Tentang Mendewasa

28 Sep

You have one family. For good or bad. You have one family. You can’t trade them in. You can’t lie to them. You can’t run two at once, substituting back and forth.—Mitch Albom, For One More Day

 

Beberapa waktu lalu saya menamatkan sebuah buku berbintang lima; For One More Day gubahan Mitch Albom. Konsep yang ditawarkan buku itu sangat simpel, hanya seputar kehidupan berkeluarga dan konflik-konflik yang menyertainya.

Di tengah kesederhanaan temanya, buku tersebut memberikan banyak asupan insight. Albom mengajarkan tentang makna keluarga, cinta orangtua, serta rekonsiliasi antarmanusia. Di sisi lain, ia juga menohok pembaca dengan menyodorkan sebuah fakta.

Seperti tokoh utama dalam fiksi tersebut, kebanyakan anak yang beranjak dewasa cenderung melepaskan ikatan dengan keluarga. Entah karena keadaan yang memaksa atau sekedar keinginan yang disengaja. Kuliah, bekerja, menikah, lalu tanpa sadar meninggalkan mereka yang telah menua. Seringkali kita dibutakan rutinitas dan pencapaian hingga mengabaikan mereka yang kita sebut keluarga.

Saya jadi ingat pemandangan yang ada di bangsal akhir-akhir ini. Ruang perawatan yang tidak seberapa besar itu dipenuhi oleh pasien geriatri. Penyakit mereka beraneka ragam. Mulai dari penyakit metabolik, degeneratif, sampai keganasan. Dari yang memiliki harapan hingga yang (maaf) tinggal menunggu ajal.

Mereka yang beruntung, tidak perlu menghadapi penyakit dan masa tuanya sendirian. Ada sanak keluarga yang selalu sedia menemani. Pun, ketika penyakit yang diderita cukup berat dan memerlukan rujukan, keluarganya akan sigap memberikan upaya terbaik.

Mereka yang sedikit beruntung, akan dibawa ke rumah sakit dalam keadaan sedikit parah, bahkan cenderung tak terselamatkan. Ketika ditanya mengapa baru dibawa sekarang, keluarganya hanya menjawab “tidak tahu kalau sakit” atau “tidak ada yang mengantar”.

Mereka yang kurang beruntung, setelah dibawa dalam keadaan terminal, tidak juga berkesempatan mendapat penanganan lanjutan. Ketika disarankan untuk rujuk, keluarga akan memberikan jawaban pamungkas, “Tunggu sanaknya dulu. Nanti berembuk lagi.” Jawaban itu akan terus diulang-ulang sampai keadaan pasien memburuk. Entah memang benar ada sanak yang ditunggu atau hanya sekedar mengulur waktu.

Mereka yang tidak beruntung, harapan hidupnya akan langsung dipupuskan oleh keluarga dengan satu kalimat sakti, “Nggak usah dirujuk, dok. Hitam putihnya kami terima di sini.” Dulu saya sempat bingung dengan pernyataan itu. Ini tentang judul sebuah talkshow atau perkara harta gono gini? Setelah dijelaskan oleh perawat, rupanya pernyataan tersebut menggambarkan kepasrahan mereka. Pasrah terhadap hal yang sebenarnya masih bisa diupayakan. Mereka pun menjadikan rumah sakit seolah-olah tempat penitipan orangtua, bahkan ada yang terang-terangan berkata, “Kalau dibawa pulang, nggak ada yang ngurus.”

Saya gemas. Saya geram, tapi tidak tahu harus marah kepada siapa. Apalah susahnya mengusahakan yang terbaik untuk orang yang kita cinta? Mungkin ada pengaruh tingkat ekonomi atau derajat pendidikan yang memengaruhi pergumulan mereka. Tapi, bukankah harusnya kendala itu menjadi remeh jika mengingat bahwa mencintai adalah naluri mendasar setiap manusia.

Kalau situasinya dibalik, keadaannya mungkin akan menjadi berbeda. Jika si anak yang terbaring sakit, apakah orangtuanya akan menyerah semudah itu? Benar juga kata pepatah lama: kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah. Mau bagaimanapun juga anak tidak akan mampu membalas kasih orangtua.

Saya lantas takut. Saya takut menjadi seperti anak-anak dari pasien yang masuk kategori tidak beruntung. Anak-anak yang terlena memuaskan ambisi-ambisi pribadi. Anak-anak yang terlalu menghayati soundtrack kartun Doraemon—aku ingin begini, aku ingin begitu, ingin ini ingin itu, banyak sekali—dan jadi tidak realistis memandang hidup. Saya takut, jangan-jangan keinginan saya untuk membahagiakan justru berbalik arah menjadi tindakan mengabaikan. Saya takut, kelalaian-kelalaian kecil itu nantinya berakhir jadi penyesalan. Atau sesungguhnya, saya hanya takut menjadi dewasa dan melihat mereka menua?

Hai, anak-anak rantau yang tengah asyik mengejar mimpi, sudahkah kau menyapa orang rumah hari ini?

And I realized when you look at your mother (and father), you are looking at the purest love you will ever know

 

Sedikit cara bocah rantau untuk membunuh kangen (dan waktu yang kelewat luang)

Sedikit cara bocah rantau untuk membunuh kangen (dan waktu yang kelewat luang)

 

Bandara Fatmawati Soekarno,

Selangkah lagi menuju rumah

4 Tanggapan to “Tentang Mendewasa”

  1. Samuel Arman 30 September 2014 pada 2:06 am #

    bagus banget artikelnya…i’m so very like it…saat2 ini saya jg lg memikirkan tentang kesementaraan hidup, bukan cm hidup saya tp jg hidup orang tua saya. hal itu membuat saya sering bertanya, “sudahkah saya memberikan yg pantas untuk diberikan pada mereka, sebelum mereka pindah ke ‘dunia lain’?” dan juga yang lebih krusial, “sudahkah saya siap fisik dan mental bila mereka hijrah ke ‘dunia lain’?” very touching article….:)

    • cinthyayuanita 30 September 2014 pada 4:57 am #

      Jadi inget lagu Andai Aku Besar Nanti yang nge-hits banget waktu kecil. Sekarang Sherina pun mungkin kelimpungan ya, karena ternyata realita setelah dewasa nggak semudah lirik lagunya. :”)

  2. Julio 12 Oktober 2014 pada 7:00 pm #

    Keadaan di Indo membuatku iri dengan orang2 asia selatan dimana mereka sangat menghormati dan peduli dg orangtua sampai tingkat yg ekstrem (pengalaman pribadi). Sebalikny kalo dilihat orang-orang barat yg sangat sering dan mudah nya mengatakan I love you ke orangtua sepertinya terkesan tidak peduli dg orangtua, begitu kuliah, keluar dari rumah orangtua dan setelah itu hanya bertemu/menelepon orangtua pada saat natal.

    • cinthyayuanita 16 Oktober 2014 pada 3:47 pm #

      Komen yang menyentak. Terima kasih sudah baca🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: