[Film Review] XXI Short Film Festival 2014

20 Jul

Sebut saya kurang update, tapi saya memang cukup terlambat mengetahui hal ini. Kalau siang itu saya tidak membuka jejaring sosial, mungkin saya akan melewatkan kesempatan ini lagi. Entah karena publikasinya yang kurang masif atau saya yang tidak aktif. Sejak tanggal 3 Juli 2014, beberapa bioskop jaringan XXI memutar kompilasi film peraih penghargaan XXI Short Film Festival 2014. Ketika informasi itu tiba di telinga saya, tinggal satu bioskop yang masih menempatkan film tersebut dalam daftar tayangannya. Entah karena memang sudah kedaluwarsa atau tidak banyak bioskop yang mau memberikan slot untuk film-film semacam ini.

Sebenarnya saya menyukai film Indonesia. Dengan catatan, bukan film yang menjual perempuan-perempuan absurd–baik yang masih hidup dan masih bisa menggunakan pakaian seksi maupun yang sudah berwujud kuntilanak. Maka saya sangat menyayangkan ketika film ini cukup cepat berlalu dari bioskop-bioskop di ibu kota.

Film pendek pertama bercerita tentang pertemuan Handi dan Genda di sebuah kedai kopi. Tidak banyak plot yang terjadi. Cerita berpusat pada perbincangan antara kedua tokoh–Genda yang resah dan Handi yang gemar menggunakan metafora. Saya menikmati film ini dengan kerutan-kerutan di kening. Di satu sisi saya terpukau dengan diksi sophisticated yang meluncur mulus dari mulut Handi, tapi di sisi lain saya kesulitan menebak-nebak absurditas pikiran Genda. Film berjudul Horison ini mengajak penonton untuk larut dalam kisah seraya menebak-nebak jalan cerita. Ketika keluar dari ruang teater, saya pun belum bisa menduga korelasi antara perumpaan Handi (tentang  biru-laut-ikan) dan hubungan Genda-Andre yang tak direstui orang tua.

Asiaraya menjadi film kedua yang berada dalam daftar kompilasi. Ide cerita yang dituangkan oleh para sineas-nya boleh diacungi jempol. Mereka mencoba mengisi kisah-kisah yang kosong pada masa perang kemerdekaan Indonesia. Dengan alur yang tertata, Asiaraya mencoba menjelaskan bahwa kemerdekaan negara tidak lepas dari bantuan pihak lain–pihak yang sekaligus menjajah kita. Seorang jenderal Jepang ternyata juga memiliki dedikasi untuk memperjuangkan kebebasan Indonesia. Uniknya, film ini dibuat dalam bentuk animasi. Saya jadi terpikir, mungkin Indonesia harus lebih banyak memproduksi film-film animasi bertema sejarah. Hal itu bisa menjadi alternatif media pembelajaran–bukan cuma buat anak-anak tapi juga orang dewasa yang terkadang amnesia terhadap masa lalu.

Film pendek ketiga, Akar, rupanya adalah sebuah dokumenter mengenai kehidupan keluarga Tionghoa di Pulau Jawa. Awalnya saya pikir film ini akan terus menerus menyoroti kehidupan sehari-hari keluarga Amelia Hapsari (sang pembuat film). Rupanya, dibalik dialog-dialog dan adegan nyata itu, ada pesan penting yang hendak disampaikan. Keluarga ini memang memiliki relasi langsung dengan negeri Tiongkok. Kakek nenek Amelia datang langsung dari daratan Cina untuk kemudian menikah dan menciptakan keturunan yang terus beranak pinak. Kini, sekalipun memiliki rupa yang berbeda dengan warga pribumi, tak pernah sekalipun tebersit keinginan untuk kembali ke negeri asal leluhur mereka. Bagi mereka, Indonesia adalah rumah–tempat yang selalu membuat mereka ingin pulang. Seperti yang dikatakan salah satu tokoh di film itu, “Balik nang Indonesia wae, paling enak nang Indonesia.”

XXI Short Film Festival 2014

Akar disusul dengan film dokumenter lain yang berjudul Selamat Tinggal, Sekolahku. Harus saya akui, inilah film terbaik dalam kompilasi itu–setidaknya film yang paling menggetarkan saya. Sebenarnya ide cerita film ini sangat sederhana, hanya merekam keseharian seorang anak di sekolahnya. Tapi, yang menjadikan film ini tidak biasa karena tokoh utamanya, Lintang, adalah seorang Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Seperti lazimnya ABK lain, Lintang bersekolah di Sekolah Luar Biasa (SLB). Hari-hari Lintang di sekolahnya menjadi momen yang mengharukan karena tidak lama lagi ia harus meninggalkan sekolah tersebut. Ia sudah dianggap mandiri sehingga tidak perlu lagi mengenyam pendidikan di tempat itu. Penonton diajak untuk larut dalam suasana perpisahan yang bernuansa haru.

Karya berikutnya adalah Lembar Jawaban Kita, film pendek yang sarat makna. Film ini bercerita tentang realita ironis yang kerap terjadi pada saat Ujian Nasional berlangsung. Seorang anak bernama Ali digambarkan harus mendapatkan kesulitan karena terjebak dengan kejujurannya sendiri. Berbeda dengan teman-temannya yang mengandalkan contekan, ia tetap teguh dengan pendiriannya. Cerita ini dibangun dengan jenaka dan berakhir dengan twist  yang sukses membuat menganga.

Kilik menjadi film animasi kedua yang ditampilkan dalam kompilasi ini. Berbeda terbalik dengan Asiaraya yang menyuguhkan animasi tegas dan jalan cerita heroik, Kilik tampil dengan rupa yang lucu. Cerita yang diangkat ringan tetapi juga tidak melupakan pesan moral. Film yang bercerita mengenai ritual khitan di suatu daerah di Indonesia ini mampu memancing tawa penonton melalui tingkah polah tokoh utamanya.

XXI Short Film Festival 2014 ditutup dengan sebuah film besutan putera Makassar. Mengambil judul Sepatu Baru, pembuat film ini mencoba untuk mengetengahkan kultur setempat dengan cara yang cerdas. Pada menit-menit pertama, saya berpikir bahwa film ini adalah film misteri atau elegi karena dibuka dengan adegan yang suram dan kelam. Tak dinyana, rupanya Sepatu Baru justru mampu menghadirkan gelak tawa di akhir cerita.

XXI Short Film Festival 2014 memberikan warna tersendiri dalam industri perfilman Indonesia. Kita perlu lebih banyak karya-karya anak bangsa yang patut mendapat tempat di hati penonton Indonesia.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: