Meracik Profil Dengan Cita Rasa Jurnalisme

20 Jun

Opening Slide

“Kepedulian terhadap kehidupan orang lain adalah motor penggerak bagi wartawan dalam menjalankan profesinya,” Ashadi Siregar.

PROLOG

pro·fil n 1 pandangan dr samping (tt wajah orang); 2 lukisan (gambar) orang dr samping; sketsa biografis; 3 penampang (tanah, gunung, dsb); 4 grafik atau ikhtisar yg memberikan fakta tentang hal-hal khusus

Ketika mencari arti kata “profil” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), saya cukup terkejut karena tidak mendapat makna yang saya harapkan. Selama ini masyarakat awam kerap mendefinisikan profil sebagai tulisan mengenai tokoh terkenal. Ajaibnya, ternyata KBBI tidak memuat “tulisan”, “artikel”, dan sebagainya dalam memaknai “profil”.

Terlepas dari maknanya secara leksikal, sejauh ini saya meyakini bahwa profil merupakan potret seseorang—atau sesuatu—yang disajikan dalam rangkaian kata. Dalam seni fotografi, sebuah potret bisa diklaim berkualitas apabila terlihat sempurna luar-dalam. Tidak hanya menampilkan keindahan pada sisi luar, gambar yang baik harus bisa melukiskan emosi yang tersimpan. Hal senada juga berlaku bagi tulisan profil. Profil yang baik harus mampu menggambarkan suatu subjek tulisan hingga sisi terdalamnya.

Profil merupakan manifestasi kebebasan berekspresi yang ditawarkan oleh jurnalisme. Menulis profil memungkinkan kita untuk berkreasi tanpa terpaku pada pakem-pakem jurnalistik. Meskipun begitu, karena masih berada dalam ranah jurnalistik, penulisan profil tetap memiliki pedoman umum yang harus ditaati.

PROFIL, SEBUAH FRAGMEN FEATURE

Profil kerap disebut sebagai feature kepribadian. Berhubung berasal dari akar yang sama, artikel profil memiliki sifat-sifat yang menyerupai feature. Sebuah profil hendaknya bersifat ringan, menghibur, sekaligus mendidik pembaca. Tema besar yang ditonjolkan biasanya seputar elemen-elemen manusiawi (human interest). Oleh karena itu, penulis profil dituntut memiliki sensitivitas yang tinggi dalam memaknai suatu peristiwa. Beberapa komponen yang tidak boleh dilewatkan dalam penulisan profil, antara lain:

  • Kreatif

Berbeda dengan straight news yang sangat terikat pada kaidah jurnalistik, profil memberikan keluwesan berkreasi bagi penulisnya. Penulis dapat mengubah berita menjadi cerita. Penulis memiliki kebebasan dalam memilih tema dan sudut pandang.

  • Informatif

Meskipun terdapat fleksibilitas dalam mengolah tulisan, penulis tetap berkewajiban menyuguhkan informasi yang padat, berisi, dan faktual.

  • Menghibur

Salah satu fungsi profil—dan tulisan feature lainnya—adalah untuk memberikan kesenangan kepada pembaca. Cara itu dapat dicapai dengan memasukkan unsur kesastraan, seperti diksi dan majas.

  • Awet

Keunggulan feature adalah tidak terikat pada aktualisasi. Topik yang diangkat tidak harus hangat sehingga tulisan itu tidak memiliki tanggal kadaluarsa. Profil akan tetap menarik meskipun dibaca bertahun-tahun kemudian.

Tidak ada teknik khusus dalam menulis profil. Namun berbeda dengan artikel jurnalistik lain, konsep piramida terbalik seringkali diabaikan. Piramida terbalik adalah metode penyusunan artikel dengan meletakkan materi penting di awal tulisan. Semakin ke bawah, isi tulisan semakin tidak penting dan dapat dengan mudah dibuang oleh editor. Hal tersebut kurang sesuai dengan tulisan profil yang memiliki ciri khas tersendiri di setiap bagiannya, mulai dari judul hingga penutup.

Elemen terpenting profil adalah deskripsi dan narasi. Penulis harus piawai melukiskan, bukan mengatakan. Dengan begitu, setiap kata yang ditulisnya akan terasa alami dan bernyawa. Penulis profil dituntut untuk menghidupkan imajinasi pembaca.

TAHAPAN MEMBUAT PROFIL

1.      Narasumber yang menarik dan newsworthy

Samakan frekuensi Anda dengan pembaca. Narasumber yang menarik dan layak diberitakan bagi Anda belum tentu menarik minat pembaca. Pertajam radar Anda, cari subjek berita yang antimainstream dan fresh. Jangan membuang waktu untuk menulis sosok yang memiliki prestasi lazim atau sudah pernah diberitakan oleh media lain. Pilihlah subjek yang memiliki nilai-nilai inspiratif yang bermanfaat bagi para pembaca. Pastikan narasumber terpilih setuju untuk dibuatkan profil dan dipublikasikan. Tentukan pula apakah sosok tersebut cukup mampu laksana untuk dibuatkan profilnya.

2.      Komponen-komponen fundamental

Tentukan hal-hal dasar seperti tujuan penulisan, panjang tulisan, dan target pembaca. Hal-hal tersebut dapat menjadi dasar acuan untuk melangkah ke tahap selanjutnya. Setelah itu tentukan tema dan sudut pandang. Kedua hal itu ibarat pemandu agar penulis tidak hilang arah selama proses penulisan artikel. Buat timeline yang jelas dan alokasikan waktu lebih banyak untuk kegiatan wawancara.

3.      Sumber data dan penggalian informasi

–    Research = Stalking = Kepo

Setelah mendapat narasumber yang sesuai, gali informasi mengenai orang tersebut dari berbagai sumber. Selain mencari informasi mengenai data dasar, temukan hal-hal menarik yang bisa digali lebih jauh untuk materi profil.

Prawawancara

o Buat pertanyaan dan susun berdasarkan kategori atau urutan.

o Buat janji untuk bertemu. Usahakan pada waktu luang, di tempat yang nyaman, atau  tempat yang merepresentasikan sosok tersebut.

o Persiapkan perkakas wawancara yang memadai

Saat wawancara

o Buat narasumber nyaman, bangun rapport, gali lebih jauh sisi menarik narasumber, jalin keakraban

o Fleksibel terhadap daftar pertanyaan, jangan menutup diri terhadap pertanyaan-pertanyaan spontan, buat wawancara mengalir.

o Ajukan pertanyaan terbuka. Apabila narasumber sulit menjawab, jangan menyerah. Terus pancing hingga mereka bercerita.

o Imbangi kemampuan bicara dengan kemampuan mendengar dan observasi. Perhatikan secara detail narasumber maupun lingkungan sekitarnya.

o Buat catatan meskipun ada alat perekam. Khususnya bagian-bagian yang masih kurang dimengerti atau nama-nama, agar dapat langsung direview dan dikoreksi.

–    Post-wawancara

o Setelah selesai, ucapkan terima kasih. Komunikasikan timeline kerja, rencana publikasi, dan kontak narasumber untuk konfirmasi artikel.

o Refleksikan hasil wawancara dengan target dan tujuan awal. Apakah sudah sesuai dengan tema yang hendak dibawakan? Atau malah menemukan sudut pandang lain yang lebih menarik.

4.      Mengolah data menjadi tulisan

Seperti halnya tulisan jurnalistik lain, profil harus tetap mengandung unsur what, who, why, when, where, dan how (5W1H). Tetapi, penulis memiliki kelonggaran dalam memilih gaya bahasa, diksi, bahkan konsep penulisan. Selain itu, profil biasanya menekankan pada sudut pandang orang ketiga. Berikut ini adalah elemen-elemen yang harus tercantum dalam sebuah profil:

–    Judul

Penulis dapat mengkreasikan judul secara bebas. Tidak perlu lugas dan tersurat seperti straight news, tidak perlu juga sesuai kaidah Subjek Predikat Objek (SPO). Judul profil dibuat seatraktif mungkin, tetapi hindari kesan hiperbolis. Penulis boleh saja memasukkan unsur puitis yang menggugah hati pembaca. Judul yang baik bersifat komunikatif, mudah dipahami, jelas, ringkas, padat, sederhana, dan logis.

–    Lead / teras wacana

Merupakan mata pancing yang bisa mengaitkan pembaca untuk terus menikmati tulisan kita. Jadi, lead harus dibuat semenarik mungkin tanpa meninggalkan tema yang hendak diangkat. Idealnya, lead terdiri dari 30 kata atau 3 baris. Terdapat beberapa macam lead, yaitu:

o Lead ringkasan

o Lead bercerita

o Lead deskriptif

o Lead kutipan

o Lead pertanyaan

o Lead menuding

o Lead penggoda

o Lead nyentrik

o Lead gabungan

–    Isi

Buatlah kerangka tulisan agar cerita tidak menyimpang. Gunakan pemanis alami sesuai takaran. Pemanis dalam hal ini berupa deskripsi dengan porsi yang tepat, tidak kurang tidak lebih. Tidak juga menjejalkan semua informasi yang didapat dari berbagai sumber.

–    Penutup

o Penutup ringkasan

Merangkum cerita kembali ke lead atau intro awal

o Penutup penyengat

Membuat pembaca kaget karena sama sekali tidak menduga akhir yang sebenarnya

o Penutup klimaks

Biasanya untuk cerita yang disusun secara kronologis sehingga tercipta sebuah penyelesaian yang jelas. Di masa lalu, ada tren menggunakan kata “Semoga” untuk menutup sebuah artikel.

o Penutup tanpa penyelesaian

Cerita berakhir mengambang, agar pembaca merenung dan mengambil kesimpulan sendiri. Atau memang masalah yang ditulis masih menggantung.

 

AGAR PROFIL LEBIH MENGGIGIT

  • Jangan Terjebak CV

Semua berita adalah informasi, tetapi tidak semua informasi adalah berita. Bertemu dengan sosok yang mendulang banyak prestasi tentu sangat menarik. Ada banyak hal yang bisa dijadikan bahan tulisan kita. Tetapi, ketelitian dalam memilah data tetap harus diperhatikan. Keinginan untuk menjejalkan semua informasi dapat membuat artikel kita berakhir sebagai resume CV belaka.

  • Maksimalkan seluruh panca indera

Good profiles-and all good journalism stories-show, instead of telling. Agar profil yang kita tulis menjadi lebih hidup, manfaatkan panca indra kita secara maksimal. Pada saat melakukan wawancara, pusatkan seluruh indra kepada subjek tulisan. Berikan perhatian-perhatian pada setiap detail. Mulai dari penampilan, mimik, emosi, mood, aroma tubuh, bahkan hal-hal kecil di sekelilingnya.

  • Petikan, Bumbu Paling Esensial

Petikan atau penggunaan kalimat langsung adalah serupa nyawa dalam tulisan profil. Dengan adanya kalimat dari narasumber, profil akan terasa lebih hidup. Selain memberikan variasi dalam penyajian tulisan, petikan juga menjadi bukti semi-otentik bahwa reporter memang melakukan wawancara. Hasil wawancara yang dimuat tidak hanya dari subjek tulisan, tetapi juga dari narasumber lain. Reporter dapat mewawancarai keluarga, kolega, bahkan musuh sang subjek untuk menambah data. Seorang reporter memiliki hak sekaligus kewajiban untuk mempercantik kalimat langsung yang hendak ditulisnya, tanpa mengubah makna aslinya.

  • Ciptakan Atmosfer yang Tepat

Perhatikan keselarasan emosi dalam menggambarkan subjek. Penyajian profil seorang penderita kanker tentu berbeda dengan stand-up comedian. Bermain dengan diksi atau gaya bahasa memang disarankan, asalkan tidak merusak nuansa yang hendak dibangun. Jangan pula menghancurkan tulisan dengan menyuguhkan opini-opini pribadi. Biarkan fakta yang bercerita.

  • Hindari Tulisan yang Ambisius

Karena terlalu bersemangat atau mengidolakan narasumber, reporter seringkali terkesan ambisius dalam menuliskan artikelnya. Mereka bisa terlena dengan diksi-diksi ekstrem atau gaya bahasa yang terlampau hiperbola. Hal ini sebaiknya dihindari karena akan membuat tulisan menjadi terlalu sesak dan melelahkan untuk dibaca. Selain itu, profil tersebut bisa juga disalahartikan mengandung konflik kepentingan.

EPILOG

Kepiawaian menulis bukanlah perihal bakat atau anugerah yang datang tiba-tiba. Menulis adalah tentang komitmen untuk terus berlatih secara konsisten. Frekuensi—dipadu dengan ketepatan eksekusi—adalah resep sederhana untuk meramu tulisan yang bercita rasa. Menulis itu mudah. Memberikan nyawa ke dalam setiap aksara, itu yang susah. Menulis dan teruslah menulis!

 

Referensi:

  1. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Diunduh dari kamusbahasaindonesia.org.
  2. Journalism Education. How to write a profile story. Diunduh dari cubreporters.org.
  3. Bossert C. Guide for writing journalism profiles. Diunduh dari public.coe.edu.
  4. Sainuddin. Teknik wawancara. Diunduh dari mercubuana.ac.id.

An investigation may take six months. A quick interview, profile, a day,”—Diane Sawyer

"Journalists"

Satu Tanggapan to “Meracik Profil Dengan Cita Rasa Jurnalisme”

  1. Deo Mahardika 21 Mei 2015 pada 10:54 pm #

    Halo cinthya,
    Ulasan tentang profil dan jurus2 wawancaranya ngebantu banget untuk proses TA saya, sip makasih ya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: