Blog, Dangdut, dan Fiksi Kilat

5 Jan

Nur menyerah. Dipakainya rambut palsu berwarna cokelat tua, menutupi rambut cepaknya. Dan ketika ia mengenakan gaun merah berkelap-kelip, transformasi itu kian sempurna.     —Orkes Hati Nurjanah

“Ah, kebetulan. Kita sudah dekat. Nasi kucing ini sangat berbeda dibandingkan dengan yang lainnya. Nasi kucing spesial, hanya ada waktu bulan purnama!”—Nasi Kucing

“Wah, pasar ikan kita memang paling lengkap ya sejak nelayan-nelayan meninggalkan pancing dan jala” —Ilegal

Kemarin aku menyelesaikan pekerjaanku. Mahakaryaku. Sebuah karya penghabisan. Dan di sinilah aku, tersenyum menikmati jerih payahku. —Mahakarya

Petikan-petikan kalimat di atas hanyalah bagian kecil dari beberapa fiksi kilat yang ada di Buku Mahakarya: Kumpulan Flash Fiction besutan Ninelights Production.

Semuanya berawal dari pengumuman lomba menulis flash fiction yang mampir ke linimasa twitter saya, pada suatu sore di bulan Juni 2012. Saat itu saya cuma bisa mengernyitkan dahi ketika membaca kata yang terdengar asing itu. Flash fiction? Menulis cerita tapi hanya dibatasi 250 kata? Astaga, ini seni menulis atau mau mengerjai orang? Saya yang terbiasa menulis cerpen—minimal berjumlah 1000 kata—lantas kebingungan sekaligus tertantang untuk berkenalan dengan genre sastra yang satu ini.

Setelah melakukan riset ke berbagai sumber, akhirnya saya berani menjajal kesempatan tersebut. Sialnya, sudah dibatasi 250 kata, temanya ditentukan pula oleh pihak panitia. Dangdut! Buat saya pribadi, tema ini tergolong sulit. Saya tidak begitu familier dengan dangdut. Pengetahuan saya tentang jenis musik tersebut sama dangkalnya seperti saluran air di Jakarta.

Akhirnya, setelah mencari wangsit kesana-kesini, flash fiction pertama saya yang berjudul Orkes Hati Nurjanah dapat diselesaikan. Ajaibnya, eksperimen pertama tersebut berhasil masuk ke dalam 10 besar pemenang lomba Flash Fiction Ninelights! Sebagai hadiahnya, karya saya berhak dibukukan bersama dengan penulis lainnya.

Tidak selamanya hadiah selalu melahirkan kebahagiaan. Hari itu, saya malah menjadi panik luar biasa. Pasalnya, untuk menciptakan proyek antologi flash fiction itu, setiap penulis diwajibkan menyumbang 8 tulisan lagi. Dan lagi-lagi, dengan tema yang sudah ditentukan pula. Tidak tanggung-tanggung, tema yang diajukan oleh Ninelights Production terbilang unik dan sulit. Bayangkan saja, saya harus menulis seputar angkringan, mitos, suling, pasar ikan, warung kopi, dan sebagainya. Proses menulis 8 karya tersebut tidaklah mudah. Selain tema yang sulit dan terbatasnya jumlah kata, saat itu saya sedang dalam masa-masa yang cukup melelahkan. Saya sedang menjalani stase Ilmu Penyakit Dalam yang sudahlah-jangan-ditanya-sibuknya-seperti-apa-mengingatnya-lagi-saja-sudah-membuat-saya-lelah. Selain itu, saya juga tengah dikejar deadline penulisan biografi Memberi Bakti dari Hati: Sebuah Perjalanan Meretas Mimpi. Setelah menyelesaikan 8 fiksi kilat itu dan menyerahkannya ke penerbit, penantian panjang pun dimulai. Proses pra-produksi berlangsung cukup lama karena satu dan lain hal.

Sekitar pertengahan Desember, pihak Ninelights Production akhirnya mengumumkan bahwa buku yang kami nantikan sejak lama telah selesai disusun. Sebenarnya saya bahkan sudah lupa tulisan-tulisan saya yang dimuat di buku itu. Tapi beberapa teaser yang ditampilkan berhasil mengembalikan memori bahwa saya pernah ambil bagian dalam proyek #FFNinelights.

Dan inilah dia! Mahakarya Vol#1: Kumpulan Flash Fiction! Siap untuk dipesan dan dimasukkan ke toko buku online. Buku setebal 162 halaman ini berisi 36 cerita yang ditulis oleh 4 penulis dengan latar berbeda. Menariknya lagi, setiap cerita dilengkapi dengan keindahan visual hasil karya para ilustrator berbakat.

Mahakarya: Kumpulan Flash Fiction

 

Kenapa harus punya Mahakarya Vol#1: Kumpulan Flash Fiction?

Beberapa orang masih bertanya-tanya. “Kenapa gue harus beli buku ini, apa istimewanya?” Pertanyaan itu masih lebih mendingan dibandingkan yang satu ini. “Kenapa gue harus beli buku ini kalo bisa minjem atau dapet gratis dari lo?”. -___-

Saya belajar dari tulisan seorang blogger yang menulis artikel Kekeluargaan yang Salah Kaprah. Di dalam tulisannya itu, beliau berkata begini,

Kami ingin karya kami dihargai oleh orang lain. Dengan cara membacanya. Menikmatinya. Bukan memintanya sebagai barang gratisan.

Yap, pertama, saya sendiri belum memiliki buku tersebut. Jadi, boro-boro mau pinjem atau minta gratisan, gue aja belum tau wujud itu buku. Kedua, seperti kata Romegadungan, kami ingin karya kami dihargai orang lain. Baik dihargai secara konotasi, maupun secara harafiah dengan membayar sejumlah rupiah untuk menyokong biaya produksi.

Kita mungkin akrab dengan buku-buku kumpulan cerita, tapi tidak banyak yang membuat antologi fiksi mini. Terlebih lagi, tema yang diangkat dalam buku ini semuanya diambil dari latar budaya Indonesia. Beberapa cerita mengalir tersurat, beberapa berakhir twist dengan kesan misteri. Meskipun jumlah katanya terbatas, membaca flash fiction justru bisa menciptakan keseruan sendiri. Pembaca bisa menerka-nerka sendiri jalan cerita yang dimaksud oleh penulis. Uniknya lagi, buku ini dibuat dengan format landscape karena memuat ilustrasi-ilustrasi apik dari para pembuatnya. Masih bertanya-tanya kenapa buku ini harus dibeli? Beberapa kalimat dengan tendensi persuasi mungkin tidak akan pernah cukup untuk menjelaskannya. Saya juga tidak paham perihal strategi marketing yang bagus. Tapi tidak ada salahnyamenemukan jawaban dari pertanyaan tersebut di dalam buku ini, kan.🙂

Bagaimana Cara Memiliki Mahakarya Vol#1: Kumpulan Flash Fiction?

Penasaran dengan kolaborasi fiksi dan ilustrasi di Mahakarya Vol #1: Kumpulan Flash Fiction? Kamu bisa langsung pre-order bukunya di sini. Atau bisa juga dengan menghubungi saya via media apapun dan mengirimkan data sebagai berikut:

Nama

Nomorhandphone

 Alamat email

Alamat lengkap tempat pengiriman

Jumlah order

Yuk, pastikan kamu termasuk 100 orang pertama yang beruntung bisa mendapatkan buku ini. Ditunggu ordernya, kakak!😀

Satu Tanggapan to “Blog, Dangdut, dan Fiksi Kilat”

Trackbacks/Pingbacks

  1. Orkes Hati Nurjanah | orkestraksara - 2 Oktober 2014

    […] *Pada akhirnya, FF ini dimuat di di buku Kumpulan Flash Fiction Ninelights: Mahakarya […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: