Laki-Laki di Balik Setir dan Helm itu Banci

6 Okt

Begitu membaca judul di atas, beberapa dari kalian, laki-laki, pasti mengernyitkan dahi. Beberapa lainnya mungkin langsung sibuk merutuki. Dan sebagian sisanya, bisa jadi tak segan memaki atau ingin mengajak berkelahi.

Sebelum benar-benar dimaki atau disumpahi, saya minta maaf terlebih dahulu kepada abang, mas, akang, bapak, om, kakek, opa, eyang, pokoknya semua kaum testosteronian. Sebelum murka, bacalah tulisan ini sampai habis lalu pikirkan apakah tulisan ini memang didekasikan untuk Anda atau bukan. Peace, ya, Bang, damai loh ya, nggak ada maksud nyari ribut kok 😀

Ide tulisan ini sebenarnya sudah lama memenuhi isi kepala saya dan semakin meluap-luap ketika tengah berada di jalan raya. Tapi, selalu urung saya rampungkan dan hanya berakhir di kotak penyimpanan karena takut dituduh sebagai feminis gila yang memprovokasi perang gender. Hiperbolis dramatis, ya? Hehee..

Semua ini bermula dari satu ruas jalan dan satu batang lampu lalu lintas. Saya adalah pengguna angkutan umum sekaligus pejalan kaki sejati. Hampir setiap hari, saya menggantungkan hidup saya kepada moda transportasi bernama angkot atau bis kota. Saya bukan nona besar yang bisa disupiri setiap detik kemanapun saya suka. Saya juga bukan cewek tangguh yang bisa bawa mobil keliling kota. Bukan apa-apa, tapi saya sih emang nggak kuat kalo harus keliling kota sambil angkat-angkat mobil kayak gitu. Berat, Jendral! Yah, intinya saya hanya menggunakan kendaraan pribadi pada saat hari-hari tertentu, dalam keadaan-keadaan tertentu.

Setiap harinya saya begitu akrab dengan asap knalpot dan lengkingan klakson, sejak pagi hingga malam hari. Kira-kira begini ilustrasinya. Pagi hari, saya memulai petualangan di rimba lalu lintas ibukota ini dengan berjalan kaki dari rumah ke tempat menunggu angkutan umum. Tempat tinggal saya yang berada di bilangan timur Jakarta ini dulunya merupakan lokasi yang asri, tenang, dan nyaman. Dulu, kendaraan pribadi belum banyak beredar di daerah ini, hanya ada satu dua mobil yang melintas dalam selang waktu satu jam. Motor? Hampir bisa dihitung jari. Saya bisa berjalan kaki sesuka hati di jalan yang lengang, bahkan kalau mau dan tidak malu, saya bisa koprol sambil bilang wow!

Kondisi saat ini berbanding terbalik dengan waktu itu. Meskipun hari masih pagi, mobil-mobil sudah mulai memadati jalanan kompleks. Motor? Masih bisa dihitung jari, kok. Tapi, jari-jari tangan dan kaki satu tim sepak bola! Saya pun harus berjalan dengan ekstra hati-hati kalau mau tiba di tujuan dengan selamat. Walaupun sudah melipir sedekat apapun ke tepi jalan, risiko terserempet motor itu tetap sangat besar. Motor-motor itu, pengendaranya, seolah menderita retinopati kronik sehingga tidak bisa membedakan pejalan kaki dengan tiang listrik. Belum lagi kalau saya harus melewati simpul kemacetan yang semrawut, elastisitas dan fleksibilitas tubuh saya sangat diuji untuk melewati halang rintang berupa barisan motor tak beraturan itu.

Itu baru rintangan pertama. Begitu hendak menyeberang jalan, saya kembali dihadapkan dalam uji adrenalin sekaligus tes kesabaran tingkat wahid. Dan saya rasa, untuk adegan yang ini saya agak sulit menjelaskannya secara formal.

Gini yah, gue nggak paham, mereka itu katarak atau apa, mereka itu nggak pernah diajarin atau apa. Tapi, gue nggak pernah ngeliat kendaraan-kendaraan itu, khususnya motor-motor %&*@#$^*%# itu, berhenti di belakang garis stop. Mas, bang, om, (atau nona, jika ada), gue nggak pernah les nyetir, gue nggak pernah bikin SIM atau tes mengemudi, tapi gue tau ada marka jalan yang namanya garis stop. Itu loh ya, garis putih lurus sebelum zebra cross. Tau kan, tau dong? Tapi, pada kenyataannya, mereka nggak pernah berhenti di situ. Lebih-lebih, dengan nggak sopannya mereka ngambil lahan pejalan kaki. Iya, mereka berenti di zebra cross, bahkan lebih maju ke depan. Lah, terus aku kudu piye, tweeps? Gue harus nyebrang di mana? Di atas jok motor lo? Di atas kap mobil lo?

Itu masih mending ya. Beberapa dari mas mas yang caem-caem itu, bahkan nggak mau berenti walau jelas-jelas itu lampu lalu lintas warnanya lagi merah merona. Mereka tetep aja gitu jalanin motornya (dan mobilnya), kenceng pula, hampir nyerempet pula, tanpa rasa berdosa pula! Kalopun mereka berenti pas lampu merah, itu tangan kayaknya udah gatel ya. Mereka main-mainin gas seolah-olah ada di sirkuit MotoGP. Situ okeh, bang?!! Dan, pas mau jalan, yang diliat bukan lampu merah di jalurnya dong, tapi lampu merah di sisi jalan yang lain. Harusnya kan lo jalan kalo lampu di depan lo warnanya ijo kan ya, ini mereka jalan pas lampu di sisi lain merah. Padahal udah jelas-jelas sengaja dibikin jeda antara lampu merah sama lampu ijo supaya nggak macet, eh ini malah ditantangin. Belum lagi kalo gue lagi tenang-tenang jalan di trotoar, eh tetiba aja gitu ada abang-abang dan motornya lewat di sebelah gue. Dan kalo gue pelototin, kayaknya lebih galakan dia ya. Ibu-ibu yang mau menopause aja keknya nggak sejudes itu juga. Gue sampe mikir ya, emang ada peraturan pemerintah daerah baru yang bilang kalo trotoar sekarang area pengendara sepeda motor? Rasanya tuh pingin banget bawa bambu runcing setiap kali jalan kaki atau nyebrang, supaya kalo ada pengendara motor atau mobil yang nggak tahu adat kaya gitu bisa langsung gue getok seketika. Kadang, kalo udah kesel banget dan udah nggak tahu malu, sering banget abang-abang songong itu gue teriakin pas nyebrang. Astaga, nambahin dosa banget kan jadi pejalan kaki di Jakarta itu.

Pahit, ya. Tapi, ya itu, kenyataan yang harus saya jalani setiap harinya. Kondisi itu berlaku juga pada sore atau malam hari ketika saya hendak pulang ke rumah, bahkan bisa lebih parah. Pengemudi-pengemudi kendaraan bermotor itu bisa lebih liar di sore dan malam hari. Sedih sekali rasanya ketika hak kita, sebagai pejalan kaki bukan hanya disepelekan, tapi sudah diserempet, ditabrak, dan digilas semena-mena oleh orang-orang egois yang lebih memilih naik kendaraan pribadi ketimbang bersama-sama mengurai kemacetan dan memperbaiki lingkungan dengan menggunakan angkutan umum. Iya, angkutan umum kita memang memprihatinkan. Tapi, berkacalah, kalian membuatnya semakin berantakan alih-alih memperbaikinya.

Yah, bukan hak saya juga untuk melarang orang-orang yang lebih suka menggunakan kendaraan pribadi. Tapi, saya pun sebagai pejalan kaki punya hak yang sudah sepatutnya dipenuhi! Meskipun terkadang pejalan kaki juga mulai semaunya sendiri, menyebrang tanpa mengindahkan lampu lalu lintas. Pejalan kaki yang kayak gitu-gitu juga minta digetok juga, tuh! Saya pribadi, mencoba seketat mungkin mematuhi rambu. Kalau belum waktunya jalan, ya mbok sabar aja toh. Bukan cuma lo doang yang pingin cepet-cepet sampe tujuan, gue juga udah telat kali ini ke kampus, tapi yaudah sih tungguin aja dulu. Kalo lo jalan sekarang, lo jadi bikin macet! Kalo lo nggak suka diganggu, jangan gangguin hidup orang juga! Sulit ya, hidup sebagai orang yang pinginnya selalu ada win-win solution seperti ini.

Terlepas dari semua unek-unek sarkastik  di atas, saya kembali menekankan judul yang saya buat. Kenapa harus merujuk laki-laki? Kenapa harus menumbalkan laki-laki atas kemacetan ibukota? Karena kenyataannya begitu🙂

Dari sekian banyak kejadian tidak mengenakkan yang saya alami seperti di atas, 99,9% pelakunya adalah laki-laki. Mereka seolah tidak peduli dengan orang lain, bahkan kaum wanita (yang katanya) harus dilindungi. Kalau saya sih masih mending ya, masih muda dan (untungnya) cukup gesit berkilah dari motor dan mobil serabutan itu. Tapi, bagaimana kalau yang ada di posisi saya itu seorang nenek ringkih? Mereka tetap tidak peduli. Kejadian semacam itu beberapa kali terlihat di depan mata saya. Kok ya begitu amat ya jadi cowok. Kalaupun nggak tahu aturan, ya tahu etika lah ya. Kalau yang saya tahu, yang namanya laki-laki itu didominasi oleh logika ketimbang hati. Idealnya, mereka bisa mikir dong ya. Kalau ada pejalan kaki yang menyebrang ya dihormati, bukannya malah tancap gas padahal lampu juga masih berpendar merah. Saya jadi berpikir ulang, jangan-jangan semua laki-laki yang di atas itu bukan laki-laki ya.

Entah kenapa, saya jauh lebih menghargai laki-laki yang memilih naik angkutan umum ketimbang berleha-leha di dalam mobil yang dingin dan wangi atau motor yang bisa digas macam Ducati. Itu baru laki!

3 Tanggapan to “Laki-Laki di Balik Setir dan Helm itu Banci”

  1. gigi 29 Oktober 2012 pada 11:03 am #

    racauanmu dan kekesalan yang tertulis, entah kenapa terasa manis..🙂
    terima kasih sudah mewarnai hari..

    -cowok bermotor matic yang selalu berhenti di belakang marka sambil nyanyi2 bak rockstar

    • cinthyayuanita 29 Oktober 2012 pada 12:07 pm #

      nah, kota ini perlu lebih banyak cowok bermotor matic yang selalu berhenti di belakang marka sambil nyanyi2 bak rockstar! :))

  2. kentutmambo 20 September 2013 pada 10:09 am #

    Mba Cin, untaian kata dalam setiap kalimat yang Mba Cin ketik-kan dalam artikel ini sungguh sangat indah dan menggugah, saya memang bukan orang Jakarta tapi membaca ilustrasi di atas saya bisa membayangkan bagaimana sumpek dan semrawut nya tata lalu lintas Ibukota kita, bagaimana begitu besar nya perjuangan para pejalan kaki untuk menempuh tujuan yang ingin dicapainya dan sudah bisa di ibaratkan seperti perjalanan mendaki gunung, perlu mental dan fisik yang oke untuk bisa sampai di atas puncak, dan kayanya saya jatuh cinta dengan setiap tulisan Mba Cin, dalam artikel ini saya sangat suka dengan kalimat misteri ini “elastisitas dan fleksibilitas tubuh saya sangat diuji untuk melewati halang rintang berupa barisan motor tak beraturan itu”, apakah Mba Cin sudah memakan buah iblis (gomu-gomu) seperti yang di makan Monkey D. Luffy ?.

    Salam hangat dari Pria yang memakai tas ransel dan mengidolakan Mba Cin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: