Eskapisme Rasa  

2 Okt

“Barangkali kita hanya dua orang yang lupa cara mencinta, kemudian pura-pura mengerti bagaimana membaca rasa,” kataku pada akhirnya, setelah dua jam kita terduduk bisu.

Kamu tetap membatu dengan ekspresi tak terdefinisikan. Entah itu marah ataukah bahagia. Aku tidak pernah berhasil menebak ambiguitas yang kamu citrakan. Kamu masih punya sorot mata setangguh dahulu. Tapi aku tahu, kamu pun masih bekerja keras menyembunyikan sebongkah hati yang rapuh.

Sebuah paradoks, itulah kamu.

Seputik senja mekar bersemu, seperti anak dara yang malu-malu mereguk rindu. Entah jingga, entah merah darah. Yang aku lihat hanyalah merah jambu.

“Aku masih dalam tahap belajar. Saat ini aku sedang berlatih mengeja C.I.N.T.A. Awalnya susah, tapi lama-kelamaan aku mulai bisa. Kamu mau dengar?” Akhirnya kamu bersuara.

Aku mengangguk. Bukankah sejak dulu aku memang selalu gagal menampikmu? Seperti juga mereka yang mati-matian memujamu.

Tertatih, kamu mengeja C.I.N.T.A. Beberapa kali lidahmu terjegal, mengeluarkan bunyi-bunyian yang bahkan tidak pernah aku pahami maknanya. Aku terkekeh.

“Cinta memang tidak untuk diucapkan berulang kali,” ujarku menahan geli. “Supaya tidak kehilangan esensi.”

“Hmmm … seperti embun pagi, yang merekah sekali lalu menguap di sisa hari. Barangkali itulah cinta. Bergairah seketika, lalu mati tak bersisa. Begitu, ya?” tanyamu tiba-tiba. Tetapi, jelas sekali bahwa fokusmu bukanlah kepadaku.

“Tuan, barangkali kita hanya dua manusia yang terjebak pada masa yang salah. Kamu dengan masa lalumu. Dan aku dengan masa depan yang abu-abu.” Tak kuduga, barisan kalimat itu berhasil mencuri perhatianmu.

“Nona, tapi aku mencintai kamu dengan sungguh.”

“Bagaimana jika, yang kamu cintai ternyata bukan aku, melainkan kenang-kenanganmu itu? Bagaimana jika, yang kita alami ini hanyalah eskapisme yang menjelma romantisme?” Aku menghela napas, memungut remah-remah kekuatan yang bertebaran. “Tuan, bagaimana jika, semua ini hanyalah wujud lain dari penyakit kesepian?”

Kamu kembali diam. Entah apa yang tengah menyesaki rongga kepalamu. Seperti biasa, kamu tidak mengizinkan aku untuk menerkanya.

“Tuan, kamu tidak sedang diburu waktu. Jikalau kamu masih hendak berlatih melafalkan C.I.N.T.A, lakukanlah perlahan. Supaya ketika Nona Yang Sesungguhnya nanti datang, lisanmu tak lagi terpiuh mengucapnya.”

2 Tanggapan to “Eskapisme Rasa  ”

  1. Hendra Kwik 2 Oktober 2014 pada 12:31 pm #

    Waaaaah, akhirnya another good post Cin huehehe.. Nulis lagi dong Kak, supaya fans2nya ga kecewa hihihi.. Bagus bgt posnya Ciiin, diksi2 mutakhir dengan esensi yg dalem *bahasa sok tinggi ;D

    • cinthyayuanita 2 Oktober 2014 pada 1:40 pm #

      Obrigado, Senhor!
      *sotoy maksimal* *ditoyor kamus portugis*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: