SLBN Lebong, Tak Lelah Menjemput Asa ABK

30 Jun

Bangunan yang didominasi warna kuning gading itu berdiri tegak di atas tanah berundak. Dari luar suasananya tampak sepi dan dingin. Namun, saat melangkahkan kaki ke dalam, atmosfer ceria dan hangat segera menyeruak. Sekilas tidak ada yang terlihat berbeda dari sekolah yang terletak di Desa Lemeupit, Kabupaten Lebong, Bengkulu. Siapa sangka, di tempat itu berkumpul para Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) berprestasi yang tengah giat menimba ilmu.

Dibangun pada 2006, Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) Lebong mulai beroperasi secara aktif pada 2008 dengan kondisi serbaminimalis. Fasilitas yang tersedia sangat sederhana, bahkan tenaga pengajar yang ada hanya berjumlah tiga orang. Meskipun dibayangi berbagai keterbatasan, sekolah ini berhasil menjaring tujuh siswa pertamanya. Jumlah siswa yang sedikit tidak lantas membuat pekerjaan para pendidik menjadi mudah.

“Saat masuk sekolah pertama kali, mereka bisa dikatakan masih ‘liar’. Untuk mengurus diri sendiri saja belum bisa. Dulu sekolah hanya dibuka pada hari Senin dan Kamis karena siswa belum sadar arti sekolah. Kami yang harus menyesuaikan diri dengan kemauan mereka,” ujar Lia Amalia, salah seorang pengajar yang bergabung sejak awal berdirinya sekolah.

Berkat kegigihan dan kesabaran para guru, murid-murid mulai menujukkan perkembangan. Kemandirian mereka mulai terasah sehingga kualitas hidupnya pun semakin meningkat. Memasuki usia yang hampir genap sewindu, kini jumlah siswa SLBN Lebong terus meningkat setiap tahun ajaran baru.

Sistem belajar di sini mengacu pada kurikulum yang ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, tentu saja dengan beberapa modifikasi dalam pengaplikasiannya.

“Kami menerapkan dua jenis metode belajar, yaitu klasikal dan individual. Sistem klasikal sama seperti metode belajar di sekolah pada umumnya. Guru memiliki otoritas penuh di depan kelas, sedangkan murid duduk diam mendengarkan. Tetapi, karena menyadari bahwa kebutuhan belajar setiap anak berbeda, kami lebih sering menggunakan sistem individual yang memungkinkan peserta didik untuk menentukan proses belajar yang diinginkannya,” terang Lia.

Selain berfokus pada kemampuan akademis yang teoretis, para siswa juga dibimbing untuk menerapkan pengetahuan praktis. SLBN Lebong membantu para murid menemukan potensinya melalui aneka pelajaran keterampilan. Hasilnya, tidak sedikit dari mereka yang menorehkan prestasi pada ajang olimpiade nasional bagi siswa Pendidikan Khusus-Pendidikan Layanan Khusus (PK-PLK) di tingkat provinsi.

Bangunan sekolah tampak dari luar

Melawan Stigma, Merealisasikan Cita-Cita

Menyadari bahwa PK-PLK masih asing di kalangan awam, pihak sekolah berinisiatif “menjemput bola”. Sejak 2009, SLBN Lebong rutin melakukan program home visit ke seluruh pelosok kabupaten. Targetnya adalah menjaring sebanyak mungkin ABK untuk mengecap bangku pendidikan yang layak. Setiap awal tahun ajaran, sekolah menyambangi seluruh wilayah Lebong untuk melakukan pendataan dan sosialisasi berkala.

Meskipun didasari tujuan mulia, program tersebut tidak selalu berjalan mulus. Tidak tersedianya sarana transportasi menjadi salah satu penghambat berarti. Hingga saat ini, home visit masih mengandalkan kendaraan pribadi para guru, bahkan untuk mencapai lokasi yang sulit dijangkau. Tak hanya kendala teknis, kendala sosial pun menjadi batu sandungan yang harus dihadapi.

“Pada awalnya, sambutan dari masyarakat tidak begitu baik. Mereka sepertinya trauma dengan pihak-pihak tertentu yang sudah pernah datang, tetapi hanya memberikan janji-janji tanpa realisasi,” kata Elvian Komar, kepala SLBN Lebong.

Tak jarang pula pihak sekolah harus berhadapan dengan kelompok masyarakat yang masih memandang penyandang disabilitas dengan sebelah mata.

“Ada beberapa keluarga yang karena malu, justru menyembunyikan ABK. Ada yang bahkan sampai memasung anaknya selama bertahun-tahun. Rasanya miris sekali kalau mengingat hal itu,” cerita Lia ketika ditanya seputar pengalaman pahit ketika home visit.

Stereotipe buruk mengenai kaum difabel memang sulit dipatahkan. Mereka bukan hanya dianggap momok bagi keluarga, tetapi juga aib di masyarakat. Stigma itulah yang hendak dilawan oleh SLBN Lebong. Sikap masyarakat yang terlanjur skeptis dicairkan dengan upaya memberikan pengertian secara komprehensif. Dengan jalan tersebut, masyarakat pelan-pelan sadar bahwa ABK tidak sepatutnya dipandang sebagai aib. Kini, masyarakat lebih paham bahwa ABK memiliki potensi terpendam yang bila dikembangkan mampu membuahkan hasil yang gemilang. Seiring dengan semakin tingginya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pendidikan bagi ABK, semakin terang pula jalan bagi mereka untuk menggapai cita-cita.

“Alhamdulillah, setelah diberikan pengertian, mereka jadi lebih paham dan justru antusias untuk memasukkan ABK ke SLB,” tutur Elvian.

Sayangnya, animo masyarakat yang tinggi terhadap keberadaan SLB tidak selaras dengan keberdayaan mereka. Beberapa calon siswa yang ingin sekali bersekolah terpaksa melunturkan niatnya karena terbentur beban ekonomi. Kebanyakan dari mereka terhalang oleh kesulitan mengakses sekolah, termasuk biaya transportasi yang tidak mampu ditanggung keluarga. Di sisi lain, pihak sekolah juga tidak mampu berbuat banyak sebab alokasi anggaran untuk transportasi siswa miskin sangatlah terbatas.

Menanti Atensi Daerah

Selama 8 tahun beroperasi, SLBN Lebong disokong penuh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bengkulu. Hampir semua sarana dan prasarana sekolah disediakan oleh pemprov. Meski ada beberapa proposal yang masih dalam tahap pemrosesan, tetapi pemerintah terlihat konsisten dalam menujukkan dukungannya.

“Sampai saat ini, tidak ada kendala berarti yang dihadapi sekolah kami karena pemerintah provinsi selalu bersedia membantu,” kata Elvian.

Sayangnya, bantuan dari pemprov kurang diimbangi dengan dukungan dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lebong. Pihak sekolah menilai Pemkab masih belum menunjukkan perannya secara maksimal dalam penyelenggaraan pendidikan di SLBN Lebong. Padahal dalam UU Sisdiknas No.20/2003 Pasal 11 dijabarkan bahwa pemerintah daerah, dalam hal ini baik pada tingkat provinsi maupun kabupaten, wajib memberikan layanan dan kemudahan, serta menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu bagi setiap warga negara tanpa diskriminasi.

Pihak sekolah berharap Dinas Pendidikan Kabupaten Lebong dapat bekerja sama dengan instansi-instansi terkait, seperti Dinas Sosial, untuk memenuhi kebutuhan ABK. Salah satu masalah yang cukup urgen adalah bantuan transportasi bagi siswa miskin untuk menjangkau sekolah.

“Kalau bisa, kami berharap agar dapat disediakan mobil antar jemput yang bisa mengakomodasi kebutuhan siswa. Selain itu, kami juga memiliki asrama yang terbengkalai karena belum ada fasilitas di dalamnya. Semoga pemerintah daerah mau membantu pengadaan fasilitas asrama tersebut,” kata Elvian.

Meski terhalang berbagai keterbatasan, sekolah ini tak akan patah arang untuk terus membantu ABK meraih mimpi dan cita-cita. Di masa mendatang, SLBN Lebong akan terus mengembangkan mutu pelayanan untuk menghasilkan peserta didik yang TUNA: terampil dalam berkarya, unggul dalam pelayanan, nyata dalam prestasi, serta (memiliki) akhlak yang mulia.

 

*Artikel ini dimuat di Harian Suara Pembaruan Edisi Senin, 30 Juni 2014 dan diikutsertakan dalam Lomba  Penulisan Jurnalistik Tentang ABK, PK, dan Pensif yang diselenggarakan oleh Dit.PPK-LK Dikdas Kemdikbud*

Satu Tanggapan to “SLBN Lebong, Tak Lelah Menjemput Asa ABK”

Trackbacks/Pingbacks

  1. Yang Tertinggal Dari Tahun Pertemuan   | orkestraksara - 22 Januari 2015

    […] Mulai dari lomba berkicau di Twitter, menulis resensi, mengirimkan cerpen ke majalah, membuat artikel humaniora untuk surat kabar, dan puncaknya adalah terpilih sebagai salah satu pemenang Kisah Inspiratif Kuatnya Kelembutan […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: