Eksplorasi Negeri Sejuta Pelangi: Jelajah Objek Rahasia

28 Mei

Saya bukan tipikal pelancong yang mau mengulang pengalaman bepergian yang sama untuk kedua kalinya. Buat saya itu  seperti inefisiensi besar-besaran. Kenapa harus menuju ke objek yang sama kalau ada petualangan baru menunggu di titik lain?

Tapi prinsip itu langsung buyar ketika sebuah tawaran menarik sampai kepada saya beberapa waktu lalu. Sebuah liburan “gratis” ke Pulau Belitung, tempat yang pernah saya kunjungi dua tahun lalu. Praktis, kesempatan ini merupakan kali kedua saya melakukan Eksplorasi Negeri Sejuta Pelangi.

***

Hari itu (lagi-lagi) saya mengambil penerbangan paling pagi menuju Bandar Udara H A S Hanandjoeddin, Tanjung Pandan. Saya selalu percaya bahwa pemilihan waktu penerbangan yang tepat adalah awal yang baik untuk memulai liburan. Pukul 06.55 WIB saya sudah mendarat di negeri laskar pelangi dan siap memulai eksplorasi kedua di tempat itu. Berhubung beberapa objek sudah pernah saya deskripsikan disini, sekarang saya hanya akan mengulas tempat lain yang tidak kalah mengesankan. Dan yang terpenting, objek-objek ini relatif jarang dikunjungi oleh wisatawan sehingga perjalanan kali ini semakin terasa istimewa.

1. Pantai Teluk Gembira

Perjalanan untuk mencapai tempat ini memakan waktu sekitar 1 jam dengan melewati jalanan yang sepi dan jauh dari permukiman. Bila dibandingkan pantai lain di Belitung Barat, Pantai Teluk Gembira tidak bisa dibilang cukup istimewa. Ketika saya sampai di pantai ini, tidak ada pengunjung lain kecuali rombongan kami. Beberapa spot menarik di tempat itu adalah tumpukan granit yang tidak terlalu tinggi sehingga bisa ditanjaki dengan mudah. Selain itu, ada juga sebuah jembatan dengan barisan perahu nelayan merapat di kanan dan kirinya.

Jembatan di Pantai Teluk Gembira

Tumpukan granit Pantai Teluk Gembira

2. Pantai Peyabong

Letak pantai ini tidak terlalu jauh dari Pantai Teluk Gembira. Salah satu hal yang istimewa dari tempat ini adalah bukit batu yang bisa didaki oleh pengunjung. Bukan hanya satu, melainkan beberapa bukit batu. Uniknya lagi, di pantai ini terdapat sebuah batu yang bentuknya menyerupai kingkong atau gorila sehingga masyarakat setempat menjulukinya batu gorila atau batu kingkong.

Bukit Batu di Pantai Peyabong             Latar Belakang Batu Gorila

3. Gua Rahasia di Pulau Kelayang 

Island hopping atau berlayar menjelajahi pulau-pulau merupakan salah satu aktivitas yang wajib dilakukan di Belitung. Beberapa pulau sudah pernah saya kunjungi pada kesempatan sebelumnya. Semuanya hampir  berjalan sama saja seperti dua tahun lalu. Menyambangi batu-batu granit di Pulau Batu berlayar, mengunjungi Pulau Pasir yang ukurannya tampak menciut, dan mendaki ratusan anak tangga untuk sampai ke puncak mercusuar Pulau Lengkuas. Namun, kali ini ada yang berbeda. Kami menyempatkan diri melakukan snorkling  di dekat Pulau Lengkuas. Puas memandangi alam bawah laut yang asri, kapal kami melaju ke sebuah pulau yang sangat sepi. Dari luar, pulau ini sangat berbeda dengan pulau-pulau lain di kawasan wisata Belitung. Kotor, tidak terawat, dipenuhi semak perdu. Saya pun dibuat bingung oleh pemandu yang segera mengajak kami turun dari kapal.

Dengan enggan, saya meninggalkan kapal tanpa mengenakan alas kaki. Paling hanya foto-foto sebentar, pikir saya waktu itu. Ternyata, pemandu itu terus berjalan ke arah dalam pulau dan menembus semak-semak yang rimbun. Wow, mau kemana ya, ini? Saya mulai ragu. Jarak antara tempat saya berdiri dengan kapal terpaut cukup jauh. Jika saya mengambil alas kaki di kapal, saya harus menanggung risiko ketinggalan rombongan dan menunggu sendirian di bibir pantai. Mau tidak mau saya pun mulai memasuki hutan itu dengan kaki telanjang.

Medan yang kami lalu sebenarnya tidak begitu sulit. Saya pernah trekking ke Pulau Sempu, Jawa Timur dengan jalur yang cukup menguras fisik dan mental. Tapi, perjalanan kali ini menjadi sedikit mendebarkan karena kaki saya polos tidak terlindungi! Sementara hutan ini tampak begitu “kacau”. Ranting tajam dan duri mencuat dimana-mana, semut merah berlarian seolah berlomba menggigiti kaki kami, dan batu yang kasar menjadi alas tumpuan kaki ini.

Setelah berjalan kurang lebih 15 menit, barisan di depan saya tiba-tiba berhenti. Rupanya kami sudah sampai dan inilah dia! Di depan saya terdapat sebuah mulut gua yang dikelilingi air laut. Di hadapannya, terdapat susunan batu besar yang membentuk formasi menakjubkan. Pemandangan itu ditambah lagi dengan fenomena yang sangat luar biasa. Beberapa batu di dalam gua berwarna ungu kemerahan, mungkin karena bereaksi dengan air laut yang menggenang di sekitarnya. Setelah menemukan gua ini, seluruh reseptor nyeri di kaki saya yang tadi tersensitisasi mendadak mati rasa. Perjalanan sulit tadi terbayar lunas setelah sampai pada tujuan ini.

Trekking Menuju Gua Rahasia di Pulau Kelayang Island Hopping

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

4. Pantai Ahok / Pantai Bukit Batu

Begitu mendengar nama tempat ini, secara otomatis saya langsung mengasosiasikannya dengan Wakil Gubernur DKI Jakarta yang berasal dari Pulau Belitung. Benar saja, menurut pemandu wisata, Pantai Bukit Batu memang sangat erat hubungannya dengan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Konon kabarnya, hampir seluruh Pantai Bukit Batu merupakan aset pribadi Beliau. Sesuai namanya, pantai ini memang dikelilingi oleh undakan-undakan batu yang menyerupai bukit. Jarak antara satu tumpukan batu dengan yang lainnya cukup rapat sehingga tidak banyak ruang kosong yang tersisa. Pantai ini cukup terawat mengingat ada beberapa gazebo yang tampak masih baru dan bersih. Jalan dari area parkir menuju pantai dihiasi anak tangga yang masih berjajar rapi.

Pantai Bukit Batu atau Pantai Ahok

 

5. Batu Buyung

Destinasi ini relatif jarang dikunjungi oleh wisatawan yang tengah melancong ke Belitong. Terletak di Batu Hitam, daerah ini masih sangat sepi dan cukup jauh dari pusat kota. Sebenarnya tidak ada yang bisa dikatakan istimewa dari tempat ini, selain sebuah batu besar yang berdiri gagah hanya dengan disangga onggokan batu kecil di bagian dasarnya. Fenomena unik ini dilengkapi dengan pemandangan laut lepas dan hutan mangrove yang terhampar di bagian bawah. Sebelum turun dari mobil dan menuju ke Batu Buyung, ada baiknya menggunakan lotion antinyamuk sebab area ini masih dikelilingi semak rimbun.

Batu Buyung

 

6. Museum Kata Andrea Hirata

Ketika pertama kali berkunjung ke Belitung, saya tidak sempat menyambangi tempat ini. Untungnya kesempatan kedua itu masih ada. Tidak jauh dari lokasi kami menginap di Gantong, museum kata menyuguhkan berbagai karya penulis ternama Indonesia Andrea Hirata. Rumah kecil ini seolah-olah disulap menjadi museum yang mengabadikan portofolio Andrea. Semua buku Laskar Pelangi berikut sekuelnya berbaris rapi dalam sebuah rak kaca di ruang tengah. Tidak hanya buku-buku terbitan Indonesia, dalam rak itu juga tersimpan karya Andrea yang diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa. Poster-poster ukuran besar yang merupakan cukilan film Laskar Pelangi tertempel apik di dinding-dinding ruangan. Di antara semua itu, yang paling menarik perhatian saya adalah kata-kata mutiara gubahan Andrea Hirata yang cukup mencerahkan.

Museum Kata Andrea Hirata

     Writing is travelling to new places

 

 

 

 

 

 

 

 

 

7. Museum dan Rumah Adat Belitung

Di pusat kota Tanjung Pandan, tidak jauh dari Rumah Sakit Umum Daerah Tanjung Pandan, terdapat sebuah museum mengenai adat istiadat masyarakat Belitung. Biaya masuknya sekitar Rp 2.000,00/orang. Museum ini terbilang cukup sederhana bila dibandingkan dengan museum-museum yang pernah saya datangi di Jakarta. Hanya ada beberapa bilik kecil berisi barang-barang yang merepresentasikan pulau ini. Ada beberapa hewan yang diawetkan, miniatur alat penggalian timah, maket lokasi pertambangan timah, hingga keramik-keramik Cina yang ditemukan dalam kapal karam. Uniknya, pada bagian belakang museum ini terdapat kebun binatang satu-satunya di Pulau Belitung. Jangan bayangkan kebun binatang seperti Ragunan apalagi Taman Safari. Kebun binatang itu sangatlah minimalis dengan koleksi hewan yang sangat terbatas variasinya.

Rumah Adat Belitung

Satu Tanggapan to “Eksplorasi Negeri Sejuta Pelangi: Jelajah Objek Rahasia”

Trackbacks/Pingbacks

  1. Yang Tertinggal Dari Tahun Pertemuan   | orkestraksara - 22 Januari 2015

    […] timur Indonesia, saya diberikan kesempatan menyambangi daerah-daerah di Sumatra: Bukittinggi dan Belitung. Oh, dan jangan lupakan Bengkulu, kota yang menjadi tempat transit setiap kali saya menempuh […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: