Realita Kehidupan Dokter

9 Sep

Ada yang berbeda dari aktivitas membaca koran Minggu di pagi hari tadi. Biasanya saya hanya membaca sepintas Rubrik Konsultasi Kesehatan. Tapi hari ini saya bertekur cukup lama di hadapan kolom yang diasuh dr. Samsuridjal Djauzi tersebut.

Prof Samsu, begitu murid-muridnya biasa memanggil Beliau, adalah seorang guru besar bagian Ilmu Penyakit Dalam. Entah kenapa Beliau begitu rendah hati untuk tidak mencantumkan gelar Profesor-nya, sedangkan ada beberapa orang yang begitu megalomaniak akan predikat yang disandangnya.  Umurnya sudah tidak muda lagi, tetapi ia masih mau menyempatkan diri untuk mengajar mahasiswa.

Saya ingat betul, pertemuan pertama kami adalah pada kuliah Modul Empati di tingkat 1. Saat itu Beliau menanamkan kepada kami—bocah-bocah yang baru terjebak di rimba kedokteran—pentingnya memiliki sikap empati sebagai seorang dokter. Pada tingkat 5, tepatnya pada stase Ilmu Penyakit Dalam, beliau kembali memberikan kuliah seputar empati dan profesionalisme. Beliau mengingatkan kami akan idealisme yang mungkin telah terkikis akibat “kerja rodi” selama lima tahun.

Saya pribadi menilai Prof Samsu sebagai seorang guru yang sangat luar biasa. Penampilannya sederhana dan menenangkan. Setiap perkataannya selalu sukses menyuntikkan semangat profesionalisme dalam dosis yang tepat. Termasuk dalam artikel yang ditulisnya hari ini.

Tulisan ini kelewat baik untuk saya simpan sendiri saja. Semoga semakin banyak orang yang bisa membaca pemikiran Beliau ini. Untuk adik-adik, atau para orang tuanya, yang bercita-cita menjadi dokter. Untuk tenaga kesehatan yang bisa jadi telah melupakan nilai pengabdian. Untuk mereka yang selalu mengira bahwa dokter bekerja agar bisa mengembalikan modal kuliah.

Semoga saya tidak berlebihan jika menyebut ini sebagai sebuah tulisan bijaksana dari seorang guru yang sangat bersahaja. Setelah membaca tulisan itu, saya jadi terpikir satu hal:

Tanpa cercaan, fitnah, dan tuntutan disana-sini, profesi ini sudah pelik. Sayangnya, orang-0rang lebih suka memandang kegagalan satu individu, alih-alih berkaca pada kebobrokan sistem. Ini bukan soal arogansi profesi, apalagi mengasihani diri sendiri. Ini perkara belajar menghargai.

 

Ingin Jadi Dokter Spesialis Anak

oleh Dr. Samsuridjal Djauzi

Anak saya perempuan sekarang kelas III SMA. Sejak kecil dia berminat menjadi dokter anak. Saya ingin mendapatkan informasi yang lebih lengkap mengenai kehidupan dokter dewasa ini. Berita akhir-akhir ini tampaknya menunjukkan bahwa kehidupan dokter kurang nyaman. Bahkan, beberapa dokter umum ada yang mengungkapkan nasibnya di media sosial.

Pada intinya, jaminan pendapatan dokter amat kurang dibandingkan profesi lain. Jenjang karier juga lambat dan kesempatan untuk menjadi dokter spesialis juga tidak terbuka lebar. Padahal, di sisi lain kita masih memerlukan banyak dokter umum dan spesialis. Masih banyak puskesmas yang tidak mempunyai dokter umum, dan rumah sakit daerah juga kekurangan tenaga dokter spesialis.

Sudah tentu sebagai ayah saya menginginkan yang terbaik untuk putri saya, Saya ingin mendukung cita-citanya. Namun, saya ingin juga mengetahui realitas kehidupan seorang dokter. Sepintas lalu tampaknya kehidupan dokter di kota besar cukup makmur. Pada umumnya mereka mempunyai mobil dan tinggal di pemukiman yang nyaman. Kenapa mereka masih berkeluh kesah? Terima kasih atas penjelasan dokter.

M di J

Jawab:

Cita-cita putri Anda untuk menjadi dokter spesialis anak patut didukung. Dokter spesialis anak dan tenaga kesehatan lain dapat berperan penting untuk mencegah penyakit dan menjadikan anak Indonesia tumbuh dan berkembang dengan baik.

Untuk masuk fakultas kedokteran, anak anda harus mampu bersaing dengan teman-temannya. Minat untuk masuk FK, terutama FK negeri, masih sangat tinggi sehingga tempat di FK yang tidak seberapa diperebutkan oleh puluhan ribu peserta ujian. Persaingan amat ketat. Jika beruntung mereka yang diterima di fakultas kedokteran harus rajin belajar, mata ajaran cukup banyak, waktu belajar padat, dan sering diadakan ujian.

Sekarang di FK telah diterapkan pendidikan yang mengutamakan mahasiswa (student oriented education). Kuliah tidak sebanyak dulu lagi, tetapi mahasiswa harus banyak membaca dan mencari secara aktif bahan-bahan pendidikan yang diperlukan. Kesempatan untuk berkreasi amat terbatas. Kalau sudah masuk klinik, harus siap bertugas di hari libur dan malam hari.

Pekerjaan dokter tidak hanya terbatas pada hari kerja karena orang dapat jatuh sakit kapan saja. Anda mungkin benar bahwa penampilan dokter di kota besar kelihatan cukup makmur. Namun, jika ditelusuri, mereka memerlukan mobil agar tidak terlambat datang ke rumah sakit. Sebagian besar mobil tersebut adalah mobil cicilan. Hanya mereka yang punya orang tua kaya yang mampu membeli mobil secara kontan. Rumah sebagian besar masih mengontrak. Tempat praktik harus mengontrak. Tempat praktik di tempat yang strategis kontraknya juga mahal.

Penghasilan dokter

Acap kali penghasilan dokter umum tidak mencukupi untuk membayar kontrak tempat praktik sehingga tempat praktik harus ditutup dan dokter harus mencari tempat praktik yang kontraknya lebih murah. Dokter spesialis pada umumnya berpraktik di rumah sakit. Honorarium dokter di RS dipotong RS (biasanya sekitar 15%) dan juga dipotong pajak sekitar 7,5%,. Tidak semua pasien mampu membayar. Sebagian minta potongan honor, bahkan pembebasan honor. Pada umumnya, dokter akan mengabulkan kalau memang pasien tidak mampu.

Dokter yang mau bekerja di daerah, apalagi daerah terpencil, akan mendapat tunjangan khusus yang mencukupi. Namun, tabungan mereka akan terkuras habis jika pulang, misalnya pada hari Lebaran. Biaya transportasi untuk keluarga (dan pembantu) besar sekali. Sebenarnya, meski penghasilan dokter umum di kota besar lebih kecil daripada dokter di daerah terpencil, pada akhirnya penghasilannya akan sama saja. Motivasi dokter umum ke daerah terpencil sebenarnya bukan karena tunjangan, tetapi lebih karena keinginan untuk mengabdi.

Kita merasa gembira karena sekarang Kementerian Kesehatan akan mengutamakan dokter yang bekerja di daerah untuk menjadi spesialis. Dulu, untuk menjadi dokter spesialis, dokter umum harus bekerja dulu di daerah. Namun, kewajiban itu sudah dihilangkan. Kolegium dokter spesialis sebenarnya dapat menghidupkan kembali kebijakan tersebut dengan memberikan bobot penilaian yang lebih bagi dokter umum yang sudah bekerja di daerah dalam seleksi pendidikan dokter spesialis. Dokter pada umumnya dapat hidup cukup, tetapi sulit bagi dokter untuk menjadi kaya raya. Karena itu, hendaknya motivasi menjadi dokter adalah untuk menolong orang lain, bukan untuk menjadi kaya raya.

Kalau dihitung dari segi waktu, untuk menamatkan FK diperlukan waktu lima tahun. Setelah itu, bekerja internship satu tahun sehingga total menjadi enam tahun. Setelah itu bekerja di daerah sekitar tiga tahun. Kemudian masuk pendidikan dokter spesialis sekitar 4 tahun. Jadi untuk menjadi dokter spesialis anak diperlukan waktu 13 tahun sejak masuk FK. Perubahan lain yang terasa sekarang ini pendidikan spesialis dianggap merupakan pendidikan formal dalam naungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Akibatnya peserta didik harus membayar uang sekolah (SPP) yang cukup besar. Sementara di luar negeri, pendidikan spesialis merupakan pendidikan profesi sehingga dalam masa pendidikan peserta tidak membayar, tetapi sebaliknya digaji karena mereka telah bekerja melayani orang sakit. Pendidikan kedokteran memang telah berubah. Pilihan karier bagi remaja juga kian beragam. Namun kita menyambut keinginan remaja yang ingin menjadi dokter umum ataupun dokter spesialis karena jumlah tenaga dokter umum dan spesialis kita memang masih kurang.

*Artikel ditulis ulang dari Harian Kompas edisi Minggu, 8 September 2013.

3 Tanggapan to “Realita Kehidupan Dokter”

  1. anonim 13 Agustus 2015 pada 5:53 pm #

    Mbk mau brtanya, sy siswi kelas 3 sma yang kebetulan juga bercita-cita menjadi dokter anak. cita-cita sy ini didasarkan dari keinginan kuat sy untuk mendirikan suatu panti asuhan dewasa nanti. Perkiraan sy, profesi ini akan menunjang dan mencukupi sarana prasarana yang dibutuhkan nantinya dalam membangun panti. Tetapi, membaca ulasan diatas, sy ragu. Mungkin dengan menjadi dokter, sy bisa memenuhi kebutuhan sy, tapi apakah menjamin sy bisa membuat panti yang notabene memerlukan modal yang besar? adakah saran dan tanggapan mbak yang kiranya bisa membantu sy menghadapi kebingungan saya? terimakasih

    • cinthyayuanita 24 November 2015 pada 2:34 am #

      Hai Intan, cita-cita kamu mulia sekali. Aku seneng banget bacanya. Masih ada anak muda seperti kamu yang punya niat baik setinggi itu. Kalau tentang menjamin atau tidak, aku nggak bisa menjawab. Tapi, aku selalu percaya, setiap niat baik pasti akan dipertemukan dengan jalan yang baik. Yang perlu diingat adalah perjalanan menjadi dokter itu memang cukup panjang. Tidak sulit asalkan kamu mau berusaha dan benar-benar menyukai bidang ini. Jadi, mungkin ada baiknya sebelum memutuskan untuk mengambil jalan sebagai dokter, kamu pikirkan benar-benar passion kamu. Apakah kamu mau jadi dokter karena memang suka atau hanya untuk menunjang impian kamu yang lainnya. Kalau jawabannya adalah yang kedua, mungkin kamu bisa lihat-lihat alternatif jurusan lain yang memang lebih menjanjikan. Semangat, ya! Semoga sukses.🙂

Trackbacks/Pingbacks

  1. Enak, Ya, Jadi Dokter (?) | orkestraksara - 24 November 2015

    […] “Ya, nggaklah! Nggak semua dokter digaji kayak gitu. Malah di beberapa rumah sakit, ada dokter yang cuma dibayar 2 juta sebulan, padahal rumah sakit besar. Kadang-kadang kalo jaga di klinik, ada dokter yang cuma dibayar 1500 per pasien.” Mulut saya spontan tidak berhenti berkisah tentang realita kehidupan dokter di Indonesia. […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: