Ketika Macan Berkicau: Sebuah Kritik Atas Kesewenangan Opini

29 Jun

Sudah dua hari belakangan ini hati saya dibuat panas dan mata saya menjadi pedas. Ada fenomena baru yang masih hangat: sebuah polemik di ranah jejaring sosial dengan tema besar “Buruknya Pelayanan RS di Indonesia”. Waw! Membaca satu kalimat itu saja hati saya sudah mencelos. Kontroversi tidak berhenti sampai di situ. Linimasa si pembuat ulah kemudian diramaikan kicauan 140 kata dalam jumlah fantastis. Semuanya menceritakan hal negatif seputar pelayanan kesehatan di Indonesia (baca: mendiskreditkan rumah sakit, dokter, dan pelayan kesehatan lainnya). Bagi yang penasaran ingin mengikuti kicauan-kicauan tersebut, silakan mengklik link di bawah ini

<script src=”http://chirpstory.com/js/parts.js”></script><script>Togetter.ExtendWidget({id:’12011′,url:’http://chirpstory.com/’});</script>

Sebagai salah satu oknum yang disebutkan dalam kultwit-atau-apalah-itu-namanya-saya-tidak-peduli, saya cukup tercakar oleh tajamnya paruh si Macan berkicau. Meskipun hanya berstatus sebagai dokter muda–yang mungkin memiliki strata terendah dalam kehidupan perumahsakitan–entah kenapa saya begitu geram dan naik pitam membaca semua racauan tersebut.

Saya (semoga) bukanlah orang kolot yang tertutup pada kritik. Saya juga (mudah-mudahan) bukanlah manusia munafik atau kelewat naif. Saya tidak menampik bahwa fenomena itu memang ada dan nyata. Saya tidak akan menutup-nutupi bahwa seringkali rumah sakit bertindak semena-mena. Saya tidak mengatakan bahwa semua dokter adalah malaikat penyelamat nyawa dengan kepribadian yang sempurna. Saya juga akan berkata jujur bahwa kami, dokter muda, memang tidak jarang lalai dalam proses pembelajaran praktik klinik.

Yang mengusik nurani saya adalah generalisasi yang dibuat oleh sang penulis! Secara terang-terangan, dia menyebut “para dokter”. Camkan itu! Cetak tebal, garis bawahi, dan warnai dengan tinta merah! Para dokter. Para dokter. Para dokter. Berkali-kali pun dibaca, tetaplah makna yang tersirat dari kata “para dokter” adalah “semua dokter yang ada di Indonesia”. Semua, tanpa eksklusi. Padahal, pada kenyataannya banyak sekali guru saya yang sangat mengutamakan pasiennya, baik dari segi pelayanan medis maupun moral.

Dia juga berbicara perihal kebiasaan “para dokter” yang berorientasi pada uang dalam rangka mengembalikan modal kuliah yang mahal. Astaga! Mendengar ini, betapa sedih hati ribuan mahasiswa kedokteran yang memiliki visi memajukan kesehatan bangsa. Baiklah, beberapa mungkin ada yang berpikir ingin menjadi dokter agar cepat kaya. Tapi, faktanya, saya punya banyak teman yang ingin menjadi dokter dilandasi berbagai alasan mulia, yang sangat jauh dari faktor material. Lagipula, wahai awam, baca ini baik-baik! Guru-guru kami bahkan berulang kali mendoktrin kami dengan kalimat ini, “Kalau mau kaya jangan jadi dokter!”. Kami tidak diajarkan untuk mendayagunakan pasien sebagai mesin pencetak uang! Kami diajarkan untuk melayani, menjadi seorang pelayan.

Masih banyak racauan si Macan yang ingin saya sanggah mentah-mentah. Tapi apalah gunanya, mungkin hanya akan terlihat sebagai alibi belaka di mata orang-orang yang kelewat skeptis semacam itu. Terserah saja bila dia–dan sebagian orang lainnya–ingin terus menghujat profesi ini tanpa melihat dari berbagai sisi. Terserah saja bila mereka mau menggeneralisasi semua institusi pelayanan kesehatan dan petugas medis tanpa validasi bukti.

Mereka hanya tidak tahu keluh kesah kami. Mereka bahkan tidak peduli betapa kami tengah berbenah diri.

Apakah mereka yang berkoar-koar itu sudah tahu perihal peraturan baru di ibukota: setiap korban kecelakaan lalu lintas akan mendapat pengobatan gratis di rumah sakit. Apakah mereka sudah pernah mendengar sistem asuransi universal yang akan memenuhi seluruh kebutuhan pelayanan kesehatan mereka? Apakah mereka sadar bahwa kami kini bekerja di bawah slogan patient’s safety? Apakah mereka mau tahu?

Ah sudahlah, akan tiba suatu masa dimana mereka yang dulu menghujat, nantinya tertawa getir sembari menelan kejahatan opini yang mereka sebut sebagai fakta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: