Eksplorasi Negeri Sejuta Pelangi: Melancong ke Bumi Belitong

2 Jul

Sejak serbuan Laskar Pelangi ke ranah perfilman Indonesia, pulau kecil di lepas pantai timur Sumatera ini spontan menjadi target destinasi yang paling dicari.

Langit biru berhiaskan arak-arakan awan putih menyambut kedatangan saya di Bandar Udara H A S Hanandjoeddin pada siang yang terik itu. Tidak mencapai hitungan jam, saya sudah “berteleportasi” dari ibu kota ke sebuah pulau yang terkenal akan eksotisme alamnya: Pulau Belitung. Untuk menuju kampung halaman Andrea Hirata ini, tersedia berbagai opsi.

Wisatawan dari Jakarta bisa memilih jalur laut atau udara. Jalur laut dapat ditempuh dengan menggunakan kapal motor rute Tanjung Priok-Tanjungpandan dengan perkiraan biaya sebesar Rp 250.000,00. Namun, perjalanan dengan kapal laut memakan waktu yang cukup lama, mencapai belasan jam. Sementara perjalanan lintas udara dapat dilakoni dengan dua pilihan maskapai, Batavia Air atau Sriwijaya Air. Harga tiket pesawat terbilang fluktuatif, berkisar antara Rp 500.000,00-Rp 800.000,00. Namun, jika beruntung Anda bisa mendapatkan tiket promo dengan harga yang sangat menggiurkan. Idealnya, pilihlah penerbangan pertama sehingga ketika tiba di Pulau Belitung Anda masih sempat untuk berwisata.

Begitu mendarat di kota Tanjungpandan, Anda dapat menggunakan jasa rental mobil yang sudah mengantre di pintu keluar bandara. Berbeda dengan kota-kota lainnya di Indonesia, moda transportasi di Belitung tidaklah variatif. Di tempat ini tidak tersedia angkutan umum sehingga mau tidak mau wisatawan harus menyewa kendaraan pribadi. Harga yang ditawarkan para penjaja jasa rental terbilang seragam, yakni sekitar Rp 400.000,00 untuk mobil Toyota Avanza lengkap dengan supirnya. Dengan harga tersebut, plus beberapa rupiah untuk uang bensin, Anda dapat berkeliling pulau satu hari penuh.

Siang itu saya langsung bertolak dari ibu kota Kabupaten Belitung menuju tempat dinas kakak saya di Kampong Pesak, Belitung Timur. Perjalanan ke Belitung Timur ditempuh selama satu jam. Kontur jalan yang meliuk-liuk disertai kecepatan kemudi yang tinggi dapat menimbulkan sedikit sensasi mual. Ya, jalan raya di Belitung sungguh berbeda dari ibu kota. Di sepanjang jalan, saya lebih banyak menemui pepohonan sawit dan pertambangan timah, alih-alih kendaraan bermotor.

Napak Tilas Laskar Pelangi

Pelesir ke Pulau Belitung belum lengkap rasanya jika tidak mengunjungi tempat-tempat yang menjadi saksi kelahiran Laskar Pelangi. Napak tilas saya mulai dengan mengunjungi tempat asal Lintang, sahabat karib Ikal dalam Laskar Pelangi. Pantai Punai namanya. Terletak di Desa Tanjung Kelumpang, Punai menyajikan keelokan khas pantai-pantai di Belitung. Pasir putih dan lembut lengkap dengan air biru yang jernih. Meskipun tidak sebesar yang ada di Pantai Tanjung Tinggi, kehadiran batu-batu granit “mini” juga turut menambah kecantikan panorama Punai.

Perjalanan berlanjut menuju Desa Gantong, tempat tinggal Ikal sang tokoh utama. Namun, karena keterbatasan waktu, saya hanya sebatas lewat. Secara keseluruhan, kondisi desa tersebut sudah jauh berbeda seperti yang digambarkan dalam film. Bahkan, beberapa rumah sudah dihiasi mobil pribadi dan parabola.

Tujuan selanjutnya adalah Pantai Burong Mandi yang terletak di kaki Gunung Burong Mandi. Tipikal pantai ini agak sedikit berbeda dari pantai-pantai di Belitung Barat. Alih-alih menemukan batu raksasa, Anda akan disuguhi barisan perahu nelayan yang tengah menepi. Tak jauh dari area pantai, terdapat Vihara Dewi Kwan Im yang juga ramai dikunjungi turis domestik.

Usai puas bermain air di Pantai Burong Mandi, saya menuju dataran tertinggi yang ada di Pulau Belitung, yakni Bukit Samak A1. Tempat ini mungkin ibarat Puncak di Jawa Barat. Hampir di setiap tepi kelokan, ada rumah-rumah dengan arsitektur khas Belanda yang konon milik para petinggi PT PN Timah. Beberapa rumah tampak terawat, tetapi banyak pula yang tidak terurus dan tinggal menyisakan puing-puing belaka. Dari puncak bukit, pandangan kita bisa menerawang hingga perbatasan muara sungai dan Pantai Serdang. Di sekitar bukit ini terdapat aneka rumah makan yang pada malam hari berubah menjadi tempat nongkrong anak muda setempat.

Satu lagi tempat wisata di Belitung Timur yang tak kalah menarik adalah Bendungan Pice. Bendungan air peninggalan era kolonial ini merupakan salah satu bangunan bersejarah di Belitung. Jika hari cerah, pemandangan langit di tempat ini sungguh menakjubkan.

Tidak jauh dari Bendungan Pice, terdapat lokasi bersejarah lainnya. Inilah dia, SD Muhammadiyah Gantung alias SD Laskar Pelangi yang menjadi puncak perjalanan saya hari itu. Ketika tiba, banyak sekali wisatawan yang tengah mengerumuni sekolah yang tampak sangat rapuh itu. Mereka berlomba-lomba berpose di berbagai spot favorit, di antaranya papan nama sekolah, ruang kelas, dan tiang penyangga bangunan. Lokasi syuting film Laskar Pelangi ini memang terlihat persis seperti di filmnya. Maka, lengkaplah sudah pencarian saya hari itu.

Dalam perjalanan pulang, saya menyempatkan diri menjajal kedai kopi yang ada di kota Manggar. Kota ini memang terkenal sebagai “Kota Seribu Satu Warung Kopi”. Meskipun berwujud warung sederhana di pinggir jalan, kedai-kedai tersebut tidak pernah sepi pengunjung. Baik penduduk lokal maupun wisatawan berebut menyeruput kopi khas Belitung ditemani dengan aneka jajan pasar. Dengan variasi harga dari Rp 3000,00-Rp 5.000,00 per gelas, Anda sudah bisa mereguk manisnya kopi hitam, kopi susu, atau teh susu. Dari dalam kedai Anda juga bisa mengamati aktivitas warga setempat, mencicipi kearifan lokal yang tercipta dari akulturasi berbagai budaya yang ada di kota ini.

Wisata Pulau: Mengagumi Eksotika Bahari di Barat Belitung

Mengunjungi pantai-pantai di sebelah barat Belitung tentu menjadi incaran setiap wisatawan yang menghabiskan liburan di tempat ini. Lagi-lagi, dengan menggunakan mobil sewaan, saya meninggalkan Kampong Pesak menuju Tanjung Pendam, sebuah pantai yang berada di pusat kota Tanjungpandan. Di tempat ini terdapat banyak pilihan tempat menginap, mulai dari hotel kelas melati hingga yang berbintang tiga. Kisaran tarif hotel dimulai dari Rp 200.000,00 hingga Rp1.200.000,00.

Lokasi hotel-hotel itu tidak terlalu jauh dari pusat kota. Saya pun menghabiskan hampir setengah hari dengan berjalan kaki menyusuri kota Tanjungpandan. Di sini, Anda dapat menyantap panganan khas Belitung atau sekedar membeli cenderamata untuk kerabat. Dan akhirnya, sore itu ditutup dengan menyaksikan sebuah atraksi alam yang sangat memukau. Kelelahan usai mengitari kota pun terbayarkan ketika melihat semburat jingga keemasan yang muncul di ufuk cakrawala: sunset di Tanjung Pendam.

Keesokan harinya, saya beranjak dari Tanjungpandan menuju Tanjung Tinggi. Ya, inilah dia tempat yang paling ditunggu-tunggu dalam pakansi kali ini. Dengan menempuh perjalanan selama 1 jam, akhirnya saya dan keluarga tiba di penginapan. Berbeda dengan di Tanjungpandan, di daerah Tanjung Tinggi memang jarang sekali ditemukan penginapan. Satu-satunya penginapan terdekat, yang sekaligus menjadi tempat menginap kami, adalah The Villa of Lor In. Hotel yang mengusung tema private cottage ini terletak persis di depan Pantai Tanjung Tinggi. Meskipun harus menyebrang halaman dan jalan raya untuk menuju tepi pantai, pemandangan pantai yang disajikan dari teras cottage sangat memuaskan.

Tanpa pikir panjang lagi, begitu meletakkan barang-barang di kamar, saya pun langsung menuju pantai. Pasir putih yang sangat lembut langsung menyapa kadatangan saya. Buih-buih air yang terbawa ombak serta semilir angin pantai yang membawa aroma laut menemani jalan-jalan sore yang sangat istimewa itu. Pantai yang terletak di depan Lor In ternyata belum ada apa-apanya. Saya pun terus berjalan cukup jauh hingga akhirnya mencapai lokasi pengambilan gambar film Laskar Pelangi. Batu-batu granit raksasa yang menjulang membuat saya semakin takjub akan kecantikan yang disajikan Bumi Belitong.

Keesokan harinya, saya dan keluarga memulai wisata pulau atau yang akrab disebut island hopping. Sesuai namanya, wisatawan akan diajak mengitari pulau-pulau cantik yang tersebar di perairan Belitung Barat dengan menggunakan kapal kecil. Umumnya, wisatawan akan memulai perjalanan dari Tanjung Kelayang dengan harga sewa perahu sekitar Rp 350.000,00. Karena kami tidak mendapatkan transportasi untuk mencapai tempat tersebut, kami meminta pengemudi perahu untuk menjemput di pantai depan Lor In. Untuk kemudahan semacam itu, tarif yang harus kami bayar adalah Rp 500.000,00.

Petualangan dimulai! Kapal yang seharusnya diisi oleh sepuluh orang tersebut hanya dihuni oleh kami berempat plus sang pengemudi kapal. Agak mengerikan juga sebenarnya. Badan kapal yang cukup rendah diombang-ambingkan ombak yang ketika itu lumayan besar. Bapak pengemudi kapal pertama-tama membawa kami menjumpai batu besar yang menyerupai badan penyu sehingga dinamakan Pulau Penyu. Karena dikelilingi oleh karang-karang yang tajam, kami hanya bisa menikmati kecantikan Pulau Penyu dari jauh sebelum akhirnya melaju lagi.

Pulau unik yang menjadi tujuan kami berikutnya adalah Pulau Pasir. Pulau yang terdiri dari gundukan pasir putih kekuningan ini merupakan habitat khas bintang laut. Beruntung, ketika tiba di sana saya mendapatkan satu bintang laut yang sangat cantik. Pulau ini tidak selalu bisa ditemui karena bisa menghilang ketika air laut sedang pasang. Pengemudi kapal juga sempat mengatakan bahwa pulau pasir ini dapat “berpindah” pada bulan-bulan tertentu. Setelah puas bermain dengan bintang laut dan pasir yang lembut, arus laut membawa kami ke Pulau Batu Berlayar. Dengan koleksi batu granit raksasanya, pulau ini tampak seperti miniatur Pantai Tanjung Tinggi. Wisatawan dapat berpose sepuasnya dengan berlatarkan hamparan granit di atas pasir putih. Namun, hati-hati ketika mendaki granit sebab batu-batu tersebut memiliki tekstur yang kasar dan tajam.

Ketika kembali ke tengah laut, tiba-tiba langit menghitam dan hujan turun dengan sangat deras. Hujan deras dengan angin kencang di tengah laut mengombang-ambingkan perahu yang kami tumpangi! Sisi paranoid saya mulai menggelitik nyali. Untunglah, samar-samar kami melihat sebuah pulau di depan sana. Kedatangan kami disambut dengan tumpukan batu yang menyerupai kepala burung. Benar-benar mirip sehingga masyarakat setempat menamainya Pulau Burung.

Kami baru turun dari kapal begitu rintik hujan berubah menjadi gerimis. Pulau Burung tidak jauh berbeda dibandingkan pulau lainnya. Lagi-lagi batu granit dan pasir putih. Namun, pulau ini sedikit lebih luas sehingga lebih banyak tempat yang bisa dieksplorasi. Salah satu spot yang menarik dijadikan latar berpose adalah jembatan kayu dan tumpukan batu yang seolah-olah dapat menimbulkan efek fotografi “levitasi”.

Agenda selanjutnya adalah mengunjungi mercusuar peninggalan Belanda yang berdiri gagah di Pulau Lengkuas. Sejak awal memulai perjalanan ini, memang mercusuar fenomenal itulah yang saya nantikan. Saya sudah melihatnya berulang kali di berbagai media, tapi tetap saja decak kagum itu tak tertahankan begitu melihatnya secara langsung. Begitu menepi, kami lantas menuju pintu masuk mercusuar. Tampak beberapa tukang bangunan tengah memugar area di sekitar bangunan raksasa itu. Sebelum melakukan pendakian ke atas puncak mercusuar, wisatawan diwajibkan memasukkan alas kakinya ke dalam sebuah ember berisi air di depan pintu masuk. Awalnya saya berpikir hal ini terkait ritual klenik atau apa. Namun, usut punya usut ternyata tujuannya adalah untuk mencegah korosi akibat air laut pada anak-anak tangga mercusuar yang telah berdiri sejak tahun 1882 itu. Sempat gentar pada awalnya, namun toh akhirnya saya mampu menyelesaikan misi pendakian itu hingga lantai akhir mercusuar. Dan kengerian itu pun akhirnya terbayar lunas begitu menyaksikan keajaiban alam yang tampak dari ketinggian 18 lantai itu! Sisi menarik Pulau Lengkuas tidak hanya terletak pada mercusuarnya, ada juga lokasi makam Belanda-Pribumi dan juga Kolam Pemandian Bidadari. Sayang, keelokan pulau ini ternodai oleh sampah-sampah yang ditinggalkan para wisatawan.

Mengakhiri wisata pulau hari itu, kami dibawa oleh pengemudi kapal untuk menyambangi Pulau Babi Besar dan Pulau Babi Kecil. Yang membedakan pulau ini dengan yang lainnya adalah adanya campur tangan manusia di dalamnya. Jika pulau lain terbilang masih alami, Pulau Babi Besar tampak sudah dikelola sebagai tempat wisata outbond. Selain itu di pulau ini juga terdapat tempat penangkaran penyu dan beberapacottage yang dapat disewakan.

Perjalanan pulang kami lagi-lagi ditemani guyuran hujan dan gulungan ombak besar. Untunglah, saya sudah terbiasa sehingga rasanya tidak lagi menakutkan, tetapi justru menantang. Sayangnya, awan kelabu itu masih saya bergelayut hingga senja tiba. Kami pun harus rela melewatkan panorama matahari terbenam di Tanjung Tinggi yang konon keindahannya sungguh tiada tara.

Berburu Kuliner Khas Pulau Timah

Mengunjungi suatu tempat belum lengkap rasanya jika tidak mencicipi kuliner khas. Selama berkunjung ke pulau eksotik ini, saya berkesempatan mencoba beberapa masakan khas Belitung. Makanan pertama yang cukup direkomendasikan adalah seafoodSeafood? Ya, meskipun bukan termasuk kuliner khas, tapi hidangan laut cukup menjadi primadona di tempat ini karena harganya yang relatif murah dan kualitasnya yang memuaskan.

Di Kampong Pesak, tempat dinas kakak saya, satu kilo kepiting ketam dihargai Rp 25.000,00. Kepiting ketam sangat tersohor karena ukurannya yang besar dan dagingnya yang padat. Sementara itu, udang yang juga tak kalah besar dibaderol dengan harga Rp 60.000,00 per kilo. Udang dari perairan Belitung ini dagingnya sangat lembut dan terasa manis di lidah. Primadona makanan laut di Belitung adalah rajungan. Rajungan utuh biasanya dijual seharga Rp 35.000,00 per kilo. Selain rajungan utuh, kita juga bisa membeli daging rajungan yang sudah dipreteli untuk dijadikan buah tangan.

Di tempat asal Lintang, yakni Pantai Punai, terdapat beberapa rumah makan yang juga patut dimasukkan ke dalam agenda wisata kuliner Anda. Pada salah satu sisi pantai, terdapat sebuah rumah makan yang menyajikan pempek khas Belitung. Pempek ini sangat berbeda dari pempek dari Palembang atau Jambi. kalau menurut saya, makanan ini justru mirip seperti cireng yang diguyur kuah cuka. Tapi, menu ini bisa menjadi salah satu camilan atau buah tangan. Satu buah pempek dijual dengan harga Rp 1.000,00.

Makanan khas yang wajib dicoba ketika berada di kota Tanjungpandan adalah Mie Belitung. Salah satu kedai mie yang sangat terkenal adalah Mie Belitung Atep yang terletak di Jalan Sriwijaya, tidak jauh dari Tugu Batu Satam. Panganan khas Belitung ini terdiri dari mie kuning yang disajikan bersama taoge, potongan kentang, beberapa ekor udang rebus, irisan timun, dan emping. Kombinasi tersebut lantas disiram dengan kuah kental yang beraroma khas kaldu udang dan rempah-rempah. Untuk sepiring kenikmatan semacam ini Anda hanya perlu merogoh kocek sebesar Rp 10.000,00. Sebagai teman menyantap mie, Anda dapat memilih es jeruk kunci seharga Rp 2.500,00 yang memiliki sensasi asam manis. Di rumah makan yang kerap dikunjungi artis ini, juga terdapat menu lain seperti nasi tim dan otak-otak ikan yang layak dicoba.

Tidak jauh dari Mie Belitung Atep, terdapat sebuah resto yang juga sering menjadi tujuan kuliner para selebriti Indonesia. Bertempat di dekat Gereja Katolik Paroki Regina Pacis, Kedai SS menawarkan berbagai varian menu yang menggugah selera. Beberapa menu yang direkomendasikan adalah ayam goreng kremes, ayam goreng cabai hijau, sup buntut, dan sup iga bakar. Ayam goreng yang disajikan begitu gurih dan memiliki tekstur yang lembut. Sambal cabai hijau yang memiliki tingkat kepedasan yang pas serta kremesan renyah menjadi pendamping yang tepat. Sup buntut dan iga bakarnya juga empuk dan memiliki cita rasa yang khas. Aroma rempah dan kaldunya begitu kuat. Harga yang ditawarkan rumah makan ini berkisar antara Rp 15.000,00-Rp 45.000,00. Sayangnya, area merokok dan tidak merokok di tempat ini tidak dipisahkan sehingga sedikit mengganggu kenyamanan pengunjung.

Jika berkunjung ke Tanjung Tinggi, mayoritas rumah makan di sini menyediakan menu hidangan laut. Ada begitu banyak rumah makan yang berjejer di sepanjang Pantai Tanjung Tinggi. Ketika itu, saya memilih untuk menjajal masakan di Rumah Makan Amat yang terletak di dekat gerbang masuk Tanjung Tinggi. Kabarnya masakan di tempat ini sangat digemari, baik oleh turis maupun penduduk lokal. Benar saja, ketika saya masuk ke dalam rumah makan, kursi-kursi sudah terisi penuh. Untungnya satu meja masih tersisa. Kami pun menempati meja yang berada di sisi luar restoran, langsung menghadap pantai. Kebetulan saat itu menjelang senja sehingga kami bisa sekaligus menikmati matahari terbenam.

Kami memesan beberapa masakan: sup gangan kepala ikan, cumi goreng tepung, ikan kurisi bakar, ikan bawal bumbu kuning, tumis genjer, dan tumis kecipir. Cukup banyak juga untuk mengisi 4 perut yang keroncongan pasca-berwisata ke pulau-pulau. Sebagai teman makan malam yang kalap itu, kami memesan es kelapa dan es teh. Minuman terlebih dahulu datang. Empat buah kelapa utuh mengawali pembalasan dendam kami. Berikutnya sebakul nasi dan seteko es teh hadir diikuti tumis genjer. Satu per satu makanan muncul bersiap untuk kami cicipi.

Sup gangan yang merupakan makanan khas Belitung adalah sup ikan yang kuahnya berwarna kuning. Gangan dapat dibuat dari berbagai jenis ikan. Namun, menurut Pak Amat sang pemilik rumah makan, jenis ikan yang paling nikmat dijadikan Gangan adalah kepala ikan ketarap. Pak Amat ternyata tidak berbohong. Kepala ikan ketarap yang telah dipotong-potong benar-benar membentuk fusi yang padu dengan bumbu kuah kuning. Meskipun berasal dari bagian kepala, daging ikan sangat banyak dan terasa lembut di mulut. Kuah kuning kaya rempah juga membawa sensasi tersendiri ketika dihirup. Rasa manis dan sedikit gurih menyatu dengan rasa asam yang berasal dari potongan nanas segar. Satu porsi sup gangan kepala ikan ketarap ini dapat dinikmati dengan harga Rp 60.000,00.

Menu selanjutnya yang tidak kalah “maknyus” adalah cumi goreng tepung. Potongan kenyal cumi berbalur tepung renyah dan gurih sukses menggoyang lidah. Belum lagi ikan bawal yang dibakar dengan bumbu kuning. Berbeda dengan bumbu kuning yang biasanya sangat identik dengan bau kunyit, bumbu yang melekat pada ikan ini lebih dominan dari daun jeruk. Bumbunya begitu meresap hingga ke serat-serat daging ikan bawal yang dibakar sempurna.

Di samping ikan bawal, ikan kurisi bakar siap disantap. Ikan ini kebetulan baru saya temui di rumah makan ini. Ikannya tidak besar dan berwarna merah muda segar. Ketika dicoba, daging ikannya yang sangat lunak seolah langsung lumer di mulut. Mencicipi ikan kurisi bakar paling cocok disandingkan dengan sambal terasi yang membuncahkan selera makan. Dua menu masih menunggu, tumis genjer dan tumis kecipir. Batangan genjer yang telah dipotong-potong dimasak dengan tauco, sedangkan kecipir ditumis sederhana dengan bawang putih dan cabai giling. Keduanya memberikan warna tersendiri dalam makan malam kali itu.

Pelesir selama 5 hari di Negeri Sejuta Pelangi tidak terasa harus berakhir. Pada akhirnya setiap perjalanan tentu akan mencapai titik akhir, menyisakan suatu penghujung bernama rumah. Dan Pulau Belitung sungguh merupakan sebuah tempat pelarian diri yang sangat manis dari kejenuhan di ibu kota. A very sweet escape.

Satu Tanggapan to “Eksplorasi Negeri Sejuta Pelangi: Melancong ke Bumi Belitong”

Trackbacks/Pingbacks

  1. Eksplorasi Negeri Sejuta Pelangi: Jelajah Objek Rahasia | orkestraksara - 28 Mei 2014

    […] Tapi prinsip itu langsung buyar ketika sebuah tawaran menarik sampai kepada saya beberapa waktu lalu. Sebuah liburan “gratis” ke Pulau Belitung, tempat yang pernah saya kunjungi dua tahun lalu. Yap, liburan ini terbilang gratis karena disponsori oleh keluarga sehingga saya tidak perlu menguras tabungan pribadi. Praktis, kesempatan ini merupakan kali kedua saya melakukan Eksplorasi Negeri Sejuta Pelangi. […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: