Basa-Basi Dalam Sebuah Selebrasi

25 Jun

Tak ada yang terbilang istimewa dalam selebrasi Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2012, bahkan gaungnya pun tak seriuh hari peringatan lain. Akankah perayaan ini berakhir sebagai basa-basi belaka?

Masih terekam jelas euforia peringatan Hari Bumi pada tanggal 22 April lalu. Masyarakatbaik yang memang mafhum akan esensinya, maupun yang sekedar larut dalam animo semuberbondong-bondong mematikan listrik dan peranti elektronik selama satu jam. Masih segar pula di ingatan, betapa setiap tanggal 1 Mei masyarakat begitu tanggap menyambut Hari Buruh Seduniaentah itu karena simpati terhadap nasib para buruh atau antipati terhadap efek kemacetan yang ditimbulkan.

Lantas apa yang terjadi di bulan Juni tanggal 5? Rasanya tidak cukup banyak yang menaruh perhatian pada tanggal tersebut, bahkan linimasa jejaring sosial pun sepi dari isu “5 Juni”.

Sangat disayangkan, pamor Hari Lingkungan Hidup Sedunia agaknya belum begitu mewabah. Ironis. Kita seolah melupakan sebuah elemen penting yang sebenarnya tidak bisa terlepas dari kehidupan kita sehari-hari. Pemerintah memang melakukan banyak hal, mulai dari ikut serta dalam pencanangan Tahun Badak Internasional, perencanaan konsep Ekonomi Hijau, atau pemberdayaan program Green Province.

Presiden Republik Indonesia bahkan memberikan sambutan khusus dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Namun, isu krusial ini tentu tidak cukup dihadapi dengan rangkaian kata-kata saja. Kita memerlukan aksi nyata untuk menghentikan penggundulan hutan, pemberangusan terumbu karang, dan berbagai upaya vandalisme kekayaan hayati. Kita memerlukan sebuah simbolisasi aksi yang lebih “membumi”, yang melibatkan partisipasi aktif setiap individu.

Mahasiswa Sebagai Pionir

Terlalu muluk rasanya bila membicarakan program para pembesar. Generasi muda tentu jangan hanya berpuas diri menjadi pengikut. Mahasiswa pun dapat menjadi pionir preservasi lingkungan hidup. Tidak perlu dengan cara menggusur pembalakan liar atau menangkap para pemukat ilegal. Kita bisa memulainya dari hal sederhana di lingkup yang kecil.

“Gerakan Kertas Bolak-Balik” mungkin bukan hal baru di lingkungan institusi pendidikan. Upaya penghematan kertas dengan cara menggunakan kedua sisinya ini pernah sangat populer beberapa waktu lalu. Pertanyaannya adalah, bagaimana konsistensi pelaksanaan program tersebut? Sungguh disayangkan apabila program brilian itu mandek di tengah jalan, entah karena mahasiswa yang setengah hati atau perihal suasana birokrasi yang tidak kondusif. Di satu sisi staf pengajar tidak memberikan dukungan secara eksplisit. Di sisi lain, mahasiswa juga menjadi takut untuk membuat tugas yang antimainstream seperti itu. Maka jadilah “Gerakan Kertas Bolak-Balik” ini benar-benar terbolak-balik nasibnya akibat ketidakselarasan komitmen kedua pihak. Mahasiswa seyogyanya menunjukkan perannya dalam membangkitkan kembali eksistensi “Gerakan Kertas Bolak-Balik” ini.

Tidak berhenti sampai di situ, lingkungan kampus juga dapat menjadi tempat konservasi lingkungan hidup. Bukan, tentu bukan dengan cara memelihara hewan atau tanaman langka. Akan tetapi, kontribusi nyata dapat diberikan dengan cara membangun sebuah tempat daur ulang. Institusi pendidikan tentu menyumbang andil yang cukup besar terhadap akumulasi sampahkhususnya kertasdi lingkungan.

Untuk itu, tentu akan menjadi aksi yang sangat berarti apabila setiap institusi pendidikan berkontribusi dalam hal mendaur ulang kertas. Bayangkan, dengan merealisasikan daur ulang kertas, berbagai penghematan telah kita lakukan. Dibandingkan dengan produksi kertas dari bahan mentah, daur ulang kertas dapat menghemat penggunaan listrik hingga 70% serta mengurangi pencemaran udara di atas 50%. Selain itu, berjuta-juta pohon tentu akan terselamatkan dari pembalakan ilegal yang memperburuk efek rumah kaca.

Sebenarnya masih banyak langkah kecil dan sederhana yang bisa kitagenerasi mudalakukan dalam rangka pelestarian lingkungan hidup. Apapun bentuknya, bagaimanapun caranya, fokus utamanya adalah jangan sampai perhelatan tahunan setiap tanggal 5 Juni itu berakhir sebagai wacana yang tak konkret. Tidak perlu ada hari khusus untuk menjaga lingkungan hidup. Kita bisa melakukannya setiap hari, dimulai dari detik ini. Sudah siap menjadi agen perubahan bagi lingkungan hidupmu?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: