Meretas Teka-Teki Dalam Sebuah “Fantasy”

9 Jul

“True friendship is of greater worth than words, though they were solid gold.

To all the glittering gems of earth, I it prefer, a thousand fold.

One friend I have who knows my heart, and loves me with a changeless love;

I love Him, too—nor death can part us two, for we will love above”

(Friendship by Joseph Horatio Chant)

 

Fantasy - Novellina Apsari

Judul            : Fantasy

Pengarang  : Novellina Apsari

Penerbit      : Gramedia Pustaka Utama (GPU)

Kategori      : Fiksi (MetroPop)

Tebal            : 312 halaman

Terbit           : April 2014

Harga           : Rp 62.000,00

ISBN             : 9786020303550

 

 

Ketulusan Davina untuk menembus jarak ribuan mil menuju kota Tokyo bukanlah tanpa alasan. Berbekal harapan dan impian-impian yang nyaris pupus, Ia memberanikan diri untuk menemui Awang. Siapa sangka, setelah tujuh tahun berlalu, beruang cokelat kesayangannya itu telah bertransformasi menjadi seorang Indonesian brilliant pianist!

“Aku akan menemuinya, satelit yang telah keluar dari orbitku, dan kini menjadi planet yang megah, besar, dan benderang.”—Davina (hlm. 138)

Pertemuan itu tidak hanya mengembalikan kenangan dan cinta—yang sesungguhnya memang tidak pernah punah—di antara mereka, tetapi juga menjadi titik awal dari sebuah perjalanan mengejar mimpi. Mimpi yang bukan hanya menjadi milik Awang dan Davina, melainkan juga Armitha—sosok yang begitu melekat dalam kehidupan mereka.

Perjuangan menggapai mimpi itu sekaligus menjadi momentum yang menguji kekuatan cinta dan persahabatan mereka bertiga. Tidak ada yang pernah berkata bahwa meraih cita-cita adalah perkara yang mudah. Lantas, sejauh apa mereka mampu bertahan memperjuangkan ego, idealisme, dan impiannya masing-masing?

Dari Surabaya, Tokyo, Singapura, Paris, Berlin, hingga Wina, mereka berlari menyambut mimpi, mencoba membuktikan bahwa mimpi tidak terlalu jauh untuk digapai selama mereka selalu melangkah untuk meraihnya. 

Kepingan Puzzle

Ketika pertama kali melihat judulnya, saya mengira novel ini adalah sebuah kisah bergenre fantasi atau—lebih gilanya lagi—science fiction. Apalagi didukung dengan ilustrasi (semacam) taburan star dust dari piano mungil di bawah kover. Ternyata, tebakan saya salah total! Sampul buku ini justru sangat berkelindan dengan isi cerita yang beraliran roman. Semua yang tertuang di halaman muka adalah representasi isi di dalamnya: piano, simbol the key of G yang menyaru pada judul, serta kutipan puitis tentang cinta dan kepercayaan.

 “Love doesn’t conquer all, faith does”

Ya, Fantasy memang mengusung musik klasik sebagai tema besarnya. Sejak awal cerita, tema tersebut sudah mengakar dengan kuat, dihantarkan secara apik ke hadapan pembaca melalui tokoh Awang.

Tidak seperti novel MetroPop pada umumnya, penulis berani menawarkan pemeran utama pria yang antimainstream. Bukan mantan kapten basket, bukan dari kalangan white collar, bukan vokalis band pujaan, melainkan seorang maestro piano klasik. Sebuah profesi yang masih asing di kalangan awam, dan bahkan—menurut saya pribadi—sulit untuk direalisasikan ke dalam sebuah tulisan.

Nyatanya, sang penulis mampu meracik karya perdananya ini dengan paduan yang tepat. Novellina Apsari memasukkan komponen-komponen musik dalam takaran yang jitu sehingga menghasilkan cita rasa cerita yang pas. Alhasil, saya pun bisa menyerap banyak informasi sambil menikmati sebuah karya fiksi.

Eksposisi yang berkaitan dengan dunia musik—misalnya tentang aturan main pada kompetisi—dipaparkan dengan luwes dan mudah dipahami. Novellina juga berhasil menerjemahkan nada-nada klasik yang indah ke dalam kata-kata. Setiap judul komposisi tidak hanya dijelaskan melalui catatan kaki, tetapi juga lewat narasi yang deskriptif.

Selain mahir bercerita dengan jernih, Novellina juga piawai bermain dengan alur. Saya sempat dibuat gemas dengan konflik perpindahan hati Awang dari Armitha ke Davina. Awalnya saya berpikir bahwa adegan tersebut sangat “mentah” karena hanya didasarkan pada reaksi kimia yang klise. In fact, surprisingly, it’s not as simple as “it’s just boom and happen”. Ternyata Novellina menyiapkan penjelasannya sebagai kejutan pada bagian akhir—sekaligus menjadi kunci jawaban atas misteri judul “Fantasy”.

Teka-teki dalam Fantasy tidak lantas berakhir pada konflik antartokoh yang relatif sulit ditebak. Kalau diperhatikan, ada yang unik dari setiap tajuk bab di dalam buku ini. Setelah diusut lebih jauh, rupanya semua judul bab tersebut diambil dari titel komposisi klasik. Well, her references in classical music must be very rich.

Menurut penulisnya, antara judul komposisi dan jalan cerita saling menemukan satu sama lain. Terkadang komposisi menginspirasi alur cerita, atau sebaliknya. Mungkin itulah yang menyebabkan jalan cerita Fantasy tidak terkesan dipaksakan—meskipun memang ada bagian-bagian yang cukup singkat. Misalnya, transisi antara bab Tragic dan Miracle yang terlampau cepat dan terasa kebetulan.

Membaca Fantasy ibarat bermain di dalam maze atau menyelesaikan sebongkah puzzle. Setiap kepingan kisah menyimpan teka-teki yang baru akan terjawab dengan utuh setelah kita sampai pada bagian akhir. Novellina pandai memilin benang merah sekaligus merajutnya menjadi labirin-labirin yang sukar ditebak ujung pangkalnya. Itulah yang menjadi daya tarik buku ini. Pembaca jadi terdorong untuk menemukan jawabannya hingga penghabisan.

 

Ekspektasi Yang Terbayar

Membaca buku ini menjadi lebih menyenangkan karena nyaris tidak ada kesalahan cetak atau penulisan. Saya bahkan terhibur dengan istilah-istilah unik yang diciptakan penulis, misalnya naïve warrior, anti-reading syndrome, ultimate weapon, dan public attention avoider. Namun di sisi lain, ada juga yang terkesan janggal ketika kosa kata sederhana harus dituliskan dalam bahasa Inggris, seperti big day, boyfriend, dan meng-encourage.

Hal lain yang cukup mengganjal adalah penggunaan bahasa asing yang kurang relevan. Misalnya saja perbincangan antara Davina-Awang-Mitha yang pada saat itu masih SMA kelas dua. Alih-alih menggunakan bahasa Inggris, mungkin akan lebih seru jika mereka berbincang menggunakan prokem bahasa Jawa—sesuai setting cerita di Surabaya. Selain untuk menggambarkan lokalitas, hal itu juga bisa memperkaya nuansa cerita. Sama halnya ketika cerita beralih ke Berlin atau Wina, saya mengharapkan ada lebih banyak selipan bahasa Jerman di sana. Sementara itu, bahasa Jepang yang sering muncul—walaupun singkat dan sederhana—ada baiknya diterjemahkan supaya bisa menjadi bahan pembelajaran bagi pembaca.

Di luar kendala bahasa, penulis sukses mendesripsikan setting cerita dengan amat baik. Ketika membaca buku ini, saya seperti tengah dibawa pelesir ke enam kota berbeda di Indonesia-Asia-Eropa. Walaupun belum pernah menyambangi beberapa tempat di dalam cerita, Novellina dapat menyampaikannya dengan sangat baik dan tepercaya. Hal itu juga menjadi bukti bahwa riset yang dilakukannya tidaklah main-main.

Fantasy juga menjadi menarik karena cara penuturannya yang mengambil dua sudut pandang. Meskipun tidak ada perbedaan yang terlalu kentara antara sudut pandang Davina dan Mitha, tapi saya tetap suka dengan tokoh-tokohnya. Dengan sarkasmenya yang khas, Davina resmi menjadi tokoh favorit saya. Simak saja kalimat yang dilontarkan Davina berikut ini,

“Aku takut saat ini tidak ada satu helm pun di dunia ini yang memiliki ukuran sebesar kepalamu,”—Davina kepada Awang. (hlm.45)

Sayangnya, ciri khas itu seolah-olah menguap di tengah cerita. Saya juga menyukai Davina karena logika dan analoginya yang begitu mengena. Walaupun digambarkan sebagai pribadi yang cuek dan sederhana, sesungguhnya gadis itu adalah sosok yang rumit. Bagi Davina, bunga anggrek dan stasiun bisa memiliki nilai filosofis yang sangat mendalam (hlm. 122-123).

Terlepas dari kelebihan dan kekurangannya, buku ini memberikan limpahan insight. Tema mimpi yang disajikan tidak sekedar basa-basi, tetapi memotivasi. Saya sangat terkesan dengan cara penulis memaknai mimpi dan perjalanan menggapainya. Buku ini mengajarkan kita untuk memperjuangakan mimpi, memupuk cinta, serta menjaga nilai persahabatan secara bersamaan. Praktis, Fantasy tidak hanya menyajikan cerita indah, tetapi juga pesan menggugah.

Sejak membaca review-nya yang tersebar di berbagai media, saya sudah menaruh ekspektasi besar terhadap buku ini. Kata pepatah, tidak baik menaruh harapan yang terlalu besar atas sesuatu yang belum pasti. Namun, kali ini saya harus mematahkan pernyataan  Shakespeare: Expectations is the root of all heartache. Sorry Will, you might be disappointed, but this time you were wrong, I didn’t get heartache because of my expectation. Fantasy adalah sebuah ide brilian yang dikemas dengan cara mengesankan dan saya tidak merasa menyesal pernah membacanya. I gave this book 4 of 5 stars.

 

Favorite Quotes

“Mungkin, jalan terbaik untuk tidak merasakan kesedihan adalah dengan tidak memikirkannya, menjauh dari kenangan, bahkan jika perlu meninggalkan semuanya untuk memulai hidup baru.” (hlm. 121)

“There is no burden in love, because love is always selfish.” (hlm.126)

“Tidak ada yang lebih menyedihkan selain saat seseorang kehilangan harapan. Ketika seseorang bahkan tidak sanggup memimpikan sesuatu. Ketika tidak ada keyakinan dalam dirinya sendiri bahwa akan ada hari esok, yang jauh lebih baik daripada hari ini.” (hlm. 133)

“Seseorang perlu orang lain untuk mendukungnya betapa pun besar bakatnya.”—Awang kepada Armitha. (hlm. 260)

“Tuhan tidak memberikan Hellen Keller begitu banyak kekurangan hanya untuk membuatnya jadi simbol lelucon kehidupan. … Yang lucu adalah kita tidak memerlukan kesempurnaan untuk hidup bahagia, namun kita terus mencarinya bahkan rela mengorbankan jati diri untuk itu. padahal yang dibutuhkan hanya satu, percaya.” Awang kepada Armitha. (hlm. 260-1)

4 Tanggapan to “Meretas Teka-Teki Dalam Sebuah “Fantasy””

  1. idrusdama 11 Juli 2014 pada 7:59 pm #

    Kakak, wah hebat sekali caramu menulis ya…!! Saya suka dengan cara kakak menulis review buku. Kren dan enak dibaca…!! Ditunggu ya review selanjutnya…!!

  2. fattah 19 September 2014 pada 4:25 pm #

    wow! saya rasa ini review terbaik untuk novel ini. Brilliant.
    Saya punya novelnya yang belum tamat saya baca. tapi saya yakin akan kualitas novel ini. Thanks for sharing.

    PS:
    My team designed the cover, by the way.🙂

    F

    • cinthyayuanita 19 September 2014 pada 10:38 pm #

      Terima kasih sudah berkunjung.
      Wow! such a great job!
      I love the idea of the dust. Oh, and also the font, it’s really splendid.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: