Orkes Hati Nurjanah

1 Jul

“Pokoknya gue ogah nyanyi ‘ni malem!” tukas Nur.

“Lu kudu main! Liat tuh penonton udah ngejubel nungguin penyanyi dangdut kesohor di kampung ‘ni!” Rohman balas menggertak. Tangannya menunjuk arah panggung.

Nur dapat mendengar namanya dielu-elukan. Biduan itu mengintip dari celah di gorden usang yang memisahkan ruang ganti dengan panggung. Ratusan penonton mendesak idola Kampung Dendang itu segera keluar dan memuaskan jiwa-jiwa yang haus hiburan.

“Gue capek, Man!” Nur terduduk lesu di depan meja rias. Wajahnya sudah dibubuhi make up tebal.

“Kagak bisa! Kalo lu kagak naik panggung, kontrakan nyang udeh nunggak tiga bulan itu kagak kebayar. Ayolah, Nur,” dengan lirih Rohman memohon sembari mengusap pipi kekasihnya itu. Di luar, suara orkes mulai membahana. Pekikan keyboard diiringi tabuhan gagah drum dan lengkingan gitar listrik.

“Elu cuman mikirin dirilu sendiri doang, Man! Lu kagak ngarti pan pagimane gue capeknye kaya begini!” air mata jatuh di pipi Nur.

“Nur, ini semua gua lakuin demi kita. Demi … kawinan kita,”

Nur tersentak. Kalimat tadi tiba-tiba mampu melelehkan niat mogok manggungnya. Nur sadar. Rencana pernikahannya memang berbeda dari orang kebanyakan dan untuk itu ia memerlukan uang yang banyak, sangat banyak. Ia ingin menjadi istri Rohman yang sah, tetapi hal itu hanya bisa terjadi jika mereka menikah di tempat yang sangat jauh itu.

Nur menyerah. Dipakainya rambut palsu berwarna cokelat tua, menutupi rambut cepaknya. Dan ketika ia mengenakan gaun merah berkelap-kelip, transformasi itu kian sempurna. Nurhadi bermetamorfosa menjadi Nurjanah, sang biduan dangdut kenamaan di Kampung Dendang.

 

*Flash fiction pertama yang coba saya buat. Cukup sulit ternyata menceritakan sebuah sketsa dengan keterbatasan kata.

*Pada akhirnya, FF ini dimuat di di buku Kumpulan Flash Fiction Ninelights: Mahakarya

8 Tanggapan to “Orkes Hati Nurjanah”

  1. samuel arman 2 Juli 2012 pada 7:57 pm #

    flash fiction itu apa sih? tp keren bgt lho alur ceritanya😀 n metafora “lengkingan gitar listrik” itu sungguh gokill😀

    • cinthyayuanita 2 Juli 2012 pada 11:08 pm #

      Flash fiction itu jenis fiksi yang sangat singkat kak, biasanya 200-an kata. Ada juga yang cuma dengan 100 kata tapi bisa begitu bercerita dengan apiknya. Di situlah letak tantangannya. Ayo dicoba, kak!😀

  2. rezanufa 20 Juni 2014 pada 12:44 pm #

    Hampir dua jam saya muter-muter di blogmu. Tulisanmu banyak yang bagus. Sudah pernah menerbitkan buku fiksi?

    • cinthyayuanita 20 Juni 2014 pada 2:19 pm #

      Wah terima kasih banyak. Saya juga tadi sempat mampir ke blog Mas Reza. Tulisan-tulisan saya kayaknya masih kalah jauh sama Mas. Kebetulan baru beberapa antologi gabungan dengan penulis lain keluaran penerbit indie🙂

      • rezanufa 20 Juni 2014 pada 3:06 pm #

        Aduh, makasih udah mampir. Tapi gak perlu dibandingin atuh.😀
        Kamu pernah nulis novel sampai rangkum tapi belum terbit?

      • cinthyayuanita 20 Juni 2014 pada 3:18 pm #

        Belum ada yang selesai hehee😀

      • rezanufa 20 Juni 2014 pada 3:26 pm #

        Oalah, sayang banget wawasan dan skill nullismu itu. Atau jangan-jangan kamu ini ghostwriter? Hehe..

Trackbacks/Pingbacks

  1. Blog, Dangdut, dan Fiksi Kilat | orkestraksara - 5 Januari 2014

    […] setelah mencari wangsit kesana-kesini, flash fiction pertama saya yang berjudul Orkes Hati Nurjanah dapat diselesaikan. Ajaibnya, eksperimen pertama tersebut berhasil masuk ke dalam 10 besar […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: