Kita Belum Benar-Benar Melawan Lupa

12 Mei

Hari ini, 12 Mei, tepat lima belas tahun yang lalu.

Adakah yang ingat apa yang terjadi di hari itu? Sebuah sejarah baru ditorehkan. “Tragedi Mei 98”, begitu kita dulu menyebutnya. Peristiwa Mei seharusnya bukan hanya meninggalkan sejarah, melainkan juga pekerjaan rumah untuk pemerintah. Yah, seharusnya. Kalau mereka ingat.

Entah memori saya yang keliru mengingat hari, atau memang 12 Mei kali ini yang tidak seperti biasanya? Media cetak hari ini tidak ada yang mengungkit sedikitpun mengenai hal ini. Siaran berita televisi yang dulu ramai meliput dan mengusut, kini malah sibuk mempromosikan single “Demi Tuhan” yang mulai terdengar memuakkan. Teman-teman di jejaring sosial yang biasanya hobi mengkritisi isu poleksusbudhankam teranyar tidak ada yang menyinggung “Mei”, “reformasi”, atau apalah yang berhubungan dengan lima belas tahun silam.

Saya sendiri juga tidak tahu banyak perihal Mei ’98. Ketika itu saya hanya bocah 8 tahun yang tiba-tiba dijemput pulang dari sekolah. Dari siaran berita televisi, saya melihat api dan asap membubung di gedung-gedung tinggi. Semua orang mendadak menjadi artist grafiti, mencoret-coret tembok rumah mereka dengan diksi yang tidak saya pahami–seolah memantrai bangunan tersebut agar bebas dari manusia-manusia yang penuh amarah.

Naluri bocah saya ketika itu hanya merasa senang karena sekolah diliburkan sampai 1 minggu lamanya. Tapi, saya ingat betul. Suatu hari wali kelas saya menelpon ke rumah dan memberitahu bahwa sekolah masih akan diliburkan hingga beberapa hari ke depan. Saat itu saya spontan melonjak senang dan menjerit, “Hore!”. Ketika itu juga, cubitan keras dari ayah mendarat di lengan saya. Dari situ saya sadar, ini bukanlah hal yang patut dirayakan. Saya tidak akan lupa bagaimana saat itu orang-orang jadi sangat sensitif mengenai warna kulit atau bentuk mata. Saya juga tidak pernah bisa lupa pemandangan ajaib ketika kubah gedung DPR/MPR diduduki kakak-kakak mahasiswa dengan jaket berbagai warna. Dan saya akan selalu ingat, semenjak itu ayah saya selalu meletakkan batangan besi atau kayu di balik pintu rumah. Untuk berjaga-jaga, katanya.

Semoga bapak ibu yang berkuasa di atas sana bisa segera sembuh dari penyakit lupa yang mereka idap. Kita memang masih harus berjuang keras untuk melawan lupa. Ah, saya pun jadi ikut tertular lupa! Sebenarnya ini bukan kondisi patologis ya, kita ini kan memang tinggal di Negara Gertak Sambal, Republik Demensia.

Selamat ulang tahun ke-15, Reformasi. Ternyata kita memang belum pernah benar-benar menang melawan lupa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: