Indonesia Masih Punya Pahlawan!

28 Okt

Apabila di dalam diri seseorang masih ada rasa malu dan takut untuk berbuat suatu kebaikan, maka jaminan bagi orang tersebut adalah tidak akan bertemunya ia dengan kemajuan selangkah pun — Ir. Soekarno.

Malam ini saya sukses dibuat sesak akibat buncahan rasa haru yang melingkupi dada. Genangan air bening hampir saja tumpah dari pelupuk kalau saya tak pintar-pintar menahannya. Meskipun termasuk dalam skuad manusia melankolia, rekor menangis saya hanya 3 kali dalam setahun. Itu pun angka maksimal. Aneh, ya? Di saat teman-teman wanita saya bisa menangis sekali sehari, bahkan hanya karena menonton drama korea, menangis merupakan hal langka dalam hidup saya. Tapi percayalah, biar bagaimanapun saya tetap perempuan tulen.😀

Sumber haru biru malam ini adalah ajang penghargaan untuk para “pahlawan Indonesia”. Bukan tanpa alasan saya membubuhi tanda kutip di antara kedua kata tersebut. Mereka yang mendapat trofi memang bukan orang-orang yang berjuang demi kemerdekaan negara, seperti definisi “pahlawan” yang selama ini kita kenal. Lebih dari itu, mereka adalah manusia-manusia biasa yang memberikan dampak luar biasa bagi bangsa.

Awalnya saya agak skeptis dengan acara yang dihelat oleh stasiun televisi swasta ternama dan perusahaan jamu kelas kakap ini. Bisa jadi ini hanyalah akal-akalan pembesar perusahaan dalam rangka meningkatkan rating dan omset semata. Yang lebih parah lagi, bisa saja acara ini mengandung muatan politik terselubung mengingat direktur stasiun tv tersebut adalah petinggi partai politik. Saya tidak tahu apa visi, misi, ataupun motivasi orang-orang itu. Saya tidak peduli. Perhatian saya terburu tercurah pada sosok-sosok mulia yang menghiasi panggung malam itu.

***

Meri Tabuni. Nenek berusia 80 tahun ini merupakan seorang mantri di Pegunungan Jayawijaya, Papua. Sudah hampir 50 tahun ia mengabdikan dirinya di bidang kesehatan. Demi memberikan pelayanan kesehatan, Meri harus menempuh 2 jam perjalanan dengan berjalan kaki. Meskipun tidak pernah mengenyam pendidikan keperawatan secara formal, ia piawai melakukan berbagai tindakan medis. Mulai dari mengukur tekanan darah, memberikan obat, hingga menolong persalinan. Dari pengabdiannya ini, Meri tidak pernah mendapatkan gaji apalagi meminta bayaran dari pasiennya.

Syamsudin. Ketika naik ke atas panggung, ia tampil perlente dengan setelan tuksedo mengilap. Siapa mengira kalau pria asal Banjarmasin, Kalimantan Selatan ini hanyalah pengayuh becak dengan pendapatan Rp 20.000-25.000,00 per hari. Meskipun begitu, ia tekun mengumpulkan nafkahnya guna membeli pupuk dan bibit tanaman. Sosok yang memiliki kepedulian tinggi terhadap lingkungan ini merupakan pelopor penghijauan di kota Banjarmasin. “Bayangkan, satu pohon bisa menyediakan oksigen untuk 7 manusia,” tutur pria 43 tahun ini.

Indrawati Sanbow. Sudah lima tahun ibu tiga anak ini menekuni profesi sebagai guru bantu di Sekolah Daun Pegunungan Galawise, Sulawesi. Demi menyelamatkan warga setempat dari keterbelakangan, ia rela menempuh perjalanan berpuluh-puluh kilometer dari tempat tinggalnya di Palu. Setiap harinya, Indrawati diantar oleh suaminya ke desa terdekat untuk kemudian berjalan kaki sejauh 10 kilometer dengan melewati medan yang terjal. Honor yang minimal dan seringkali terlambat tidak pernah menyurutkan niatnya untuk mencerdaskan anak-anak Pegunungan Galawise.

Noverius H Nggili. Pria yang akrab dipanggil Frits ini merupakan pelopor perbaikan peternakan di Kupang, Nusa Tenggara Timur. Lulusan sarjana peternakan ini sekaligus merupakan penggila otomotif dan pendiri geng motor Imut (Aliansi Masyarakat Peduli Ternak). Ia telah banyak membagikan ilmunya kepada masyarakat Kupang mengenai teknologi peternakan yang ramah lingkungan.

Mardiana Maya Satriani. Sudah hampir 30 tahun Kak Lung, begitu Mardiana akrab disapa, menjadi seorang aktivis perempuan di Singkawang, Kalimantan Barat. Pekerjaannya tidaklah mudah karena berhubungan dengan wanita tunasusila, anak terlantar, dan korban perdagangan manusia. Meskipun penuh risiko, Kak Lung tetap setia menjalankan misi kemanusiaan ini.

Ni Nyoman Suparni. Perempuan asal Karangasem, Bali ini merupakan seorang aktivis anak dan perempuan. Ia begitu gigih menyerukan pembelaan terhadap pelanggaran hak-hak anak dan perempuan yang terjadi di tempat asalnya. Demi melakoni panggilan hidupnya ini, ia tidak segan berurusan dengan aparat.

Kaleb Tandamusu. “Petugas Tai” begitulah sebagian warga Sulawesi Tengah memanggil pria paruh baya ini. Pekerjaannya memang mengumpulkan kotoran manusia dari rumah ke rumah. Tanpa gentar, pria asal Poso ini mengabdikan diri sebagai pencegah wabah Schistosomiasis yang dapat menimbulkan kematian.

M Kalend Osen. Mantan guru SD ini menciptakan sebuah daerah bernama Kampung Inggris di Kediri, Jawa Timur. Berawal dari mengajarkan bahasa Inggris kepada segelintir warga, ia kini memiliki 100 tempat kursus bahasa di seluruh penjuru kampung. Tidak hanya menyebarkan bahasa asing, ia juga turut menjalankan roda perekonomian desa. Sejak menjamurnya kursus bahasa Inggris, warga setempat pun memeroleh penghasilan tambahan dengan membuka kos-kosan atau warung internet.

Putri Herlina. Meskipun terlahir tanpa kedua lengan, gadis 24 tahun ini tidak pernah mengeluh. Dengan keterbatasannya itu ia masih bisa menjadi perawat Panti Asuhan Sayap Ibu di Sleman, Jogjakarta. Putri bisa melakukan berbagai aktivitas dengan optimal di tengah ketidaksempurnaannya. Semangat juangnya menjadi motivasi tersendiri bagi anak-anak asuhnya.

Matheus Antonius Krivo. Berkat dirinya, kini petani di Soe, Nusa Tenggara Timur tidak perlu khawatir ketika musim kemarau datang. Sarjana filsafat yang akrab dipanggil Pak Makriv ini sukses memberdayakan petani untuk menghadapi masalah pangan yang sering melanda desa mereka.

***

Cinthya Yuanita, 22 tahun.

Seketika saya merasa malu, tertohok, dan mencelos begitu menyaksikan acara tersebut. Tanpa perlu berhadapan dengan cermin, saya sudah bisa berkaca secara otomatis. Saya, seorang mahasiswa kedokteran tingkat akhir di sebuah perguruan tinggi negeri (yang katanya) nomor satu di Indonesia, belum melakukan apapun untuk bangsa ini.

Jangankan memberikan sumbangsih untuk negara, dalam kehidupan sehari-hari saja saya masih banyak cacatnya. Saya kerap mengeluh ketika harus berjalan dari bangsal menuju poliklinik, padahal jaraknya bahkan tidak sampai 1 kilometer dan medan yang dilalui tentu sangat mulus. Seringkali saya yang punya fisik normal ini menunda-nunda untuk melakukan follow up pasien dengan alasan: malas gerak.

Saya selalu berkoar-koar tentang minimalisasi polusi atau penghematan energi. Tapi, saya bahkan tak pernah lagi menyiram pohon di halaman rumah sejak berusia 6 tahun. Saya masih ingat betul, waktu tingkat 1 saya pernah melakukan penelitian parasitologi dengan mengumpulkan tinja-tinja anak SD. Ketika itu saya sampai setengah mati menghindar dari spesimen itu. Saya, si calon dokter umum ini, yang seharusnya menjadi garda terdepan kesehatan bangsa, kerap lalai memberikan edukasi yang baik kepada pasien.

Saya selalu ingin PTT. Demi mengabdi dan membalas jasa negara atas 5 tahun pendidikan bersubsidi yang diberikan kepada saya, begitu pikir saya. Tapi toh saya langsung ketar-ketir begitu mendengar informasi perihal internship di luar Jawa dengan gaji per bulan 1,2 juta saja.

Tadinya saya berpikir untuk menunggu. Menunggu menjadi orang yang sukses dulu, baru bisa membuat perubahan yang bermakna. Paling tidak, ketika sudah mendapat gelar barulah kita bisa menciptakan sebuah pembaharuan.

Kesepuluh orang itu kemudian merombak total pola pikir saya. Tidak perlu menjadi orang besar untuk menciptakan sesuatu yang besar. Perubahan bisa dimulai dari sekitar kita, dari diri kita. Saya tidak bermimpi menyandang predikat pahlawan atau mendapat trofi emas. Saya hanya ingin  hidup saya bisa menjadi manfaat bagi orang lain. Semoga!

3 Tanggapan to “Indonesia Masih Punya Pahlawan!”

  1. samuel arman 27 November 2012 pada 7:04 am #

    They are the real heroes..and this is a really good article..and you are a really great writer..:) *4 thumbs up*

  2. Hendra Kwik 3 Oktober 2014 pada 9:42 am #

    Good one, Cin😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: