Timehop dan Bangsa yang Susah Move On

28 Okt

Ada aplikasi baru bagi pengguna ponsel pintar. Oke, mungkin tidak terlalu baru, hanya saya yang terlambat tahu. Namanya Timehop. Lewat aplikasi ini, para pengguna diajak melompati waktu ke masa lalu. Timehop memungkinkan kita untuk menggali jejak masa lalu, kemudian memunculkannya kembali sebagai obat rindu. Ini sesuai dengan tagline­-nya: Dig up memories, share with friends. Dhuar!

Siapa pun yang menciptakan aplikasi ini, dia sangat pandai melihat peluang. Entah kenapa saya merasa aplikasi ini akan berkembang dengan baik di Indonesia, sebuah negara yang mayoritas penduduknya berjiwa melankolis. Orang kita mudah sekali merasa senang jika dijejali dengan segala hal yang berbau nostalgia. Padahal, pada saat bersamaan kita juga kerap berkata untuk tidak terpaku pada masa lalu. Katanya, membuka memorabilia itu ibarat mengoyak luka lama.

Tapi, ironis. Ketika membuka kotak kenangan, terkadang kita merasa terluka sekaligus terobati. Getas sekaligus bagas. Sakit sekaligus sembuh. Beberapa orang bahkan sengaja memungut kenangan menyakitkan untuk mendapat kenikmatan. Entah hipokrit, entah masokis.

Seminggu lalu, saat seremoni pelantikan presiden baru, linimasa mendadak gaduh. Bukan hanya oleh puja-puji, melainkan juga kritik dan cemooh. Beberapa kicauan cukup menggelitik saya, khususnya yang membandingkan pelantikan Jokowi dengan SBY. Yang paling lucu adalah ketika orang-orang mulai menyandingkan kebesaran hati SBY dengan Megawati. Saya takjub. Waktu sudah berlalu, tapi mereka masih saja membahas yang sudah lewat dan nggak ada nyambung-nyambungnya. Susah move on ternyata juga sudah merambah ke dunia perpolitikan.

Move on memang tidak mudah. Mungkin untuk itulah Timehop diciptakan. Ia mendatangkan kembali sebuah kenangan, lalu mengajarkan kita tentang perdamaian. Di Timehop, rekaman kenangan dapat diputar ulang, tetapi tidak untuk dinikmati berlama-lama. Saya jadi ingat perkataan seorang teman:

Orang yang lagi move on itu ibarat pelari yang bebas memilih. Ada yang memilih sprint, estafet, maraton, jalan cepat, atau ada juga yang sudah merasa cukup puas dengan berjalan di tempat.*

Jadi, kamu tipe pe-move on yang mana?

 

*dengan penyuntingan

Satu Tanggapan to “Timehop dan Bangsa yang Susah Move On”

  1. rezanufa 31 Oktober 2014 pada 12:09 pm #

    Akhirnya ada tulisan baru! *bahagia*😄

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: