Salam Dari Lebong

12 Des

“Panggilan terakhir kepada penumpang Garuda Indonesia GA 625 tujuan Bengkulu, harap segera naik ke pesawat”

Suara perempuan muda itu bergema lagi. Sementara itu, 16 anak muda masih sibuk mengerumuni loket group check in di Terminal 2 Bandara Internasional Soekarno-Hatta.  Tumpukan koper-koper berukuran jumbo memenuhi hampir separuh ruangan besar itu, belum sempat masuk ke dalam bagasi yang terlanjur ditutup karena lewat dari batas waktu check in.

Beberapa wajah tampak cemas dan tegang. Syukurlah, perkara bagasi yang tertinggal itu bisa terselesaikan dengan cepat. Dan kami–sebagian dokter internsip yang akan berdinas di Provinsi Bengkulu–berlarian menuju pesawat yang siap lepas landas. Semacam adegan-adegan di film. Berlarian di koridor, bilang “misi-misi” ke orang-orang yang menutupi jalan, selap-selip di antara kerumunan manusia. What an unexpected starting point!

Pesawat yang dijadwalkan berangkat pukul 05.25 baru dapat terbang pukul 06.40 WIB. Kami tiba di Bandara Fatmawati Bengkulu pukul 07.30 dan langsung disambut terik matahari yang sangat menyengat! Jangan lupa pakai sunblock tinggi SPF setiap kali menginjakkan kaki di Bekuleuw (bahasa Rejang dari “Bengkulu”)!

 1386686764709

Lebong, Kabupaten Tak Terpetakan

Jangan tanya kenapa saya dan teman-teman memilih Kabupaten Lebong, Bengkulu menjadi tempat internsip kami. Jangan aja. Karena kami sendiri juga nggak tahu jawabannya. 😀

Ketika mengetahui bahwa kami akan ditempatkan di Lebong, saya langsung mencari lokasi kabupaten tersebut di peta. Hasilnya: zonk! Tidak ada Kabupaten Lebong dimanapun: peta, google map, atau apapun. Sampai detik ini pun saya belum tahu pasti lokasi tempat saya tinggal saat ini.

Usut punya usut, ternyata daerah ini adalah kabupaten baru hasil pemekaran Kabupaten Curup. Untuk mencapai Lebong, terdapat beberapa jalur. Jalur utama adalah melewati Curup dan memakan waktu 4-5 jam. Tapi, jika melalui jalur Bengkulu Utara, perjalanan hanya memakan waktu 3-4 jam dengan konsekuensi struktur jalan yang masih rusak dan berlubang. Belum lagi pemandangan kiri kanan yang hanya dihiasi hutan dan bukit yang rentan longsor. Pokoknya, setiap kali melintas di jalur Lebong-Bengkulu saya selalu merasa ada di dimensi lain yang minim tanda-tanda kehidupan. Rasanya peradaban manusia sudah punah sejak bertahun-tahun lalu.

Walaupun masih terbilang serba terbatas, sejauh ini Lebong cukup menyenangkan. Kota kecil ini dikelilingi perbukitan yang hampir selalu tersaput awan rendah. Meskipun tidak ada tempat hiburan semacam mall atau objek pariwisata, kami masih bisa jalan-jalan ke pasar. Hitung-hitung olahraga dan terhindar dari sedentary life. Salah satu hal yang membuat saya kecewa hanyalah ketidakberadaan angkot. Sebagai anak angkot sejati di Jakarta, saya kecewa karena Lebong tidak memiliki sarana angkutan umum yang memadai. Angkutan andalan sehari-hari kami adalah becak motor yang jarak tempuhnya juga terbatas. Sesekali pihak puskesmas berbaik hati meminjamkan Ambulans atau motor perawat. Yah, sepertinya saya harus berdamai dengan kendaraan paling menyebalkan di dunia ini dan belajar untuk mengendarainya. Padahal selama ini, duduk di boncengan motor saja saya cukup ngeri.

Puskesmas dan rumah sakit tempat kami berdinas sangat jauh dari apa yang kami bayangkan. Selama ini kami sangat dimanjakan dengan fasilitas medis yang begitu lengkap di rumah sakit pendidikan. Namun sekarang kami harus beradaptasi dan berkreasi dengan segala keterbatasan alat, obat, tenaga, dan fasilitas. Lupakan alat resusitasi lengkap berikut obat-obatan mutakhir untuk keperluan life saving. Distribusi obat dan alat kesehatan di tempat ini tidak menentu dan tidak bisa diharapkan. Lupakan kesempatan belajar dan mendapatkan pengalaman klinis yang mumpuni seperti yang teman-teman kami dapatkan di tempat mereka berdinas. Di Rumah Sakit Umum Daerah Lebong, kami tidak mempunyai ruang operasi, dokter spesialis hanya berkunjung setiap dua minggu sekali, bahkan reagen untuk pemeriksaan laboratorium seringkali habis. Inilah potret nyata keadaan layanan primer di pelosok Indonesia. Padahal Lebong masih berada di Pulau Sumatera, wilayah barat Indonesia yang (katanya) masih lebih terurus dibandingan di timur sana.

Hari ini, tepat dua minggu kami mengabdi di tempat ini. Banyak hal sudah yang terjadi. Mulai dari menjadi objek perhatian kemanapun kami pergi hingga rumah yang nyaris kemalingan! Hari ini, tepat dua minggu saya menjadi anak rantau. Tepat dua minggu saya menyadari bahwa merantau bukanlah hal yang mudah.

Well, I can not talk too much now. Ada lantai yang menunggu dipel, piring-piring yang minta dicuci, dan bahan makanan yang siap dimasak. Yak, selamat datang kehidupan ala anak kos!😀

Merantaulah

5 Tanggapan to “Salam Dari Lebong”

  1. rezanufa 25 Agustus 2014 pada 9:14 pm #

    Wah, keren. Pengalaman kayak gini bakal seru kalau sudah jadi kenangan. Saya pernah nulis novel–yang sampai sekarang belum terbit–tentang anak kedokteran yang intersipnya di Enggano, pulau kecil di barat Bengkulu. Di Google Maps, pulau Enggano itu hutan semua. Mungkin sama pelosoknya dengan Lebong.

    • cinthyayuanita 26 Agustus 2014 pada 11:20 am #

      Whoaa, kewl! Kalo nyari first readers lagi buat novel yang itu, gw pasti daftar.:D

      Btw, sebenernya ternyata lebong nggak se-dusun itu kok. Jauh lebih menantang enggano pastinya.

Trackbacks/Pingbacks

  1. Jungkirbalik 2013 | orkestraksara - 31 Desember 2013

    […] bernama Sempu! Bahkan selama setahun penuh, saya bisa menikmati alam Sumatera dan memberikan Salam dari Lebong berkat penempatan […]

  2. Sekarung Durian, Sebuket Bunga Rumput, dan Sebongkah Rasa Nyaman | orkestraksara - 1 Juli 2014

    […] rupanya kekhawatiran saya tidak tinggal terlalu lama. Saya bisa beradaptasi di sini, bahkan cenderung menikmati semua ini. Tinggal di kota kecil dengan segala keterbatasannya justru […]

  3. Kenapa Harus (Bahagia) di Lebong?   | orkestraksara - 27 November 2014

    […] lalu, ketika mendengar nama Lebong untuk pertama kalinya, saya agak kelimpungan. Waktu itu, Wikipedia dan Google Map belum memuat informasi tentang […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: