Risalah Sembilan Sebelas

15 Nov

Hujan dan pekatnya malam berkonspirasi meretaskan rindu yang tak kunjung melayu

Mengoyak cerita yang pernah kita renda berdua, dengan sebuah prolog sederhana

Bukan dengan puisi

Aku tahu, bahkan kau pun tak mampu memilah diksi

Kau hanya melarik sebait janji yang katanya akan kau genapi

Bulan sembilan, kau datang bersama bunga yang katamu tak akan mati. Katamu aku adalah pelangi, pewarna merah hati. Pada rumpun bunga abadi, kau menyisipkan secarik asa. Aku boleh membukanya ketika kita tiba di penanjakan. Kita akan menitinya bersama, katamu dengan binar di sudut mata.

Bertahun berlalu

Semua masih begitu lekat

Seperti sembilu yang menelusuk terlampau lamat

Mungkin terlalu banyak cerita untuk kita bagi berdua, tapi kita terlalu lelah untuk melumatnya. Pada suatu senja, kita terduduk bisu. Aku mencuri lihat dalam remang. Di pelupukmu tak ada lagi pelangi. Pelangi sudah mati, mungkin sejak tempo hari. Samar, aku melihat siluet mentari jingga pada kedua  manik matamu.

Mereka bilang aku sesat akal

Menyimpan cerita yang berakhir tanpa pernah terselesaikan

Menggenggam bongkahan ingatan yang bahkan tak lagi kau indahkan

Mengenang perpisahan yang tak sempat terkatakan

Bulan sebelas. Aku menandai almanak. Hari yang sama, angka yang sama. Bukan sekedar kebetulan, aku rasa. Rumpun bunga abadi dan sebilah janji di bulan kesembilan masih menari-nari.

Tidak banyak yang tahu

Aku hidup berkalang rindu

Hari itu pelangi seutuhnya pudar. Kau tidak mengizinkan bening hujan merintik supaya pelangi tak lagi terbit. Kau hanya ingin matahari. Katamu kau tak lagi perlu pulasan warna-warni. Kau hanya ingin semburat jingga, hanya ingin matahari senja.

Waktuku masih terhenti di sini, merekam setiap memorabilia rasa

Jika di sana engkau jenuh, berlarilah padaku

Di sini ada begitu banyak cadangan rindu, yang bisa aku titipkan untuk sementara waktu

11.11.12

2 Tanggapan to “Risalah Sembilan Sebelas”

  1. adhiforlansumitro 20 November 2012 pada 2:37 pm #

    keren

  2. samuel arman 24 November 2012 pada 3:40 am #

    puisinya keren..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: