Krisis Identitas (Penduplikat Ulung)

24 Sep

Ada orang yang memang menakdirkan dirinya sendiri untuk menjadi pengikut. Mungkin target hidupnya memang sebatas menjadi penduplikat ulung. Dan itu, jelas, adalah masalah orang tersebut. — seorang teman, sebut saja XY.

Waktu kecil saya suka sekali membaca majalah remaja. Dewasa sebelum waktunya? Mungkin juga, ya. Hehee..
Pada salah satu edisi, ada satu artikel menarik yang belum saya mengerti maksudnya waktu itu. “Menghadapi teman yang copycat” judulnya. Saya yang kala itu masih polos berusaha keras mencerna isi artikel tersebut. Ada beberapa hal yang tidak saya pahami, tapi ada satu hal yang paling tidak bisa saya mengerti. Masa iya ada manusia yang hidupnya mau ikut-ikutan terus, alih-alih jadi pionir. Masa ada orang yang nggak tahu diri mengkopi apa yang sudah dibuat orang lain. Itu kan namanya jahat, merampas hasil kerja keras orang lain! Ketika itu saya cuma merasa bahwa itu akal-akalan redaksi majalah saja supaya penjualan produk bulan itu melesat.

Tapi, semakin tua begini pengalaman menyadarkan saya bahwa ada loh manusia seperti itu di dunia nyata (dan maya). Redaksi majalah itu tidak berbohong. Benar, memang ada tipikal orang yang hobinya meniru orang lain, baik disengaja maupun tidak. Dan rupanya, perihal penduplikasian ini bukan hanya sebatas meniru penampilan fisik atau sifat saja, bisa juga dalam hal ide dan karya. Sialnya, saya disadarkan melalui cara yang tidak mengenakkan: menjadi korban.

Ini bukan soal peniruan gaya berbusana apalagi tetek bengek penampilan fisik. Bukan soal itu. Menurut saya, penduplikasian ide jauh lebih berbahaya dan menyeramkan ketimbang dua hal di atas. Makanya saya baru sadar kenapa kok kampus saya sibuk gembar-gembor mengenai isu plagiarisme. Ternyata dijadikan objek peniruan itu memang tidak enak dan sudah sepantasnyalah oknum pencuri ide seperti itu dihukum.

Duplikasi kali ini memang bukan yang pertama, tapi ini adalah yang paling membuat jengah. Bagaimana tidak lantas gerah kalau sudah sering kali kamu melihat ide-idemu terpampang di halaman orang lain? Bagaimana tidak geram kalau bait-bait kalimat yang kamu ciptakan lantas disadur mentah-mentah tanpa permisi? Yah, kejadian rincinya cukup menjadi  urusan saya, Tuhan, dan the great imitator tersebut yang mungkin saja membaca tulisan ini lalu merasa tertohok.

Kosa kata memang bukan milik satu orang saja, tapi agak aneh rasanya kalau melihat kalimat ciptaanmu ditulis ulang oleh orang lain seolah-olah itu adalah buah karyanya sendiri. Seperti orang tua yang selalu mengenal anaknya, seringkali kita tahu persis bahwa “sesuatu” itu adalah milik kita. Semacam ada konektivitas yang seketika memberikan sinyal bahwa “sesuatu itu” (dalam hal ini ide atau tulisan) telah direnggut paksa.

Ide-ide yang hampir mirip memang bisa saja melesat dari satu kepala ke kepala lain, tapi bukankah konyol jika ide yang baru kau tulis beberapa hari lalu (bahkan hari kemarin) tiba-tiba sudah diduplikasi di halaman lain oleh penulis yang berbeda? Belum lagi jika ide tersebut super mirip seolah si penulis hanya menulis ulang ide tersebut.

Kembali lagi ke artikel zaman dahulu kala itu. Saya masih ingat, artikel itu juga menyebutkan alasan-alasan yang mendasari seseorang menjadi copycat. Salah satunya adalah karena ingin menjadi seperti orang yang ditiru. Wah, hebat ya. Masa iya saya sebegitu menginspirasi hidup orang lain sampai-sampai ada oknum yang berlangganan mengkopi ide dan tulisan saya.

Iseng-iseng dipikirkan, saya sampai pada satu kesimpulan lain. Mungkin saja oknum yang bersangkutan tengah mengalami krisis identitas. Mungkin ia punya kesulitan dalam mendefinisikan kepribadiannya, kesukaannya, atau buah-buah pikirannya hingga akhirnya memutuskan untuk menjeplak milik orang lain (disadari atau tidak).

Terlepas dari rasa kesal yang sudah mendesak ubun-ubun, saya lantas belajar satu hal. Pelajaran ini saya dapatkan dari hasil mengamati ibu-ibu atau remaja wanita yang berseliweran di pusat perbelanjaan ataupun pasar grosir. Mereka yang bercokol di pusat perbelanjaan mewah maupun yang berbelanja di pasar grosir memiliki satu kesamaan. Mereka sama-sama menggunakan tas atau produk bermerek perancang terkenal skala jadat raya.

Tapi, di balik kesamaan itu, tentu tetap ada yang berbeda dari segi kualitas, harga, bahkan kebanggaan menggunakannya. Bukannya bermaksud menggeneralisasi apalagi melakukan dikotomi. Saya tidak bilang bahwa semua orang di pusat perbelanjaan mewah memakai produk branded asli sementara yang ada di pasar grosir menggunakan produk imitasi. Yang terjadi justru bisa jadi sebaliknya, kan.

Poinnya adalah: boleh saja orang lain meniru kita semirip apapun, relakan saja. Anggap saja diri kamu itu sumber inspirasi dan oknum penduplikat adalah orang yang sedang mencari identitasnya. Justru orang seperti itu seharusnya dikasihani dan mungkin seharusnya kita membantu mereka menemukan diri mereka yang hilang entah kemana. Hitung-hitung pahala, bukan?

Tapi, kalau produk tiruan justru lebih disukai dan punya banyak peminatnya bagaimana? Jangan sedih, lihat saja, memang tidak dipungkiri kalau penjualan barang imitasi mungkin jauh lebih membludak ketimbang versi aslinya. Tapi toh sampai kiamat barang yang asli tetap akan  memiliki nilai orisinalitas tak tergantikan. Ia akan selalu punya peminat khusus dan harganya jauh lebih bernilai. Mau dilihat dari segi apapun, intinya produk asli pasti lebih berharga dibandingkan barang imitasi grosiran kan.

Nah, pada akhirnya pilihan kembali diserahkan ke diri kita masing-masing. Apakah kamu cukup puas dengan menjadi barang grosiran alih-alih produk eksklusif? Apakah kamu bangga kalau sukses menjadi penduplikat ulung? Jadi, masih mau jadi pakar copycat atau sudah berencana alih profesi menjadi pionir?

Hanya dengan menulis maka aku ada. Ketika kau mengambil semua atau separuh bagiannya, engkau menjadikanku tiada.

Hanya kata-kata yang aku punya. Ketika kau merampas aksara demi aksara, engkau mencuri apa yang kusebut harta.

Berbaliklah, temukan mata penamu sendiri!

3 Tanggapan to “Krisis Identitas (Penduplikat Ulung)”

  1. rezanufa 25 Agustus 2014 pada 10:42 pm #

    Keren, Kak. Entah ini tulisan keberapa yang saya baca di blogmu. Pengen komen di semuanya, tapi pasti sangat mengganggu.😀

    • cinthyayuanita 26 Agustus 2014 pada 11:24 am #

      Makasih ya udah mampir. Traffic blog langsung meningkat pesat begitu di-share sama penulis kondang #keceplos.
      Tapi setelah dibaca ulang, tulisan-tulisan lama ini berantakan dan nyinyir sekali ya hahaha. Jangan ditiru ya, Dek. :p

      • rezanufa 26 Agustus 2014 pada 12:20 pm #

        Menurutku tulisan ini mengalir dan enak dibaca. Soal nyinyir mah wajar dan nikmat-nikmat aja selama gue tidak merasa tersudutkan. Haha..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: