Perkara Menjadi Tua

23 Apr

Seorang kakek, kira-kira 70 tahun usianya, mengayuh sepeda tua melewati medan yang terjal dan berliku selama kurang lebih 1 jam. Tidak ada sanak saudara yang menemaninya. Tujuan kakek itu hanya satu. Tiba di puskesmas secepat mungkin agar tidak terlambat mengikuti operasi katarak gratis.

Sesampainya di puskesmas, ia harus berdesakan dengan ratusan pasien lain. Mulai dari antre di bagian pendaftaran, bersabar saat pemeriksaan kelengkapan berkas, hingga menunggu giliran skrining awal. Dia tetap sabar sembari terus menyimpan harapan bahwa tak lama lagi kabut yang meliputi penglihatannya akan segera pudar.

Akhirnya tiba giliran kakek itu untuk melakukan pemeriksaan tajam penglihatan. Ternyata ia berhasil membaca Papan Snellen hingga baris ketiga, meskipun kedua lensa matanya sudah diselimuti katarak. Saya tidak tahu harus senang atau sedih. Senang karena katarak kakek tersebut belum parah, tetapi sedih pada saat yang bersamaan karena berarti ia tidak memenuhi kriteria untuk dioperasi.

“Kakek, kataraknya masih tipis. Lihatnya masih bagus, jadi belum perlu dioperasi.” Saya sudah mempersiapkan diri untuk dimaki atau dijejali keluhan panjang lebar. Namun, kakek itu hanya membalas dengan satu kata.

“Alhamdullilah.”

* * *

Cerita tentang kakek itu hanyalah potongan kecil dari pengalaman yang saya dapatkan dari kegiatan operasi katarak gratis beberapa waktu lalu.

Saya mendapatkan banyak hal pada hari itu. Bukan soal teknik operasi atau pengalaman bertemu konsulen dan residen lagi–setelah begitu lama terasing di daerah ini.

Mayoritas pasien operasi kemarin adalah seperti kakek tersebut. Tua, berasal dari tingkat ekonomi bawah, dan sudah mengalami degenerasi pada hampir semua sistem tubuhnya.

Ketika melakukan pemeriksaan visus, kami praktis harus berteriak agar kakek nenek tersebut dapat menjawab pertanyaan. Setelah mendapat jawaban pun, kami harus berusaha keras mengartikan kata-kata mereka–yang bukan hanya sulit dimengerti karena menggunakan bahasa Rejang melainkan juga karena suara mereka begitu ringkih.

Pemeriksaan itu walaupun singkat, tidak berarti mudah. Mereka seringkali tidak mengerti instruksi yang diberikan. Diminta untuk menutup sebelah mata, mereka malah menutup keduanya. Dan masih banyak kejadian unik lain akibat ketidakpahaman mereka.

Saya jadi tersadar. Menjadi tua bukanlah perkara yang mudah. Dengan raga yang semakin menua, hidup tentu jadi serba terbatasi. Tidak bisa melakukan apa-apa secara mandiri. Belum lagi jika satu per satu anggota keluarga tidak lagi menaruh peduli. Menjadi tua itu mengerikan! Saya tidak berani membayangkan jika saya menjadi tua dan sendirian seperti kakek itu.

Tapi kakek itu lantas memberikan pelajaran yang luar biasa. Dia memang tua. Dia mungkin tidak berada. Dia bisa saja ditinggalkan keluarganya. Tapi ia memilih untuk tetap bahagia. Kakek itu masih bisa bersyukur dan tidak mempersoalkan tubuhnya yang kian renta. Baginya, menjadi tua bukanlah perkara besar yang harus ditakuti, melainkan sebuah fase kehidupan yang patut disyukuri.

Menjadi tua dan tidak berdaya, menjadi renta dan tidak berada. Itu adalah suatu kepastian. Tetapi bahagia di sisa usia, itu adalah pilihan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: