Arogansi di Tengah Selebrasi

22 Apr

Ini bukan yang pertama kalinya. Dan saya sudah kepalang jengah dengan fenomena intoleransi semacam ini.

Memang akan selalu ada orang-orang yang nggak mau mengerti dan nggak bisa belajar menghargai apa yang mereka anggap berbeda. Selalu.

Kata-kata itu langsung terpikir secara spontan, begitu membaca kicauan dua orang teman yang cukup mengiritasi. Walaupun singkat, tulisan mereka terkesan menyudutkan hari raya umat yang berbeda kepercayaan dengan mereka. Mereka juga jadi membanding-bandingkannya dengan keistimewaan agama mereka.

Saya bukan manusia dengan nilai religiusitas yang tinggi apalagi Santa tak berdosa–ah, bahkan orang suci pun pernah berbuat salah kan? Maka dari itu, saya tidak bisa tidak nyinyir setelah membaca tulisan teman itu–dan tulisan oknum-oknum lain yang ternyata lebih menyakitkan. Dan sekali lagi, ini bukan yang pertama.

Saya selalu berusaha menahan diri dan memilih diam setiap kali mereka–sebagian orang yang tidak bijak dalam menanggapi perbedaan–“merusak” hari raya umat lain dengan kicauan-kicauan yang memekakkan mata dan hati. Tapi itu dulu, sebelum kekecewaan ini berkulminasi dan bertumbuh menjadi keprihatinan mendalam.

Saya tidak mengerti kenapa beberapa orang suka sekali mengganggu kedamaian kelompok lain yang mereka anggap berbeda. Saya tidak paham kenapa ada orang-orang yang selalu berkoar-koar menghina agama lain tepat pada saat hari raya agama tersebut.

Ibaratnya, elo lagi punya hajat & gak ganggu siapa-siapa, tapi ada aja orang yang misuh2 di belakang & banding-bandingin sama hajatan dia.

Nggak masalah kalo ngerasa hajatan kita yang paling hebat, tapi mbok ya liat momennya dulu. kecuali kl emang (selalu) ingin disengaja sih🙂

Saya rasa ini bukan menyoal agama mana yang paling benar–atau yang umatnya lebih cepat masuk surga. Terlalu berharga jika kita mengaitkan kelakuan orang-orang tersebut dengan perdebatan agama. Saya rasa ini hanyalah masalah individu atau kelompok yang tidak mengenal etika.

Sebenarnya semua sederhana saja. Kalau memang tidak boleh ikut dalam selebrasi, ya tidak ada yang memaksa untuk berpartisipasi juga, kan? Kalau memang tidak diperkenankan mengucapkan, tidak ada yang meminta diberi ucapan juga, kan?

Saya punya banyak teman baik yang berbeda keyakinan. Sikap mereka ketika saya merayakan hari raya sangat bervariasi, tapi semua dalam konteks yang baik. Ada yang dengan frontal mengucapkan, memberi salam, bahkan menghadiahi pelukan tulus. Ada juga yang karena keyakinannya, memilih untuk tidak memberikan ucapan, tapi toh tidak membalas dengan nyinyiran di media sosial.

Saya pribadi selalu beranggapan setiap agama mungkin berbeda. Tapi, perbedaan itu bukan dalam bentuk skala ordinal. Tidak ada yang lebih superior dari yang lainnya. Semua sama dalam hal mengajarkan kebaikan.

Yah, ketika membaca tulisan ini, pasti ada saja orang yang akan skeptis dan memberikan opini bertentangan. Mungkin akan ada yang tidak sepakat bahwa semua agama (paling tidak yang telah diakui) itu mengajarkan kebaikan–dan yang jahat sebenarnya adalah manusianya. Mungkin masih ada yang berpendapat bahwa tidak semua agama sejajar secara nominal.

Terserah saja. Tapi akan lebih baik jika perbedaan tidak ditanggapi dengan arogansi dan fanatisme.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: