif destinasi liburan yang menarik. Ibarat restoran, kota itu menyajikan paket lengkap yang kaya varian, mulai dari wisata alam, sejarah, kuliner, bahkan belanja.

Untuk menuju Bukittinggi, tersedia beberapa opsi. Bila ingin tiba dengan cepat, pelancong dapat mengambil penerbangan ke Kota Padang kemudian melanjutkan perjalanan dengan taksi, Damri, atau mobil travel.

Ketika menyambangi kota bersejarah itu, saya dan teman-teman memilih untuk mengambil jalur darat yang menantang. Menjajaki jalur lintas Sumatra memang sungguh menguji iman. Bukan hanya karena waktu tempuh yang lama atau kondisi medan yang terjal, melainkan juga karena moda transportasi yang kami gunakan.

Kami menumpang bus ekonomi non-AC SAN Travel jurusan Bengkulu—Bukittinggi selama sekitar delapan belas jam. Pengalaman naik kendaraan kelas ekonomi jarak jauh kali itu merupakan yang pertama sepanjang hidup saya. Praktis, saya harus beradaptasi ekstra keras dengan suasana bising, udara pengap, dan kepulan asap rokok yang menyesaki bus. Setidaknya keadaan itu jauh lebih baik dari perkiraan saya sebelumnya. Tadinya saya berpikir sampai harus berbagi ruang dengan hewan ternak—yang katanya kerap menjadi penumpang ilegal di sana.

20140322_110011

Bus Ekonomi Sauna

Setelah hampir tujuh belas jam berada di dalam “oven berjalan”, akhirnya kami mendapatkan secercah udara segar. Waktu baru menunjukkan pukul lima pagi ketika bus memasuki wilayah Padang Panjang yang sejuk. Namun, begitu sampai di mulut Kota Bukittinggi, terjadi perubahan hawa yang cukup ekstrem. Angin dingin khas dataran tinggi mulai menggigit, apalagi bus yang kami tumpangi melaju dengan kencang. Seolah itu belum cukup, tiba-tiba tanpa alasan yang jelas, kondektur membuka seluruh jendela di dalam bus. Kontan saja seluruh penumpang sibuk menghangatkan diri dengan cara masing-masing.  

Tidak sampai satu jam kemudian, bus merapat di Terminal Aur Kuning. Puluhan agen travel dan supir taksi langsung berlomba-lomba menawarkan jasanya. Dibantu oleh seorang pegawai SAN Travel, akhirnya kami mendapatkan taksi dengan tarif yang terbilang manusiawi. Jalanan di pusat kota pada hari Minggu pagi sangatlah sepi. Kami hanya memerlukan waktu lima belas menit untuk sampai di penginapan.

Ada beragam jenis tempat bermalam di Bukittinggi, mulai dari hotel melati hingga bintang lima. Berbekal informasi dari internet, kami memilih Hotel Limas sebagai tempat menginap selama tiga malam. Saya sangat merekomendasikan hotel bintang tiga ini untuk low budget traveler yang tetap mengutamakan kenyamanan. Meskipun usianya sudah tua, fasilitas di Hotel Limas masih terjaga dengan baik. Pelayanan yang memuaskan serta lokasi yang strategis juga menjadi nilai tambah. Plus, di waktu-waktu tertentu, tamu bisa mendapatkan potongan harga mencapai 30%.

Setelah mandi dan beristirahat sejenak, kami langsung menuju ke landmark kota Bukittinggi: Jam Gadang. Sebenarnya jarak antara Hotel Limas dan Pasar Ateh, lokasi berdirinya Jam Gadang, tidak terlalu jauh. Namun, karena belum terlalu menguasai medan, kami memilih untuk menumpang angkot.

Suasana di Pasar Ateh sangat ramai, baik oleh pengunjung maupun pedagang kaki lima. Selain itu, ada pemandangan lain yang menghiasi sekitaran Jam Gadang, yaitu badut dan delman yang berkeliaran bebas. Badut-badut yang mayoritas terdiri dari anak usia sekolah itu menjadi atraksi tersendiri bagi pengunjung.

20140323_185354

Tidak jauh dari pelataran Jam Gadang, terdapat objek wisata lain yang tidak kalah menarik. Dengan membayar tarif delman sejumlah Rp 15.000,00, kami diantar hingga pintu gerbang Taman Panorama. Dari taman tersebut, panorama Ngarai Sianok tampak sangat memikat. Lembah hijaunya yang dalam dan luas bermuara pada satu aliran sungai di bagian dasar. Di area wisata itu, pengunjung juga disuguhi dengan objek sejarah yang bernuansa misteri, yaitu Gua Jepang.

Latar Ngarai Sianok di Taman Panorama

Latar Ngarai Sianok di Taman Panorama

Aura mistis segera menyergap begitu kami tiba di mulut terowongan sepanjang 1400 kilometer itu. Meskipun suasana di dalam lubang cukup terang, rasa ngeri saya tetap saja tidak bisa disembunyikan. Terlebih ketika pemandu mulai menceritakan kisah penyiksaan romusha yang pernah terjadi di sana.

20140323_163818

Setidaknya terdapat 3 pintu utama di objek wisata itu. Eksplorasi kami berakhir di pintu keluar yang berbatasan dengan Jalan Ngarai Sianok. Sesudah itu, kami dibawa ke sisi lain Taman Panorama yang dipenuhi oleh penjaja cinderamata. Jangan lupa gunakan kemampuan menawar sebaik mungkin agar mendapatkan harga yang pantas. Petualangan kami hari itu ditutup dengan menyaksikan matahari tenggelam di antara bukit-bukit yang terbelah.

Karena liat sunset di pantai terlalu mainstream

Karena liat sunset di pantai terlalu mainstream

 

Meninjau Maninjau

Hari kedua di Bukittinggi kami isi dengan melakukan tur ke luar kota. Tujuan kami adalah Kabupaten Agam, tepatnya menyambangi Danau Maninjau yang terkenal itu. Setelah hampir putus asa mencari tour & travel yang sesuai kocek, akhirnya kami bertemu agen yang cocok. Dengan membayar Rp 1.300.000 kami mendapat fasilitas tur ke objek wisata di luar Bukittinggi untuk 2 hari.

Perhentian pertama kami adalah Puncak Lawang, sebuah tempat yang menyajikan pemandangan Danau Maninjau dari ketinggian. Menurut pemandu wisata, dari Puncak Lawang kita bisa melihat kecantikan danau secara keseluruhan. Sayang, ketika kami sampai di sana, kabut asap sedang tebal-tebalnya sehingga yang kami lihat hanyalah warna putih dimana-mana.

Di Puncak Lawang

Di Puncak Lawang

Tak ingin mengecewakan kami, pemandu yang minta dipanggil Uda Bayu itu mengantar kami ke tepi danau. Namun, untuk sampai ke sana kami harus melewati jalur yang memabukkan. Jalan yang kami lalui berupa kelokan-kelokan tajam yang lebih dikenal dengan Kelok 44. Mabuk darat yang mulai melanda sedikit terobati ketika birunya air danau mulai tampak dari kejauhan.

Kami sempat berhenti sebentar untuk menikmati makanan khas daerah setempat. Rasa gurih pensi dan pepes ikan linuak memberikan sensasi tersendiri ketika dicicipi. Kami juga berkesempatan menjajal gulai itik lado mudo asli Sianok yang fenomenal itu. Tekstur daging itik yang lembut berpadu dengan lumuran bumbu cabai sukses menerbitkan air liur.

Gulai Itiak Lado Mudo Khas Sianok

Gulai Itiak Lado Mudo Khas Sianok

Menjelang sore, mobil kembali melaju ke arah Bukittinggi dan menepi di Janjang Koto Gadang. Objek ini terkenal akan replika The Great Wall. Di tempat ini juga terdapat jembatan gantung yang berdiri di atas aliran sungai dan jurang yang dalam. Dari tangga-tangga The Great Wall kita bisa melihat Ngarai Sianok dari jarak dekat berlatarkan Gunung Singgalang yang menjulang megah.

Melancong ke suatu tempat, belum lengkap rasanya jika tidak mampir ke pusat oleh-oleh. Hampir kalap, saya dan sahabat membeli hampir segala macam panganan yang ada di Toko Umi Aufa Hakim. Keripik sanjay yang menjadi ikon kota Bukittinggi tentu menjadi oleh-oleh wajib yang tidak boleh ditinggalkan.

 

Pagaruyung Yang Agung

Pagi-pagi benar kami segera bergegas keluar dari hotel. Jadwal tur hari ketiga sungguh amat padat. Kami mengawalinya dengan mendatangi Rumah Kelahiran Bung Hatta. Di tempat itu, berbagai koleksi yang berkaitan dengan Wakil Presiden Indonesia yang pertama itu dipamerkan. Meski tidak terlalu luas, bangunan ini kaya akan nilai historisitas. Usai melihat-lihat dan mengambil gambar, pemandu segera membawa kami mengitari dua gunung berapi. Tujuan utama kami adalah objek wisata budaya Istana Pagaruyung di Batusangkar.

Istana Pagaruyung atau yang kerap disebut Istana Basa berdiri megah di atas tanah yang amat luas. Terdapat beberapa bangunan khas Minang di dalam kompleks ini, namun yang paling mencolok adalah istana di bagian depan. Dari kejauhan, bangunan yang didominasi warna coklat itu tampang agung dan indah. Begitu masuk ke dalam, berbagai hiasan dengan warna-warni menggoda memenuhi bagian interior bangunan.

Uniknya, kita bisa menyewa baju adat Minangkabau untuk dipakai berfoto. Dengan membayar Rp 35.000,00 pengunjung bebas memilih pakaian yang disukainya kemudian memilih spot foto masing-masing. Ketika kami mencoba mengenakan pakaian tersebut, awalnya terasa nyaman. Namun, lama kelamaan kami merasa seperti tengah ada di sauna. Kain yang tebal serta hiasan kepala yang berat membuat kami ingin cepat-cepat melepaskannya.

Sebelum beranjak ke Bukittinggi, pemandu mengarahkan mobil ke Kota Padang. Katanya di sana terdapat fenomena alam yang menakjubkan. Benar saja, ketika sampai kami langsung disuguhi pemandangan yang mencengangkan. Sebuah air terjun mengalir deras dari sebuah tebing yang letaknya persis di pinggir jalan raya. Saat itu saya merasa ada di dua alam yang berbeda. Ketika melihat ke sisi kanan, saya dihadapkan pada arus lalu lintas yang padat dan berpolusi. Sementara di sisi kiri saya, menjulang karya alam yang begitu indah dan alami. Eksotika Lembah Anai sekaligus menutup agenda liburan saya bersama sahabat kali itu.

20140325_153127

Keesokan harinya, kami pulang kembali ke Bengkulu dengan menumpang travel. Awalnya kami berharap bahwa perjalanan pulang itu jauh lebih baik daripada pengalaman traumatis dengan bus ekonomi. Namun, di tengah jalan, AC minibus yang kami tumpangi mendadak mati. Untuk kesekian kalinya, kami pun mendapatkan bonus sauna gratis.

7 Tanggapan to “Menapaki Eksotika Alam dan Sejarah Bukittinggi  ”

  1. kunyuuk 27 Agustus 2014 pada 12:44 am #

    cin.. minta rincian dana traveler nya dung😛

    • cinthyayuanita 27 Agustus 2014 pada 12:47 am #

      Boleh.. Mendesak nggak? Kebetulan memang mau bikin post tentang itu, tapi belum sempet😛 *pemalas*

      • kunyuuk 27 Agustus 2014 pada 12:53 am #

        ndak kok.. santei ae… ^^ take your time, klo dah jadi jgn lupa tag ae..🙂 eh klo ada tmpat2 di bengkulu jg gitu.. padahal kan lebong itu terkenal karena cerita rakyat nya yg byk *_*

      • cinthyayuanita 27 Agustus 2014 pada 12:56 am #

        sip! ngg..ironisnya, gw belum pernah kemana-mana di bengkulu ataupun lebong ini huehee. ohya? cerita rakyat apa?

      • kunyuuk 27 Agustus 2014 pada 1:01 am #

        banyakkk , ada cerita ratu lebong bulan, ada cerita naga berkepala 7, ada cerita mistis nya jg.. ah disana mah emang kentel mistis nya ya.. hehehe..

Trackbacks/Pingbacks

  1. Kenapa Harus (Bahagia) di Lebong?   | orkestraksara - 27 November 2014

    […] trans-Sumatra. Beberapa waktu lalu saya menjajal jalur lintas Sumatra selama 18 jam untuk menuju Bukittinggi. Terlalu jauh? Masih banyak opsi daerah yang lebih dekat. Kamu bisa mencoba sarapan pempek langsung […]

  2. Yang Tertinggal Dari Tahun Pertemuan   | orkestraksara - 22 Januari 2015

    […] menjelajah bagian timur Indonesia, saya diberikan kesempatan menyambangi daerah-daerah di Sumatra: Bukittinggi dan Belitung. Oh, dan jangan lupakan Bengkulu, kota yang menjadi tempat transit setiap kali saya […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: