Dari Sepetak Kubikel

10 Sep

Choose a job you love and you will never have to work a day in your life.

Tulisan ini dilahirkan di dalam sepetak kubikel sempit–yang disesaki tumpukan kertas menggunung, file binders berukuran gemuk, serta mesin telepon yang tak henti menjerit. Well, it’s not the real cubicle actually, not a private workstation which can be decorated like I’ve dreamed of (here). It’s just a huge table surrounded by some hard-wooden-chairs used together with other partners.

Sudah hampir sebulan saya menjalani magang untuk salah satu departemen di sebuah rumah sakit. Tunggu dulu, magang di sini bukan berarti bertindak sebagai dokter–apalagi koas (lagi?). Di kampus kami, mahasiswa tingkat akhir yang sedang menunggu nasib pengumuman kelulusan serta penempatan internship, bisa mengisi waktu dengan magang. Biasanya ada dua pilihan: menjadi asisten penelitian atau mengurus tugas-tugas administratif. Saya jelas-jelas bukan orang yang bersahabat dengan bidang penelitian. Maka saya memilih jenis pekerjaan yang kedua.

Dan di sinilah saya untuk dua bulan ke depan, membantu keberlangsungan sebuah perhelatan medis yang cukup besar. Tugas yang harus saya kerjakan sebenarnya tidak terlalu banyak. Hanya menghubungi pembicara lokal dan internasional, mengumpulkan materi, membuat buku acara, mengurus surat-surat, menjamin transportasi dan akomodasi narasumber asing, dan sebagainya. Oh, oke, saya salah hitung, ternyata banyak! Seharusnya hal ini tidak menjadi masalah besar untuk banci-seksi-acara, yang hampir selalu memilih peran sebagai panitia acara di kegiatan-kegiatan kampus. I love organizing thingy, making itineraries, and so on.

Beberapa kali saya sempat berpikir bahwa menjadi pekerja kerah putih pasti menyenangkan. Mereka cukup mengurus segala pekerjaannya dari balik kubikel, punya jam kerja yang jelas dan teratur setiap harinya, memiliki tugas-tugas administratif yang tidak menyita banyak energi, dan pakaian necisnya akan terjamin rapi sepanjang hari–karena mereka hanya perlu duduk di ruang kerja yang nyaman.

Semua asumsi itu langsung buyar begitu saya melewati 20 hari bersama dengan perkara administrasi ini.

Pertama, saya tidak punya kubikel sungguhan. Kalaupun saya benar-benar bekerja kantoran dan punya kubikel pribadi, toh saya akan kerepotan mengurusnya.

Kedua, jam kerja memang dibuat teratur. Tapi ada saat-saat ketika kita harus rela lembur karena tumpukan deadline atau pulang terlambat karena rapat bersama para bos.  Sampai di rumah, belum tentu bisa langsung leyeh-leyeh. Siapa bilang orang yang sudah bekerja tidak lagi dibebani pekerjaan rumah? Kadang-kadang, delapan jam di kantor rasanya tidak cukup untuk menyelesaikan semua pekerjaan tersebut.

Ketiga, mengerjakan tugas administratif bisa jadi sama melelahkannya dengan menolong belasan partus ketika jaga malam. Dan percayalah, duduk sepanjang hari itu jauh lebih menyiksa ketimbang jadi observer operasi bedah toraks yang memakan waktu beberapa jam. Belum lagi kalau apa yang sudah dikerjakan susah payah ternyata harus diubah begitu ada perintah revisi dari atasan.

Sekarang saya jadi paham mengapa ada orang yang sudah punya posisi mapan dalam kariernya memilih untuk berusaha mandiri.

Bukannya saya mau mengeluh. Sejauh ini semuanya berjalan cukup lancar. Tugas-tugas masih bisa ditangani, meskipun sesekali sempat dibuat kelimpungan. Bos-bos dan rekan kerja saya juga sangat baik. Tapi saya rindu suasana rumah sakit, rindu pasien-pasien yang beraneka rupa, bahkan saya rindu menahan kantuk post-jaga malam.

Dari sepetak kubikel, saya jadi belajar bahwa menjadi pekerja kantoran sama sekali tidak lebih mudah dibandingkan profesi apapun. Bahkan, tidak ada satupun profesi yang lebih hebat dibanding yang lainnya.

Dari sepetak kubikel, saya menyadari suatu hal. Saya tidak lagi ingin menjadi pekerja kerah putih. Jas putih ini ternyata sudah lebih dari cukup.🙂

Gambar diambil dari sini

Satu Tanggapan to “Dari Sepetak Kubikel”

Trackbacks/Pingbacks

  1. Jungkirbalik 2013 | orkestraksara - 31 Desember 2013

    […] timur atau sekedar menginjakkan kaki ke Borneo. Sayangnya cita-cita itu masih harus disimpan. Dari Sepetak Kubikel, saya harus mengurungkan niat untuk melakukan perjalanan jauh. Tapi, tebak! Meskipun saya batal […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: