Rise of The Guardians: Belajar Memaknai Diri

25 Des

I’ve been around for a long time. My name is Jack Frost. I love being on my own. No rules. No responsibility. This is good as it is sound. — Jack Frost

Di tengah-tengah kehebohan berbagai film box office internasional dan domestik–sebut saja The Hobbit, 5 cm, dan Habibie Ainun–yang sedang ramai-ramainya dibicarakan jutaan umat manusia, saya justru mau membahas satu buah film. Film ini bukan film baru, sudah rilis beberapa waktu lalu. Film ini juga bukan termasuk film yang sangat fenomenal, barangkali tidak termasuk dalam kategori film-yang-paling-ingin-ditonton. Ratingnya di IMDb saja hanya 7,5/10.

Rise of The Guardians

Tapi buat saya pribadi, film ini boleh diberikan nilai 9,9. Saya bukan pengamat film, saya juga tidak ahli dalam meresensi sebuah karya sinema. Saya cuma memberikan opini sebagai penonton mahasiswa yang sedang haus hiburan pascaujian di modul yang sangat melelahkan jiwa raga #berlebihan.

Jadi sebenarnya saya juga tidak sengaja memilih film ini. Awalnya bahkan saya tidak pernah mendengar ada film berjudul Rise of The Guardians. Maklum, 9 minggu terkurung dalam sangkar modul Penyakit Dalam yang sukses membuat anhedonia. Lalu kakak saya menyarankan untuk menonton film animasi ini karena film yang sebenarnya kami tuju sudah hampir full. “Ini film katanya ditonton sampe 10 tahun ke depan nggak bakalan basi,” begitu iming-iming kakak saya. Saya sih sama sekali tidak masalah. Sampai kapanpun saya akan tetap cinta film animasi!😀

Dan ternyata pilihan kakak saya sungguh tepat! Film ini tidak hanya menyuguhkan animasi yang indah, melainkan juga tema yang sangat luar biasa. Negeri dongeng, petulangan, imajinasi, Santa Claus, Easter Bunny, dan salju! Itu baru segelintir hal yang membuat saya jatuh cinta dengan film ini–selain sang pemeran utama, Jack Frost, yang tampan. Iya, saya tahu ini film kartun, aktornya pun cuma animasi. But I do have a tendency to love the cartoon characters, even Diego the saber-toothed tiger in Ice Age movies!

Terlepas dari semua yang saya racaukan di atas, film yang menyatukan beberapa dongeng anak-anak ini, menyimpan sebuah pesan moral yang luar biasa dalam. Dengan mengetengahkan Jack Frost sebagai tokoh sentral, film ini memberikan inspirasi tentang pencarian jati diri. Tsaah..berat ya? Tapi tenang, pengemasan pesan moral itu tidak seberat kicauan saya di halaman ini. Alur cerita dibuat dinamis sehingga 97 menit yang terbuang sama sekali tidak terasa membosankan. Setiap adegan memiliki keistimewaan tersendiri.

Cerita dimulai dengan adegan Jack Frost, salah satu ikon dongeng anak, yang tidak mengenal siapa dirinya sebenarnya. Di tengah segala ketidaktahuannya itu, ia terus menjalani hidupnya dengan bermodalkan sebuah tongkat sakti yang bisa menciptakan es. Sayangnya, meskipun memiliki peran penting untuk membuat musim dingin, sosok Jack Frost seringkali dilupakan. Orang-orang mendapat kebahagiaan dari bermain bola salju, membuat manusia salju, berseluncur di atas es, tetapi tidak pernah tahu bahwa Jack Frost yang membuat semua itu. Berbeda sekali dengan sosok Santa Claus, Easter Bunny, Tooth Fairy, dan Sandman yang dikenal sebagai The Guardians dan disayangi oleh anak-anak. Tidak ada anak yang percaya dengan Jack Frost sehingga ia pun tidak terlihat. Dalam dunia dongeng, jika anak-anak mulai tidak mempercayai satu tokoh, maka tokoh itu tidak akan terlihat dan akhirnya lenyap. Jack Frost bukan siapa-siapa. Dia tidak berarti apa-apa.

Sampai suatu hari, terjadi masalah di negeri dongeng. Pitch, tokoh jahat yang ingin menebar ketakutan dan mimpi buruk bagi anak-anak, muncul untuk melenyapkan The Guardians. Lalu Jack Frost  yang bukan siapa-siapa itu terpilih untuk menjadi Guardian baru yang bisa menyelamatkan anak-anak dan Guardians lain. Awalnya tidak ada yang mempercayainya–bahkan dirinya sendiri, tetapi pada akhirnya Jack Frost bisa melaksanakan tugas tersebut. From zero to hero, ungkapan ini benar-benar tepat. Jack Frost pun akhirnya paham bahwa ia memiliki keistimewaan sehingga ia terpilih menjadi the guardian. Setiap orang pasti memiliki keistimewaan, memiliki pusat dari dirinya.

Film ini benar-benar mengajarkan banyak hal, setidaknya buat saya pribadi. Saya jadi belajar untuk berani memaknai diri. Seperti percakapan Jack dan North di bawah ini:

Jack Frost: Why me?

North: You have something special inside.

 

Everyone has something special inside! And so do you!🙂

*intinya: mumpung film ini masih ada di pasaran, nggak ada salahnya coba ditonton😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: