Puzzle Manusia

25 Jan

Kehidupan itu seperti kotak permainan puzzle dan manusia-manusia adalah setiap kepingannya.

Siang tadi saya dan teman-teman makan di rumah makan Padang langganan kami. Entah kenapa, hari ini semua menu di rumah makan itu terasa lebih pedas dari biasanya. Teman saya yang paling anti-pedas memilih untuk menyudahi makan siangnya alih-alih menghabiskan seporsi ayam gulai tersebut.

Seorang teman lain, menyingkirkan bagian yang pedas dan memakan sisanya. Teman lainnya ada yang berusaha keras menelan makanannya tanpa banyak bicara, tapi dengan muka setengah menderita. Tapi ada juga salah satu teman, yang memiliki ambang batas kepedasan tinggi, terlihat menikmati makanan tersebut tanpa keluhan.

* * *

Belakangan ini saya dihadapkan pada situasi yang membingungkan. Tentang hubungan antarmanusia. Tentang aplikasi pelajaran toleransi yang sempat kita khatami saat sekolah dasar.

Saya punya seorang sahabat, sebut saja Delima. Umur pertemanan kami sudah hampir menginjak 5 tahun dan selama itu saya tidak pernah memiliki intrik dengannya. Beberapa friksi memang pernah terjadi di antara kami, tapi semuanya bisa ditangani dengan baik.

Kami bukan kembar siam dengan sifat  identik. (Bukankah anak kembar pun bisa memiliki sifat yang sangat bertolak belakang?). Tapi semua perbedaan itu tidak pernah sekalipun menjadi kendala dalam persahabatan kami. Tidak ada sifatnya yang terlalu aneh atau menyebalkan di mata saya.

Tapi, akhir-akhir ini saya sering mendengar kabar kurang menyenangkan perihal teman saya ini. Lebih tepatnya, Delima menjadi objek gosip dan fitnah sekelompok orang yang serupa dengan geng pem-bully di sinetron-sinetron remaja. Saya agak bingung sebenarnya. Di usia sedewasa ini, masih ada orang-orang yang mulutnya begitu jahat dalam menilai dan menghakimi orang lain. Saya pikir hal itu hanya terjadi di serial televisi, mengenai remaja labil yang sibuk mencari aktualisasi diri dengan menghina orang lain.

Saya sendiri tidak mengerti kenapa mereka terlihat sebegitu bencinya dengan Delima sampai menjadikannya olokan di media sosial. Tidak hanya sekali, tapi beberapa kali. Saya tidak melihat ada yang salah dengan Delima.

Suatu hari, seseorang bermulut jahat yang juga suka menghina Delima bertanya kepada saya, “Elo kan udah temenan lama sama Delima, nggak merasa dia itu aneh?”

Saya menjawabnya dengan  balik bertanya, “Emangnya elo nggak ngerasa diri lo sendiri aneh? Setiap orang pasti punya keanehannya sendiri. Tinggal gimana kita bisa toleransi sama kenaehan itu!”

Pada saat itu, ingin sekali saya menguliahi dia tentang pentingnya toleransi dan tidak menghakimi.

Menurut saya, belajar toleransi itu seperti cerita makanan pedas di atas. Tergantung bagaimana kita menyikapinya. Ada yang bisa langsung melepeh makanannya sambil mengumpat, ada yang membuang makanan dengan diam-diam, ada yang berusaha bijak dengan memisahkan bagian yang bisa dimakan atau tidak, ada yang berusaha menelannya meskipun sebenarnya tidak sanggup lagi melanjutkannya, ada juga yang sama sekali tidak memiliki masalah dengan kepedasan tersebut karena ambang pedasnya cukup tinggi.

Dalam menghadapi sifat manusia lain, ada orang yang terang-terangan tidak mau menerima perbedaan, ada yang berusaha untuk menerimanya meskipun sebenarnya tidak sesuai dengan kata hatinya, ada pula yang merasa bahwa perbedaan atau keanehan seseorang bukanlah suatu hal yang perlu diperdebatkan.

Mungkin orang-orang itu hanya tidak pernah diajari perihal toleransi dalam kurikulum sekolahnya dulu, atau mereka suka membolos ketika guru mengajar budi pekerti. Oh, atau mereka terlalu bebal untuk mengerti pelajaran moral semacam itu.

Kehidupan itu seperti kotak permainan puzzle dan manusia-manusia adalah setiap kepingannya. Setiap kepingan memiliki bentuk berbeda-beda yang hanya bisa cocok dengan kepingan yang sesuai. Sayangnya, di dunia ini kita tidak selalu bertemu dengan kepingan yang sesuai itu. Kita pasti akan dihadapkan pada kepingan lain dengan pola yang sama sekali bertolak belakang. Tapi, puzzle hanyalah analogi sedangkan kita adalah makhluk hidup yang punya akal dan hati. Kita tidak bisa memaksa terus bertahan dengan pola kepingan yang kita punya. Terkadang kita harus mengikis salah satu sisi yang kita miliki untuk bisa menyesuaikan diri ke dalam kepingan lain. Terkadang, kita harus belajar toleransi dan memaklumi sifat manusia lain. Terkadang, kita harus sadar bahwa kita tidak perlu mengolok-olok seseorang kalau kita sendiri belum sempurna.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: