Hanif, Panggung Permenungan dan Pencarian

14 Sep

Hanif: Dzikir dan Pikir

 

Judul : Hanif

Penulis : Reza Nufa

Penerbit : DIVA Press

Tahun Terbit : 2013

Tebal : 384 halaman

ISBN : 978-602-7933-46-0

 

 

“Tuhan ‘kan Maha Bisa. Nah, bisa nggak Tuhan bikin batu yang karena batu itu Dia justru gak bisa lewat?”

Dua orang pemuda memperdebatkan Tuhan di hadapan seporsi sate kambing. Mereka membahasnya dengan santai, seolah topik yang dibicarakan tidak lebih berat ketimbang pertandingan sepak bola.

Begitulah novel ini dibuka. Tanpa basa-basi terlebih pretensi. Agama dan Tuhan, bagi Hanif juga Idam, bukanlah bahan baru dalam obrolan mereka. Di saat kebanyakan orang menganggap kedua hal itu tabu, mereka justru semakin gerah untuk mencari tahu.

Sejak bocah, kedua sahabat ini telanjur akrab dengan perbincangan seputar ketuhanan. Tepatnya, Hanif meracaukan segala kegelisahannya, dan Idam akan selalu siap menyediakan telinganya. Entah apa yang menjadi sumber keresahan Hanif. Latar belakang itu tidak dijelaskan secara kentara. Yang jelas batinnya kian berkarut dari hari ke hari.

Ketika remaja seusianya keasyikan memikirkan cinta, Hanif malah sibuk mencari akar agama. Ketika anak muda lain masih linglung menentukan cita-cita, Hanif telah berkutat dengan masa depan negara. Setelah enam tahun menimba pengalaman di pondok pesantren, kemudian kuliah di universitas berbasis agama, dahaga Hanif akan kebenaran hakiki belum juga terpuaskan. Sebaliknya, ia semakin dirundung kekalutan.

Hanif tidak hanya rajin bertanya, tetapi juga tak sungkan membuka diskusi dengan siapa saja. Termasuk ayahnya, seorang pemuka di kampung mereka. Bisa diduga, sang ayah yang terbilang konservatif dalam beragama tidak bisa menerima pemikiran Hanif yang mendobrak sekat-sekat keimanan.

Friksi-friksi yang telah meruncing sejak lama kian menjadi tajam. Pada titik kulminasinya, Hanif memutuskan untuk melakukan perjalanan hingga ke timur Indonesia. Sebuah eskapisme yang diharapkan akan berujung pada jalan kebenaran. Dengan berjalan kaki, Hanif menjadi musafir di negerinya sendiri. Ia menanggalkan segala yang melekat pada dirinya. Kuliah, keluarga, teman, dan Idam.

Melalui sudut pandang berbeda, Idam juga menuturkan kisahnya. Betapa ia bangga menjadi sahabat Hanif dan mengikuti setiap jejaknya, hingga secara terang-terangan dijuluki sebagai pengekor. Idam tidak pernah berambisi melebihi Hanif. Dan memang tidak akan bisa. Ia sudah cukup puas menjadi pengikut, kecuali setelah Hanif menghilang.

Kepergian Hanif turut mengubah arah hidup Idam. Dengan cara tersendiri, ia pun berupaya menyebarkan (apa yang diyakininya sebagai) kebenaran. Awalnya untuk Hanif semata, tetapi kemudian bagi kebaikan semua umat manusia.

Perjalanan raga keduanya memang mengandung banyak muatan. Tetapi, sesungguhnya perjalanan batin merekalah yang menjadi inti dari segala. Pencarian dan permenungan Hanif adalah potret sandiwara yang nyata. Sayangnya, kebanyakan dari kita kelewat nyaman menjadi penonton yang menghakimi, ketimbang berlakon di atas panggung itu sendiri.

 

(Tidak) Untuk Menjawab Enigma

Hanif hadir bukan untuk mematahkan akidah. Pun, tidak untuk mengajarkan kekafiran. Ia hanya mencoba memaparkan fakta. Bahwa kini manusia semakin tergila-gila dengan pembedaan. Bahwa orang-orang sudah kecanduan dengan pelabelan. Ketika labelnya dinodai, mereka lalu berlomba-lomba berperan menjadi korban. Saling menuduh lantas bertikai. Sebuah siklus yang amat destruktif.

Hanif hanyalah perwakilan dari segelintir suara yang berupaya mencari jalan tengah perdamaian. Dengan penuturan yang santun, ia menyadarkan bahwa pluralisme sepantasnya dirayakan, bukan dibinasakan. Harus diakui, Reza Nufa begitu piawai menyelipkan gagasan-gagasan kritisnya dalam komposisi fiksi yang harmonis.

Novel ini bukan buku agama yang dogmatis. Kemasannya lebih seperti catatan harian yang sesekali disusupi metafora-metafora manis. Sebuah catatan yang kaya dalam kesederhanaannya.

Hanif sungguh jauh dari kesan eksklusif. Ia membuka diri bagi siapapun yang siap menerima perbedaan dengan pikiran terbuka. Penulisnya juga berlaku adil. Ia tidak hanya terpaku pada satu lapang pandang, tetapi juga mampu menyoroti kejanggalan dari berbagai sisi.

Jangan buru-buru takut tersesat sebelum membacanya hingga tuntas. Pada awalnya, rongga kepala mungkin disesaki argumen-argumen pembenaran diri. Tapi tak mengapa. Bergumulah sepuasnya. Berpikirlah seliar-liarnya. Karena itulah (sepertinya) yang hendak disampaikan novel ini. Kontemplasi. Permenungan. Tak peduli hasilnya nanti. Hanif memang tidak diakhiri dengan suatu kesimpulan yang memihak ataupun memaksa. Ia tetap membiarkan segala pencarian menjadi enigma.

Satu-satunya hal yang saya sesalkan dari buku kedua Reza Nufa ini adalah keberadaannya yang kian langka. Semoga pihak penerbit bersedia mendistribusikan buku ini dengan cakupan lebih luas. Semoga Hanif bisa menjadi penyebar virus kebaikan. Bisa jadi dunia akan jauh lebih indah jika ada lebih banyak Hanif di sekitar kita. “Baik buruk itu ukuran perilaku, tidak ada ajaran agama yang menghendaki keburukan.”

Konon, Dajjal akan muncul di akhir zaman. Dia bermata satu dan memiliki kekuatan yang besar. Jangan-jangan, kitalah Dajjal. Manusia, mayoritas makhluk yang hidup di bumi ini, punya kekuatan yang besar, akan sampai pada masa di mana melihat semuanya dengan sebelah mata.

3 Tanggapan to “Hanif, Panggung Permenungan dan Pencarian”

  1. rezanufa 14 September 2014 pada 3:45 am #

    Aduh. Jam segini buka laptop, dapet ini. Terima kasih banyaaak! Itu beneran nggak kebanyakan ngasih bintang lima di Goodreads? *mewek* :’)

    • cinthyayuanita 14 September 2014 pada 6:21 pm #

      waaah…masnya tuh yang nulis buku ini ya? beneran mas? mas reza nufa yang penulis tenar itu? :p

      • rezanufa 14 September 2014 pada 8:04 pm #

        Kak…. lama-lama gue gemes nih.😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: