Amba: Berburu Kenangan di Buru

1 Agu

Amba: Sebuah Novel   

    •  Judul: Amba: Sebuah Novel
    • Penulis: Laksmi Pamuntjak
    • Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
    • Genre: Roman Sejarah
    • Tebal: 496 halaman
    • Tahun Terbit: 2012
    • ISBN: 978-979-22-8879-7
    • Harga: Rp. 69.000,-

Apa yang terlintas di benak orang ketika mendengar kata “Buru”? Aku rasanya tahu. Penjaga bersenjata. Orang-orang buas. Mesin pembunuh dengan kepala kosong dan hati batu.–Bhisma

Selama ini Pulau Buru dikenal memiliki citra gelap. Sebuah tempat pengasingan yang muram dan gersang dari gairah kehidupan. Dalam novel Amba, Laksmi Pamuntjak mengamini sekaligus mematahkan citra tersebut. Dengan kepiawaian bertutur yang sangat brilian, Laksmi menggambarkan Buru secara begitu mendetail. Mulai dari topografi pulau yang dinamis, arsitektur Tefaat (Tempat Pemanfaatan, sebutan bagi permukiman para tahanan politik) yang faktual, hingga lakon para tapol yang terasa riil.

Amba, tidak seperti buku-buku berlatar Pulau Buru lainnya, tidak melulu mengisahkan kepahitan Orde Baru. Di tengah gejolak politik yang hebat saat itu, ada kisah cinta yang sempat meriap. Adalah Amba, seorang gadis dari sebuah dusun di Kadipura, yang sejak kecil telah menggariskan idealismenya sendiri. Ia tidak pernah mau menjadi seperti perempuan konservatif pada umumnya: merasa cukup dengan pendidikan sekedarnya, menikah di usia (terlampau) muda, menjadi mesin pencetak bayi, kemudian berakhir sebagai tukang masak di dapur. Meskipun mendapat tentangan dari ibunya, Amba nekad meneruskan studi ke jurusan sastra Universitas Gadjah Mada (UGM).

Kekerasan hatinya juga berlaku untuk perkara asmara. Ia menerima pertunangan yang dirancang orang tuanya, tetapi tidak pernah memberikan seluruh hatinya untuk sang lelaki. Salwa Munir, nama laki-laki itu, pada akhirnya harus menerima kenyataan bahwa Amba tidak pernah mencintai dirinya. Tapi Salwa tidak pernah membenci Amba, bahkan setelah puluhan tahun berlalu. Meski harus menelan pengkhianatan mantan tunangannya, ia tetap berusaha memperjuangkan kebahagiaan wanita itu.

Amba justru menemukan cinta pada sebuah tempat yang terbilang tak berpengharapan. Ketika tengah menjalani profesi sebagai penerjemah di Kediri, hatinya tidak sengaja tertambat pada Bhisma Rashad. Dokter lulusan Leipzig itu tidak perlu waktu lama untuk meluluhkan Amba. Lucunya, Amba sontak bertransformasi dari sosok yang keras hati menjadi seorang pecandu lelaki. Ia bahkan rela menyerahkan segala miliknya untuk laki-laki yang padahal baru dikenalnya kurang dari seminggu. Pada bagian ini, Amba bisa dibilang mewakili sifat perempuan kebanyakan: malu tapi mau (jika “hipokrit” terlalu sarkastik untuk mendefinisikan sikap tersebut).

Seiring pergolakan politik yang kian keras, kisah Amba dan Bhisma juga menghadapi riak yang hebat. Mereka terpisah pada peristiwa Gerakan September 30 (Gestapu) di Jogjakarta. Bhisma menghilang, meninggalkan Amba dan calon bayi mereka. Untungnya, Amba yang cantik dan selalu dapat memikat lelaki–bukankah selalu begitu penokohan pemeran utama wanita pada sebuah roman?–menemukan Adalhard yang bersedia menanggung hidup (sekaligus aibnya).

Namun, hidup Amba tidak pernah tenang. Jiwa perempuan itu selalu berontak untuk mencari separuh belahannya. Empat puluh tahun kemudian, ia mendapati surat elektronik misterius yang mengabarkan bekas keberadaan Bhisma di Pulau Buru. Bersama seorang mantan tapol, Amba melakukan perjalanan ke Buru untuk mengumpulkan serpihan-serpihan kenangan yang ditinggalkan oleh Bhisma. Dibantu oleh Samuel, pria yang juga menyimpan kenangan tentang Buru, mereka akhirnya menemukan rekam jejak Bhisma. Berpuluh lembar surat dari Bhisma yang dipersembahkan untuk Amba tidak hanya menceritakan kerinduan yang tak tersampaikan, tetapi juga mendeskripsikan Pulau Buru dari kaca mata “orang dalam”. Amba pun akhirnya tahu mengapa kekasihnya tidak pernah kembali.

Kontemplasi dan Permainan Diksi

Satu kata yang segera terlontar dari benak saya begitu menyelesaikan buku ini adalah: akhirnya. Sempat frustasi pada sepuluh halaman pertama, tetapi akhirnya saya toh tergiring untuk menikmatinya hingga penghabisan. Buku setebal 496 halaman ini bukan hanya besar dari segi ukuran, melainkan juga dari nilai-nilai yang disajikan. Membaca Amba versi novel ini seolah mengantarkan kita pada epos Amba dalam Mahabharata. Seperti lazimnya kisah-kisah Mahabharata, setiap cerita pasti mengandung makna filosofis tersendiri.

Laksmi Pamuntjak menyisipkan asupan pemikiran yang logis sekaligus kontemplatif pada beberapa bagian buku. Ia berhasil mendaur ulang batas logika dengan menuliskan pandangan sederhana secara cerdas dan tak tertebak. Misalnya saja sebuah sindirian yang menohok kekisruhan politik di masa itu, tetapi masih relevan untuk diucapkan pada saat ini:

Beberapa tahun kemudian Amba tahu, politik memang bukan tentang apa yang benar. Politik adalah bagaimana kita bisa salah dengan benar.

Kecerdasan Laksmi dalam berkata-kata disokong pula dengan keterampilannya memainkan diksi secara memukau. Tidak ada kalimat yang luput dari puitisasi, bahkan untuk mendeskripsikan satu tokoh yang buruk rupa sekalipun. Kekayaan dalam mengolah frasa semacam ini tidak jamak dijumpai pada novel-novel masa kini. Tengoklah salah satu adikarya aksara di bawah ini:

Aneh, memang: selalu ada yang membuat terlena dan tak berdaya pada hujan, pada rintik dan aromanya, pada bunyi dan melankolinya, pada caranya yang pelan sekaligus brutal dalam memetik kenangan yang tak diinginkan.

Kematangan riset yang dilakukan juga membuahkan hasil yang sangat baik. Novel fiktif ini sukses menyajikan fakta sejarah dengan cara yang apik. Hal lain yang juga menjadi daya tarik novel ini adalah pengemasannya yang unik. Alih-alih menggunakan kata “Bab” untuk memisahkan bagian-bagian dalam novel, Laksmi memilih untuk menuliskannya sebagai “Buku”. Di setiap permulaan “Buku”, terdapat kutipan cerita dari Kitab Udayoga Parva yang sedikit banyak menjadi prolog bagi fiksi di baliknya. Alur maju mundur—yakni antara tahun 1965 dan 2006–menjadi candu yang menimbulkan rasa penasaran untuk terus menyantap buku ini. Belum lagi sensasi mencelos yang muncul ketika “Buku” tentang Bhisma hanya diisi oleh tanda silang merah besar, menandakan bahwa sosoknya masih menjadi misteri yang tidak bisa diceritakan.

Sayangnya, pada beberapa bagian terdapat kemubaziran yang seharusnya bisa dihindari. Ada dialog-dialog yang terlalu panjang padahal tidak menampilkan esensi dan korelasi dengan inti cerita. Bagian yang menceritakan masa kecil Amba serta kehidupan Bhisma di Leipzig juga terasa melelahkan. Bahkan ada satu bagian yang sepertinya tidak akan berpengaruh jika dihapuskan dari buku ini, yakni masa kecil Ibunda Amba. Jika mau, buku ini bisa saja dipangkas menjadi lebih ringkas.

Kekurangan lain yang cukup disayangkan adalah surat-surat dari Bhisma untuk Amba yang tampak seperti monolog menjemukan. Lupakan tentang bahasa romantis yang merepresentasikan kerinduan seorang lelaki yang terasing di pulau terpencil kepada kekasihnya. Kumpulan surat Bhisma lebih banyak bercerita tentang Buru dan orang-orang di dalamnya. Tentang kegelisahan-kegelisahannya yang sebenarnya kurang kuat untuk meledakkan emosi pembaca.

Laksmi Pamuntjak mungkin juga lupa bahwa tidak semua orang memiliki pengetahuan sejarah yang mumpuni. Saya pribadi kesulitan untuk menerjemahkan berbagai singkatan yang ada di buku itu. Ada baiknya jika penulis menambahkan catatan kaki untuk setiap singkatan yang digunakan.

Secara umum, tema besar yang digarap buku ini sebenarnya cukup sederhana. Tentang konsep cinta segitiga, kasih yang tak sampai, dan pencarian cinta di masa lalu. Namun, proses mengumpulkan remah-remah kenangan ini menjadi menarik sebab dikemas dengan latar yang tidak biasa. Amba telah berhasil mengemas roman cinta dan elegi sejarah ke dalam satu ranah sastra yang indah.

2 Tanggapan to “Amba: Berburu Kenangan di Buru”

Trackbacks/Pingbacks

  1. Tertipu Endorsement Tash Aw | orkestraksara - 7 Februari 2014

    […] bahwa buku ini akan sama–atau bahkan lebih–dahsyat dari kisah Amba. Di halaman depan, Camilla Gibb, penulis Sweetness in the Belly–yang […]

  2. Merestorasi Definisi Pulang Dalam Balutan Sejarah | orkestraksara - 6 Juni 2014

    […] serupa.  Jika diminta untuk membandingkan dengan gubahan penulis lain yang pernah saya baca (Amba , Gema Sebuah Hati , dan Map of The Invisible World), saya akan mengatakan bahwa Pulang adalah […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: