Jempolmu, Harimaumu

8 Sep

Kita sering sekali mendengar kalimat ini:

Tuhan menciptakan satu mulut saja agar kita bisa membatasi diri untuk mengeluarkan kata-kata yang menyakiti.

Agaknya kalimat di atas perlu direvisi. Seiring perkembangan teknologi komunikasi yang kian pesat (halah, kok kayak kalimat pembuka skripsi, ya), bukan hanya mulut yang ternyata bisa melukai. Kedua ibu jari ini ternyata bisa bertransformasi menjadi sembilu yang mampu mengiris-iris hati.

Mari kita menggali memori sejenak. Dalam 24 jam, seberapa sering kita meletakkan kedua ibu jari di atas layar smartphone? Kita hanya membutuhkan dua ibu jari untuk mengecek email, membuka jejaring sosial (baik milik sendiri atau target stalking), dan mengetik pesan di berbagai fasilitas messenger. Dalam proses scrolling up scrolling down itu, tidak jarang jempol kita ini terpeleset. Kita seringkali tergoda untuk mengumpat atau memberikan komentar nyinyir di linimasa. Kita juga bukannya tidak pernah adu argumen dengan orang lain melalui messenger. Hampir pasti kita pernah melakukan keduanya.

Kemarin, saya baru merasakan bahwa dua buah ibu jari bisa menimbulkan efek yang begitu tragis. Mereka bisa menghakimi, membuat stigma, dan pada akhirnya menyisakan luka. Selama ini saya hanya memahami fungsi jempol sebagai simbolisasi makna “baik” (dengan mengangkatnya ke atas) atau “buruk” (dengan menurunkan ke bawah). Tapi rupanya saat ini jempol bisa menjadi prasarana komunikasi yang jitu. Mereka bisa berkata-kata dengan begitu vokal untuk menyuarakan isi hati pemiliknya. Kalau sang pemilik cukup bijak, jempol akan menuliskan hal yang baik-baik. Tapi kalau pemiliknya sulit mengontrol emosi, jempol tidak akan sungkan menyindir, mengkritik, dan melontarkan kata-kata yang pedasnya mencapai level 10–seolah yang berkata seperti itu adalah santo santa tak berdosa.

Dari kejadian itu saya belajar untuk mulai berhati-hati menggunakan kedua jempol ini. Sama seperti mulut yang harus dijaga, kini kita punya tugas baru. Menjaga agar jempol-jempol ini tidak mengetik pesan emosional yang menyakitkan pembacanya. Harusnya hal ini tidak lebih sulit dari menjaga mulut. Refleks untuk berkata-kata jauh lebih cepat ketimbang refleks untuk mengetik. Jadi sebenarnya kita punya lebih banyak waktu untuk berpikir sebelum “bicara”, sebelum menuliskan kata-kata yang menyakiti.

Yah, kembali lagi ke pepatah di atas. Mungkin ada satu kalimat yang lebih relevan di era smartphone ini.

Tuhan menciptakan sepasang telunjuk, jari tengah, jari manis, dan kelingking–dan hanya sepasang jempol–supaya kita bisa lebih banyak mengerjakan hal-hal bermanfaat, ketimbang menggulirkan layar smartphone yang kemudian berujung pada komentar nyinyir atau kalimat menghakimi.

Don’t abuse your thumbs by saying unkind things.

be careful with your words

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: