Kamuflase Kapitalis di Balik Nama Rakyat

29 Sep

Lippo Kembangkan 13 Mal Baru

Begitu membaca artikel ini, isi kepala saya langsung dipenuhi umpatan-umpatan. Sejak melihat judulnya saja saya sudah panas.

Masih ada orang waras yang mau bangun mal di kota yang udah sesek begini?! Ini orang antara kurang paham tata kota atau emang dasar pingin nyari untung doang ya kerjanya.

Emosi saya kian membuncah begitu membaca isi artikel dan sampai kepada berisan kalimat di atas. “Mal adalah yang diinginkan konsumen Indonesia sebagai tempat hiburan, sosial, kerja, dan penyelenggaran acara”. Hufft, ini nih, orang-orang yang kayak gini ini. Semoga mereka dan keluarganya diampuni dosa-dosanya.

Helooooo … om, mas, pak! Kata siapa ya orang Indonesia butuh mal? Astaga, saya tidak habis pikir. Entahlah, mungkin sebagian orang menganggap reaksi saya hiperbolis. Emm, gimana ya namanya juga mahasiswa, masih idealis! *dilempar sendal*

Tapi, menurut saya pribadi, masyarakat kita tidak membutuhkan mal! Titik. Harga mati, tidak bisa ditawar.

Bapak konglomerat yang terhormat, saya tahu Anda adalah pengusaha yang selalu berpikir soal untung rugi. Tapi, wahai Bapak yang mulia, Bapak juga manusia yang punya pikiran dan nurani, kan? Apakah Bapak mengerti soal tata kota sebelum memutuskan membangun pusat perbelanjaan mewah? Apakah Bapak pernah mendengar bahwa kota ini terbenam ke laut hingga 12 sentimeter setiap tahunnya? Apakah Bapak tahu bahwa Bapak telah menciptakan budaya konsumerisme yang kian memperdalam jurang kesenjangan?

Bapak yang terhormat, kami tidak perlu pusat perbelanjaan mewah. Anda pernah dengar tempat bernama taman kota? Atau museum? Atau kebun binatang? Itulah yang namanya tempat hiburan, Pak. Kami tidak mau hiburan artifisial yang terkungkung di dalam apa yang Anda sebut superblok itu. Bapak yang baik hati, kalau memang Anda punya uang berlebih, bagaimana jika diinvestasikan untuk hal-hal yang lebih manusiawi? Pemugaran museum, revitalisasi pasar tradisional, pembangunan taman kota, perencanaan fasilitas kesehatan yang mumpuni, atau apapun yang manfaatnya bisa dirasakan setiap lapisan masyarakat.

Bapak konglomerat yang baik hati, tolong jangan mengatasnamakan rakyat untuk kepentingan Bapak dan kolega-kolega Bapak. Kami tidak mau dan tidak akan pernah mau terpenjara di kota mati dengan pilar-pilar besi di sana-sini.

Semoga suatu hari nanti, pengusaha-pengusaha juga diajari empati. Supaya mereka tahu diri. Bahwa mereka “dititipkan” kekayaan sebanyak itu bukan hanya untuk diri sendiri, melainkan juga untuk membangun sebuah peradaban.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: