Sungguh, Nasi (Tidak Harus) Menjadi Bubur

20 Agu

Pernah dengar peribahasa “nasi sudah menjadi bubur”? Saya anggap pernah.

Beberapa hari lalu saya punya kesibukan baru. Mengubah bulir-bulir nasi menjadi wujud lain yang lebih rapuh daripadanya. Baiklah, singkat saja. Saya membuat bubur. Pertama kalinya dalam hidup saya. Kalau bukan karena ibu saya sakit dan memerlukan makanan yang bertekstur lembut semacam ini, bisa jadi hingga detik ini saya tidak akan tahu bagaimana caranya membuat panganan tersebut.

Selama ini saya selalu beranggapan bahwa bubur adalah jenis makanan yang tidak patut diperhitungkan. Tampilannya yang putih, lembek bahkan kadang cair, serta tawar tak berasa bisa membuyarkan selera makan. Apalagi bubur identik dengan makanan orang sakit. Saya juga, hingga saat itu, beranggapan bahwa membuat bubur sudah pasti mudah. Semua orang bisa melakukannya.

Tapi semua anggapan itu jadi sirna seketika. Satu jam bercokol di dapur dengan sepanci nasi-yang-tak-kunjung-berubah-wujud itu sedikit banyak membuat saya memikirkan peribahasa legendaris di atas.

Nasi sudah menjadi bubur. Kejadian sudah terlanjur memburuk, tidak seperti sedia kala.

Saya tidak tahu modus para ahli bahasa menciptakan peribahasa itu. Tapi, tanpa bermaksud menyanggah mereka, saya cuma jadi berpikir. Nasi tidak harus menjadi bubur, jika kita memang menginginkannya.

Pertama, membuat nasi menjadi bubur jelas merupakan “pilihan” yang “disengaja”. Membuat bubur memerlukan sebuah tendensi khusus, bukan ujug-ujug karena proses menanak nasi yang kelamaan. Tidak ada unsur ketidaksengajaan dalam hal ini. Semuanya jelas dan disadari oleh sang pembuat. Seharusnya.

Kedua, proses membuat bubur sangat amat menyita waktu, tenaga, bahkan emosi. Hanya untuk mengubah satu mangkuk nasi menjadi bubur, saya memerlukan waktu hampir sejam. Plus cadangan ketelatenan dan kesabaran untuk mendapatkan tekstur bubur yang  baik. Jadi, seharusnya, sang pembuat sadar betul bahwa ia sedang dalam proses “mengubah” sesuatu. Kalau memang ia berubah pikiran dan tidak menghendaki nasi berubah menjadi bubur, ia bisa mematikan api kapan saja sebelum semua bulir melebur. Masih ada waktu, masih bisa diperbaiki.

Nah, yang repot adalah ketika si pembuat ini rupanya memang sengaja membuat nasi menjadi bubur padahal ia sendiri sadar bahwa toh bubur itu nantinya tidak mendatangkan manfaat (bagi siapapun). Tapi ia tetap membiarkan proses yang menguras waktu, tenaga, dan emosi itu. Entah apa motifnya. Yang jelas, benar kata pepatah, nasi yang sudah menjadi bubur memang tidak bisa kembali seperti semula. Dan jangan salah, apabila lalai dan terus mendiamkan bubur di atas api, yang tercipta selanjutnya adalah kerak. Kita tahu, sesuatu yang sudah terlanjur berkerak, bukan hanya tidak bisa lagi dimakan melainkan juga akan sulit dipulihkan.

Kalau memang kita tidak mau sesuatu berubah, jangan sekali-sekali membuatnya berubah. Kalaupun sudah terlanjur berubah, jagalah agar jangan sampai perubahan itu bertambah buruk. Kita selalu punya kendali untuk itu. Kita selalu punya pilihan.

Satu Tanggapan to “Sungguh, Nasi (Tidak Harus) Menjadi Bubur”

  1. edang 25 Agustus 2012 pada 4:46 am #

    dalam kesengajaan akan tertarik sebuak kesimpulan akhir, jika ia akan mengkerak itu bukan lagi keinginan tapi memang tidak diinginkan, bukan berarti itu terbuang, masih ada pemanfaatan selama ketergunaan itu di lakukan, bisa menjadi lebih dinikmati seperti kerupuk nasi dari kerak yang mengeras. tidak selamanya nasi yang dimasak itu mutlak nasi, pikirkan orang yang takpaham takar yang sebenarnya, tinggal menunggu masih ada rasa beras atau nasi dengan kelunakan yang teramat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: