Donor Nyawa

18 Sep

Di penghujung jaga sore kemarin, seorang ibu muda datang ke Verlos Kamer (baca: ruang bersalin) dengan tanda-tanda persalinan lengkap. Usia kehamilannya masih jauh dari cukup bulan, baru genap 27 minggu.

Ketika melakukan USG, saya tidak dapat menangkap detak jantung janin. Entah karena kehamilan masih begitu muda, entah karena janin telah mengalami kegawatan, entah karena ke-amatir-an saya semata. Saya sungguh berharap banyak pada alasan yang ketiga.

Semuanya lalu terjadi begitu cepat. Bukaan sudah lengkap dan kepala bayi telah sampai di dasar panggul. Bayi prematur itu harus dilahirkan. Tidak ada waktu lagi untuk memperlambat kontraksi, terlebih mematangkan paru janin. Dengan segala pertaruhan—yang dapat diperkirakan hasilnya—kami membantu ibu tersebut melahirkan anak pertamanya. Hanya dengan sekali meneran, lahirlah seorang bayi perempuan cantik. Sayang, organ-organ tubuhnya belum cukup kuat untuk menopang kehidupannya.

Ketika lahir, bayi itu sudah kebiruan, tidak menangis, dan frekuensi detak jantungnya teramat lemah. Kami mencoba realistis. Walaupun dilakukan resusitasi maksimal, bayi cantik ini tidak akan bertahan lama. Fasilitas medis di RS sungguh sangat terbatas, sedangkan untuk merujuk pun sudah tidak ada harapan. Sebuah siklus dilema yang terus bersirkulasi di rumah sakit perifer.

Nasib bayi tersebut bisa jadi akan berbeda jika ia dilahirkan di rumah sakit besar di ibu kota. Peluang dia untuk bertahan hidup bisa meningkat hingga separuhnya. Tapi, alih-alih meratapi nasib bayi itu, saya justru menaruh kagum kepadanya.

Tidak seperti perkiraan kami, bayi itu rupanya bisa bertahan cukup lama. Tiga jam! Jika ada kompetisi bertahan hidup di antara bayi prematur, dia pasti menduduki urutan atas. Dalam kondisi apneu, jantungnya masih terus berdetak. Memang tidak berarti banyak untuk kami, tetapi jelas menumbuhkan harapan bagi keluarganya. Mungkin ini hanya melankolia belaka, tapi saya merasa keinginan dia untuk berjuang hidup begitu besar. Seandainya saja kami bisa berbuat lebih banyak. Seandainya.

***

Seorang gadis datang ke Instalasi Gawat Darurat dengan penurunan kesadaran. Menurut keluarga yang mengantar, gadis itu ditemukan tergeletak di kamar dengan botol bay*on di sebelahnya. Dari anamnesis dan pemeriksaan fisik, dapat disimpulkan bahwa gadis yang masih SMA itu keracunan organofosfat (salah satu kandungan berbahaya di dalam racun serangga). Untungnya, intoksikasi yang dialami nona itu belum terlalu parah. Dengan sekali bilas lambung, kesadarannya perlahan pulih.

Tidak ada yang bisa menggali motif gadis itu meminum racun serangga. Ia dan keluarganya tidak merasa perlu menjelaskannya. Yang jelas, mereka terlihat sangat bersyukur ketika mengetahui bahwa hasil tes kehamilan gadis itu negatif. Gadis yang awalnya memilih mati itu, akhirnya hidup kembali. Tapi saya tidak tahu, apakah dia senang karena kami telah menyelamatkan nyawanya. Atau justru dia malah menyesalkan kelakuan kami yang “sok tahu” itu.

Kalau saya diperkenankan untuk menebak-nebak, ada satu persamaan antara bayi perempuan dan gadis muda di atas. Yang satu ingin sekali hidup, tetapi dipatahkan oleh maut. Sementara yang lainnya justru ingin menghentikan hidup meskipun ia punya kesempatan untuk itu. Keduanya sama-sama tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan.

Saya di sini tidak untuk menjadi hakim. Sudah cukup saya menjadi makhluk yang “sok tahu” dan “sok baik” saja; mencoba menyelamatkan mereka yang (mungkin) sesungguhnya tidak ingin diselamatkan. Saya tidak akan berkata bahwa gadis muda itu—atau orang-orang yang bertendensi bunuh diri—tidak tahu bersyukur. Semua pasti menyimpan alasannnya sendiri. Saya bukan motivator andal yang pandai berkoar soal semangat hidup. Toh, seperti kata @KoasRacun:

Kalau kita bilang ke orang depresi “kenapa sedih? dunia penuh hal gembira!” sama aja kayak ngomong ke pasien asma “kenapa sesak? dunia penuh oksigen!”

Jika ada pepatah yang mengatakan bahwa “hidup itu pilihan”, kenapa ungkapan yang sama tidak boleh berlaku untuk kematian? Mungkin untuk beberapa orang, pepatah tersebut akan berubah menjadi “mati itu pilihan”.

Saya hanya jadi berpikir, bagaimana jika nyawa itu seperti organ yang bisa didonorkan. Siapa yang tidak lagi membutuhkan, bisa memberikannya untuk mereka yang memerlukan. Dengan begitu, mungkin tidak ada kehidupan di dunia yang berlangsung sia-sia. Lantas setiap orang akan mendapatkan kehidupan (atau kematian) yang mereka inginkan.

7 Tanggapan to “Donor Nyawa”

  1. rezanufa 19 September 2014 pada 4:15 am #

    AH, INI!
    Gue pernah ngetwit tentang ini ketika ramai berita tentang alumnus UI yang mengajukan permohonan pelegalan suntik mati. Gue pikir, harusnya memang begitu. Memaksa orang untuk bertahan hidup padahal orang itu tidak bahagia merupakan kejahatan.

    Tapi, sayangnya, gue belum nemu binatang yang bunuh diri, termasuk pada binatang yang kemampuan otaknya lumayan bagus seperti burung gagak atau kera bonobo (kalau ada, tolong kasih tahu ya). Andai ada, gue pasti lebih yakin bahwa bunuh diri itu alamiah; sesuatu yang tidak melenceng dari cara kerja alam, dan gue tidak merasa bersalah ketika beragumen bahwa “bunuh diri adalah HAK setiap makhluk”.

    Yang gue yakini tentang cara kerja alam adalah bahwa, dalam rangka menjalani hidup, kita itu membunuh dan dibunuh; membunuh (makhluk lain) untuk mendapatkan kehidupan dan dibunuh untuk memberikan kehidupan (pada makhluk lain). Siklus saling memangsa ini berjalan terus untuk membentuk keseimbangan.

    Manusia yang berada di puncak rantai makanan bisa saja dibunuh oleh wabah, bencana alam, atau peperangan, dan dengan begitu, posisinya adalah “dibunuh”, bukan “bunuh diri”. Maka, kalau ada yang mati tanpa maksud untuk memberi kehidupan pada makhluk lain, atau tanpa ada makhluk lain yang ingin membunuhnya untuk mendapatkan kehidupan, gue khawatir itu menyalahi aturan alam dan justru merusak keseimbangan. Kecuali jika kita berani mengambil spekulasi bahwa depresi adalah penyakit yang diciptakan oleh alam untuk membunuh manusia; seolah-olah manusia itu bunuh diri, padahal sebetulnya dia dibunuh secara terencana. Toh, faktanya, makin banyak populasi manusia, makin banyak penyakit baru yang, barangkali, menjadi cara alam untuk mengendalikan makhluk beringas yang satu ini.

    Masih soal cara kerja alam (memangsa-dimangsa). Beberapa binatang membiarkan dirinya dibunuh (cenderung kanibalisme), misalnya, pada spesies tertentu, ada induk laba-laba yang membiarkan anak-anaknya memakan tubuhnya ketika menetas, atau capung jantan yang membiarkan capung betina memakannya seusai kawin. Ini nyambung dengan argumen “donor nyawa”. Mereka mati untuk memberi kehidupan. Tapi, lagi-lagi, tampaknya laba-laba dan capung itu lebih mengerti cara hidup ketimbang kita. Mereka memilih mati karena memang ingin sekali memberi kehidupan pada orang terkasihnya (pengorbanan), bukan semata karena keinginan mati itu sendiri (egoisme), yang biasanya menjadi hasrat terpendam orang-orang depresi.

    *ah, meracau*

    • cinthyayuanita 19 September 2014 pada 10:29 pm #

      duh, baru kali ini ada komen lebih bagus dari post-nya. sampe mati gaya mau nimpalinnya. :O

      • rezanufa 20 September 2014 pada 6:48 am #

        Hmmm. Ah, iya, kata-kata dari @KoasRacun itu bagus banget. Gue jadi punya cara baru buat ngejelasin kondisi depresi. Makasih.

      • cinthyayuanita 20 September 2014 pada 10:27 am #

        Kak, bikin cerpen deh, judulnya “Kau dan Hmmm-mu Yang Mengintimidasi”. :’)

      • rezanufa 20 September 2014 pada 12:38 pm #

        Haha. Biarkan itu jadi misteri. *halah*

  2. Samuel Arman 20 September 2014 pada 7:55 pm #

    tulisannya bagus🙂

    • cinthyayuanita 20 September 2014 pada 8:16 pm #

      makasih kak arman.
      btw gimana progress itu-nya?😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: