(Susahnya) Ikhlas

20 Sep

Kemarin sore saya memutuskan pulang dari kampus dengan taksi. Agak manja memang. Tapi percayalah, setiap kali habis jaga malam, seluruh energimu akan serasa disedot dementor. Tidak ada yang ingin saya lakukan kecuali segera tiba di rumah dengan selamat sentosa. Saya sungguh tidak mood berjejalan di angkot yang bisa ngetem setiap 5 menit sekali. Maka, dengan harapan akan mendapatkan perjalanan yang nyaman dan aman, saya pun menyetop sebuah taksi berlogo huruf E warna biru, sebut saja Express.

Tidak seperti biasanya, supir yang berusia setengah  baya itu tidak menanyakan tujuan apalagi menyapa saya. Begitu saya menyampaikan arah tujuan saya, supir itu langsung berdecak. “Ck, mau lewat mana, neng?,” tanyanya kemudian. Saya tidak heran dengan reaksi si bapak mengingat daerah rumah saya ini memang terkenal akan kemacetannya yang membuat frustasi.

Saya lalu mengutarakan sebuah nama jalan yang saya sebut jalan antimacet. Jalan tikus itu memang relatif lebih sepi dibandingkan jalan yang biasa dilewati angkot. “Aduuh, neng, lewat situ? Sempit banget itu jalannya, bisa abis mobilnya ntar lecet-lecet,” keluh si bapak itu lagi.

Kayaknya ini bapak kok ngajak ribut di waktu yang salah banget ya, pikir saya dengan emosi hampir tersulut. Walaupun rasanya mulut ini sudah gatal pingin protes, tapi saya masih berusaha tanggapi dengan baik. “Biasa juga lewat situ kok, pak. Biar nggak macet,” kata saya mencoba ramah. “Biasa sih biasa, mobil suka lecet kalo lewat situ!” Deg!

“Duh, ini bapak kayaknya emang niat banget ya ngajak berantem, kemarin saya habis jaga loh, belum tidur lebih dari 24 jam. Setiap saya naik mobil atau taksi juga lewat situ, pak. Nggak pernah ada masalah. Bapak saya yang nyetirnya paling riweuh aja nggak pernah ada masalah setiap lewat situ.” Sisi anarkis Aquarians saya mulai terusik. Rasanya tuh pingin banget nyerocos kayak gitu di depan bapaknya terus bilang, “Turunin gue di sini! Sekarang!”, sambil kibas rambut dan nada khas sinetron gitu. Tapi gimana ya, separuh diri saya yang pernah belajar PPKN kok menahan-nahan saya untuk tidak bertindak brutal.

“Sabar, sabar, ini supir taksi udah tua, kasian. Mungkin dia juga capek abis narik seharian,” naluri saya yang masih waras berkata demikian. Dan dia menang. Saya urung marah-marah apalagi minta diturunkan seketika. Hm, sebenarnya salah satu alasan saya batal minta turun adalah karena takut melanggar etika naik taksi. Saya tidak tahu apakah sopan atau tidak kalau kita minta diturunkan padahal baru beberapa detik yang lalu kita naik taksi itu.

Singkat cerita,  si bapak akhirnya menyetujui permintaan saya untuk lewat jalan tersebut. Tapi, kalian harus tahu. Sepanjang perjalanan, saya setengah mati harus menahan mulut ini supaya tidak keceplosan nyinyir. Pasalnya, bapak supir ini tidak pernah berhenti mendecak-decak dan mengeluh! Setiap mau belok, dia mengeluh. Setiap ada hambatan di depannya, dia berdecak. Hampir setiap meter kayaknya dia melakukan itu padahal tidak ada kendala berarti. Saya yang mendengarnya kok agak risih ya, bukan agak, tapi sangat. Ganggu banget, gitu!

“Kenapa sih, pak?! ‘Ck, ck, ck’ itu ganggu banget, loh! Kalo emang nggak ikhlas, ya turunin aja saya dari tadi. Kalo emang nggak ikhlas, ya jangan jadi supir taksi. Jadi supir angkot aja yang trayeknya udah jelas, nggak perlu didikte sama penumpang, nggak perlu dengerin maunya penumpang.” Sebagai Aquarius sejati, saya menganut paham “air yang tenang bisa menjadi berombak jika terus-menerus ditepuk”. Ini bapak kayaknya semakin didiamkan kok semakin mengesalkan ya. Saya sudah tahan-tahan untuk tidak ofensif, loh, Pak. Tapi, untung nalar saya masih waras. Untung semua keluh kesah itu hanya sampai di pikiran saya dan belum disampaikan secara verbal. Untung saya masih bisa menahan emosi menelan semua keluhan supir taksi itu sampai tiba di pagar rumah.

***

Suatu hari, saya sedang jaga malam di IGD sebuah rumah sakit pemerintah. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 2 pagi ketika dari kejauhan ada suara brankar yang melaju cepat. Tak berapa lama, brankar itu tiba dengan seorang bapak tua di atasnya tampak terengah-engah mengambil oksigen di udara. Saya yang kebetulan masih terbangun langsung mendatangi pasien tersebut, memberikan selang oksigen, dan melakukan apapun yang sekiranya bisa meredakan sakitnya. Idealnya, setiap pasien yang masuk dengan sesak seperti itu segera diambil darah dan dipasangkan infus. Tapi saya hanya koas, pemegang strata terendah dalam dunia perumahsakitan, yang setiap melakukan ini itu pasti disalahkan. Apalagi saya masih tahap awal waktu itu, masih belum terbiasa dengan hawa-hawa rumah sakit. Saya pun menunggu perawat yang akan mengambil darah dan memasang infus kepada pasien tersebut.

Tak berapa lama, seorang perawat wanita datang dengan membawa perangkat infus. Ia menuju ke arah pasien tersebut dengan muka super masam. Wajahnya yang sangat mengantuk tidak bisa (atau tidak mau) disembunyikannya. “Sini, tangannya!” Tanpa tedeng aling-aling, perawat itu meraih tangan bapak tua yang masih kesakitan. Tanpa izin apalagi basa-basi, ia segera menusukkan jarum infus ke tangan renta itu. Seolah belum puas, ia masih merutuki bapak itu dan keluarganya dengan kata-kata yang tidak menyenangkan. Persis seperti ibu tiri menyiksa anak tirinya. Kalau saja saya bukan hanya seorang koas, ingin sekali rasanya saya menghardik perawat itu. “Bu, itu pasien loh! Nggak usah kasar begitu bisa kan, ya! Kalo nggak ikhlas, ya jangan jadi perawat! Kalo ibu yang jadi pasien, emang ibu mau digituin!” Erghh, keseeeel banget rasanya!

Maaf sekali, mungkin seharusnya saya tidak menceritakan ini. Mungkin seharusnya saya menutupi keburukan sesama tenaga medis. Tapi kejadian hari itu benar-benar masih bisa saya ingat jelas sampai hari ini. Dan kejadian itu ternyata, sayangnya, bukan menjadi kejadian terakhir yang saya alami. Masih banyak peristiwa-peristiwa serupa yang saya lihat di hari-hari berikutnya.

***
Hari ini saya dibuat bingung sekaligus hampir kesal. Beberapa hari lalu, seseorang meminta saya mencarikan peserta seminar medis karena panitianya kekurangan peserta. Saya pun memesan untuk tiga orang dokter yang sedang bertugas di luar daerah. Sejak awal memang persoalan seminar ini sudah agak-agak tidak jelas, dari yang awalnya dijanjikan gratis, tiba-tiba diminta membayar. Singkat kata, akhirnya saya pun tetap memesankan 3 tiket tersebut. Ketiga dokter itu juga sudah membeli tiket pulang ke Jakarta.
Hari ini saya memastikan sekali lagi perihal tiket tersebut ke panitia. Dan alangkah kecewanya saya dengan kelakuan panitia itu. Saya bertanya panjang, dibalas hanya dengan sedikit sekali informasi. Saya diminta membaca sendiri di blog acara tersebut. Padahal ketika sudah dibaca, tetap saja pertanyaan saya belum terjawab. Kemudian perihal tiket tersebut juga masih simpang siur. Astaga, saya cuma bisa mengelus dada sambil berdoa agar saya tidak mengecewakan tiga dokter yang sudah memesan tiket lewat saya tersebut.
Ya ampun, kemarin pas kekurangan peserta, pas tiketnya nggak laku, baik banget kayaknya nawarinnya. Sekarang, pas pesertanya udah banyak, ditanya informasi aja kayaknya susah banget! Panitia sama sekali tidak menunjukkan sikap welcome dan yang paling mengecewakan adalah saya dilempar-lempar kesana kemari. Kalo enggak ikhlas, jangan ngadain acara, mbak.
***
Ada benang merah yang mau saya sampaikan dari 3 kasus di atas. Ikhlas. Saya sama sekali tidak berniat menggurui atau bersikap seolah-olah saya manusia paling ikhlas di muka bumi. Justru dari kasus-kasus itu saya jadi merenung. Sudah ikhlaskah saya selama ini? Apakah semua yang saya lakukan sudah didasari rasa tulus hati? Atau jangan-jangan saya seperti tukang taksi pengeluh, perawat kasar, dan panitia dingin itu?

Saya sadar betul bahwa saya ini sangat juara dalam mengeluh. Saya sering sekali mengaduh soal ini soal itu, bahkan hal-hal kecil sekalipun. Mengeluh memang pekerjaan paling mudah dan menyenangkan. Tapi dari pengalaman di atas, saya belajar banyak. Dalam setiap hal yang kita lakukan, kita memang sepatutnya ikhlas. Kalau ada keikhlasan, pasti tidak ada tukang taksi nyinyir,  perawat menyebalkan, atau panitia sombong seperti itu.

Saya jadi ingat, tidak jarang saya mengeluh dengan pembagian kerja yang tidak adil dalam suatu kepanitiaan. Saya juga suka mencak-mencak kalau mendapat porsi tugas kelompok yang lebih besar dibandingkan yang lain. Dan, yang sering terjadi, saya kesal setengah mati kalau ada teman yang enak-enakan tidur ketika jaga malam hingga saya terpaksa bekerja ekstra menggantikan tugasnya.

Ya, besok-besok (mudah-mudahan) saya bisa lebih ikhlas menghadapi itu semua. Kalau mendapat tugas yang lebih banyak, anggap saja  supaya bisa belajar lebih banyak. Kalau ketika jaga malam, partner jaga mengantuk berat dan dengan egoisnya tetap memilih tidur sementara kita luntang-lantung mengurus pasien, ya dinikmati saja.

Paling tidak saya akan mulai belajar dari hal yang sederhana. Mengeluh itu boleh, asalkan jangan ditunjukkan secara terang-terangan. Kurang sedap rasanya dilihat orang. Kalau ada rasa capek, kesal, dan emosi memang sudah konsekuensi yang harus saya telan mentah-mentah. Kalo nggak ikhlas, ya jangan jadi dokter. Kalo nggak ikhlas, ya jangan hidup bermasyarakat.

3 Tanggapan to “(Susahnya) Ikhlas”

  1. rezanufa 26 Agustus 2014 pada 1:40 am #

    Tulisan ini bikin sedih.
    Saya pernah punya teman yang mendapat perlakuan kurang ramah dari perawat. Hmmm, kamu kan sudah baca sosok Rinai di naskah mentah itu ya. Karakter Rinai itu ada di dunia nyata.
    Saya kesal tiap kali mendengar kabar bahwa para perawat ngomongin dia, seakan mereka enggan meladeni keluhan-keluhan orang sakit. Saya hampir ngoceh langsung ke seorang bruder yang memperlihatkan ‘kekasaran’nya di depan muka saya, tapi tidak jadi karena Ibu Rinai memberi isyarat untuk nrimo. Mungkin beliau merasa maklum dengan perlakuan itu karena Rinai cuma pasien bermodal kartu BPJS.
    Sampai hari Rinai dimakamkan, bahkan sampai sekarang, wajah bruder itu masih nempel di benak saya. Nyeseknya tuh tahan lama.
    Semoga kamu tetap jadi orang sabar dan ikhlas sampai seterusnya.

    • cinthyayuanita 26 Agustus 2014 pada 11:18 am #

      Ja..ja..jadi Rinai itu nyata? Muscular dystrophy?
      Makasi ya udah komen di postingan yang ini. Jadi kayak reminder kalo dulu tuh pernah nulis kayak gini. Jadi reminder buat terus sabar & ikhlas (walaupun masih lebih banyak khilaf-nya). Thanks :”)

      • rezanufa 26 Agustus 2014 pada 12:13 pm #

        Iya, dia punya penyakit itu, meninggal di umur 28 tahun. Dia penulis dan sudah nulis novel yang bercerita tentang orang difabel sepertinya. Nama penanya Rina Shu. Beberapa kejadian yang gue tulis itu memang nyata.

        Makasih juga sudah nulis yang semacam ini. Kekesalanku ke bruder itu jadi tertumpahkan. Sudah lama kutahan-tahan. Hehe.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: