Terapi Tawa Dengan Komedi Tunggal ala Badjee (dr. Muhammad Fauzi Saleh)

29 Sep

“Untuk menyembuhkan orang, (cara) yang paling gampang adalah dengan membuat orang tersebut tertawa,”

Kalimat tersebut menjadi intro penampilan Badjee malam itu di sebuah stasiun televisi swasta. Tak lama setelahnya, riuh tawa penonton membahana menyusul lelucon yang dilemparkan pria keturunan India tersebut. Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, Badjee alias dr. Muhammad Fauzi Saleh sukses menstimulasi endorfin penonton melalui suntikan beat-beat segar yang dilontarkannya.

Di atas panggung, sosok Fauzi memang jauh dari kesan dokter yang identik dengan jas putih atau lingkaran stetoskop di leher. Tanpa properti berlebih, ia bertransformasi menjadi Badjee, seorang pelaku stand-up comedy yang kian hari kian tersohor.

Komedi tunggal bukanlah barang baru bagi Fauzi. Dokter lulusan Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) ini telah menggeluti bidang tersebut sejak tahun lalu. Berangkat dari kegemarannya menciptakan lelucon, ia pun berinisiatif mengikuti kompetisi Stand Up Comedy Indonesia (SUCI) yang dihelat oleh salah satu stasiun televisi swasta. Meskipun pengalaman melawak tunggalnya terbilang masih minim, Fauzi berhasil menyisihkan para peserta dari berbagai kota dan menembus babak 13 besar.

“Tapi saya jadi finalis yang tereliminasi pertama. Lalu saya pulang ke Medan dengan sangat kecewa,” tutur Fauzi mengenang awal kariernya sebagai comic, sebutan bagi komedian tunggal.

Pulang ke Medan dengan titel finalis kompetisi terkemuka, tidak lantas memudahkan Fauzi dalam merintis jalannya di bidang komedi. Anak kedua dari empat bersaudara ini dihadapkan pada kenyataan bahwa banyak comic lokal yang juga tak kalah hebat. Namun, hal itu tidak lantas memadamkan semangat pria kelahiran Jakarta, 9 Oktober 1984 tersebut. Fauzi justru semakin aktif menjajal open mic dari satu kafe ke kafe lain.

Open mic adalah cara belajar yang paling efektif,” terang penggiat fitness ini ketika ditanya perihal media pembelajaran andalannya. Ia memang lebih suka berlatih di lapangan ketimbang berguru dari video atau hal-hal yang berbau teoretis.

Kegigihan Fauzi akhirnya membuahkan hasil. Di awal tahun 2012, Ramon Papana, salah seorang pionir stand-up comedy, mengajaknya tampil dalam open mic yang disiarkan secara nasional. Ajang tersebut lantas meroketkan namanya sebagai comic yang patut diperhitungkan. Sejak saat itu, undangan melawak tunggal seolah tak henti mengisi agenda Fauzi.

Meskipun pamornya kian menanjak, demam panggung tidak luput mengiringi setiap penampilan Fauzi. Namun, penggemar Russell Peters, comic asal Kanada, ini punya kiat jitu untuk menyikapinya. Sebelum naik panggung, ia senantiasa melakukan persiapan semaksimal mungkin, mulai dari mematangkan konsep, menyusun script, hingga berlatih mempraktikannya.

Belajar dari Mengajar         

Sebelum mendalami komedi tunggal, pria yang hendak menekuni spesialisasi obstetri dan ginekologi ini menyalurkan bakat melawaknya di depan para muridnya. Usai meraih gelar dokter, Fauzi sempat menjadi pengajar akademi kebidanan di Medan. Tidak hanya itu, ia dan beberapa rekannya juga turut andil dalam menggagas sebuah bimbingan belajar bernama CC UKDI pada tahun 2008. CC UKDI boleh jadi merupakan garda terdepan dalam penyediaan wadah belajar untuk Ujian Kompetensi Dokter Indonesia (UKDI). Sebagai pengajar, Fauzi memiliki cara unik dalam memberikan materi kepada anak didiknya. Ia rutin menyelipkan humor di tengah materi kedokteran yang rumit. Dengan metode tersebut, suasana belajar yang terkesan menjemukan mampu dicairkan oleh Fauzi. Dari proses mengajar itulah, sosok yang sempat menjadi Direktur RSU Helvetia Medan ini mulai belajar mengembangkan bakat komedinya.

Hingga saat ini, Fauzi tak pernah bosan mengasah kemampuan serta mengembangkan materi-materi lawakannya. Ketika ditanya perihal harapannya, Fauzi dengan mantap berujar, “Saya ingin jadi comic terbaik di Indonesia.” Terbaik? “Ya, jadi kalau orang-orang ditanya ‘siapa comic favorit Anda?’, mereka menyebut nama saya,” katanya menutup perbincangan. Acha, Badjee!

Rubrik Senggang Desk Liputan, Surat Kabar Media Aesculapius, Edisi November-Desember 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: