Tertipu Endorsement Tash Aw

7 Feb

Pernah merasa begitu tersiksa ketika membaca sebuah buku? Saya baru saja mengalaminya. Saat menyelesaikan baris terakhir “Map of the Invisible World“, saya tidak bisa menahan diri untuk tidak mengatakan “Akhirnya …”. Satu kata itu merumuskan segala kepenatan yang meletup-letup sejak saya membuka halaman pertama buku setebal 554 halaman tersebut.

Expectation is the root of all heartache. Kali ini saya harus setuju dengan Shakespeare. Ketika membeli buku ini, saya memang menaruh harapan yang terlampau besar. Desain pada kedua sisi sampulnya sebenarnya terbilang sederhana, tapi dihiasi dengan barisan-barisan kata yang sangat menjual. Jujur saja, yang membuat buku ini menarik pada awalnya adalah sinopsinya yang singkat tetapi cukup  menjanjikan.

Sebuah kisah memukau tentang cinta yang datang dan pergi. Berlatar belakang Indonesia di “Tahun Kehidupan Yang Berbahaya”.

Saya membayangkan bahwa buku ini akan sama–atau bahkan lebih–dahsyat dari kisah AmbaDi halaman depan, Camilla Gibb, penulis Sweetness in the Belly–yang sejujurnya tidak pernah sekalipun saya ketahui eksistensinya–menulis kalimat promosi ini:

Sebuah gambaran kemarahan dan simpati mendalam dari jiwa-jiwa yang tercerai berai akibat politik pascakolonialisme di Indonesia.

Di sampul belakang buku, kita akan lebih banyak lagi menemukan bait-bait provokatif dari kalangan peraih nobel sastra dan media massa yang bona fide.  Padahal, setelah saya perhatikan, rupanya endorsement tersebut mengarah kepada The Harmony Silk Factory–novel perdana Tash Aw yang digadang-gadang sebagai debut sensasi sastra internasional. Saya merasa tertipu habis-habisan.

Map of the Invisible World

 Gambar diambil dari sini

Entah apa yang salah. Untuk menghibur diri, saya berpikir bahwa mungkin saja buku ini menjadi kehilangan esensinya karena saya membaca versi terjemahan. Pada beberapa bagian, kalimat-kalimat yang mengisi cerita terasa seperti fragmen-fragmen yang terpecah belah. Membingungkan dan tidak berkesinambungan. Belum lagi persoalan salah pengetikan yang bisa ditemukan di banyak tempat. Sang editor (atau penerjemah) sepertinya harus melakukan banyak evaluasi di sana-sini. Tapi, ada satu hal yang patut diacungi jempol dari usaha Nadia Andwiani selaku penerjemah. Ia bersedia mengklarifikasi beberapa hal yang mengganjal dan tidak sesuai dengan kenyataan. Misalnya saja catatan kaki tentang Patung Selamat Datang yang dideskripsikan sebagai patung Pak Tani.

Bicara soal “mala”-deskripsi, Tash Aw memang belum berhasil menggambarkan Indonesia-di-tahun-berbahaya-pascakolonialisme dengan benar, baik secara literer maupun rasional. Sebagai penduduk lokal, saya mengecap berbagai keganjilan pada narasi yang disajikan. Saya tidak tahu apakah Tash Aw memang sengaja mereka kisah ini sebagai entitas karya fiktif yang tidak memiliki tanggung jawab dengan kesahihan sejarah, ataukah ia hanya kurang melakukan riset sehingga cerita ini masih terasa mengkal dan mentah.

Alur cerita berjalan sangat lambat, cenderung membosankan. Saya baru mulai menikmati Adam, Johan, Karl, dan Margaret pada bab 4, tetapi langsung kembali jenuh dengan konsep kombinasi plot yang ditampilkan bergantian setiap 1 bab. Penokohan karakter-karakter yang ada pun belum bisa dibilang sempurna. Semuanya berlalu begitu saja tanpa meninggalkan kekhasan tersendiri.

Ketimbang isi bukunya, saya lebih penasaran dengan motif yang mendasari Tash Aw–yang notabene adalah warga negara Malaysia–membuat karya ini.

Satu Tanggapan to “Tertipu Endorsement Tash Aw”

Trackbacks/Pingbacks

  1. Merestorasi Definisi Pulang Dalam Balutan Sejarah | orkestraksara - 6 Juni 2014

    […] membandingkan dengan gubahan penulis lain yang pernah saya baca (Amba , Gema Sebuah Hati , dan Map of The Invisible World), saya akan mengatakan bahwa Pulang adalah yang terbaik di antara […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: