Eksplorasi Negeri Sejuta Pelangi: Senja Pertama dan Kultur Syok

6 Jun

Selama empat hari pertama di Pulau Belitung, saya tinggal di rumah dinas kakak saya di Desa Simpang Pesak, Kecamatan Dendang, Kabupaten Belitung Timur. Meskipun judulnya adalah “desa”, saya tidak gentar sedikitpun. Meskipun katanya daerah itu sangat sepi dan gelap kalau malam, meskipun katanya rumah dinas kakak saya itu hampir dikelilingi hutan. Sebaliknya, saya malah sangat antusias menantikan empat hari pertama ini. Sebuah pelarian yang manis dari ibukota, pikir saya. Minggat dari ibukota yang super sumpek ini memang menjadi cita-cita saya yang tak terbendung.

Dan benar saja! Empat hari itu benar-benar menjadi pengalaman yang tak tergantikan. Ketika mendarat di Bandar Udara H.A.S Hanandjoeddin Tanjung Pandan, kami sekeluarga dijemput oleh kakak saya dan seorang petugas Puskesmas tempat kakak saya berdinas. Bapak petugas Puskesmas itu sangat ramah dan begitu supel. Baru bertemu sebentar, dia sudah langsung mengakrabkan diri dengan kami. Sepanjang perjalanan dari bandara menuju rumah dinas, ada saja bahan obrolan yang dikeluarkan si Bapak—yang namanya sangat sulit sampai-sampai saya tidak mengingatnya.

Saat itu saya tidak banyak bersuara. Alasan pertama, saya mabuk darat! Ya, konyol memang. Tidak biasanya saya mabuk darat, tapi kali ini bisa-bisanya saya sampai dibikin mual dan pening sepanjang perjalanan. Masalahnya, jalanan di Pulau Belitung ini amat sangat lengang, bertolak belakang dengan jalan di ibukota. Tidak hanya itu, kontur jalanan di daerah ini sangat “menantang”, persis wahana di taman bermain. Meliuk-liuk, menanjak, menurun. Intinya, menggelitik perut sampai menimbulkan sensasi mual. Belum lagi dengan kecepatan berkendara si Bapak yang mirip pembalap formula satu. Kombinasi ketiga hal itu sukses membuat saya cuma duduk terpekur di jok belakang.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Alasan kedua mengapa saya hanya berdiam diri adalah karena saya tidak begitu paham apa yang si Bapak bicarakan. Pasalnya, Bapak yang asli dari daerah Gantung, Belitung Timur ini menggunakan logat dan kosakata Melayu yang sangat kental. Sementara saya kesulitan menangkap maksud dan perkataan si Bapak, kakak saya terlihat sangat nyambung dan menikmati perbincangan di “wahana” itu. Oke, lebih baik saya diam sebelum isi perut ini tumpah ruah.

Begitu sampai di rumah dinas kakak saya, kami disambut dengan celotehan-celotehan nyaring dari rumah sebelah. Ya ampun! Ternyata ada tiga bocah, kecil-kecil banget ukurannya, lagi main rumah-rumahan pake kardus di halaman rumah tetangga! Mereka langsung berteriak memanggil kakak saya begitu yang bersangkutan turun dari mobil. Ah, mereka terlihat sangat akrab, bocah-bocah itu dan kakak saya. Ada tiga anak di situ. Yang paling besar namanya Wahyu. Bocah laki-laki kelas 1 SD itu paling kalem dibanding dua temannya. Yang berukuran sedang namanya Tata, anak perempuan usia 5 tahun yang paling “garang” di antara mereka. Nah, yang paling kecil inilah favorit saya. Eji. Usianya masih 3 atau 4 tahun, badannya bulat, rambutnya bondol, kalau tersenyum amat sangat manis, dan yang penting bentuknya bulat kayak bola. Eji akhirnya saya panggil dengan sebutan “si bulat” atau “si unyil”.

Secara bergantian ketiga bocah itu memanggil dan mengajak ngobrol kakak saya yang mereka panggil dengan sebutan “Om Dokter Adit” itu. Ih, curang banget! Asyik banget ya kayaknya kalo bisa main sama mereka tiap hari gitu! Tapi, ketika saya mulai mendekati mereka, mereka malah langsung pasang mimik malu-malu. Saya berusaha membina rapport dengan mereka, mulai dari berkenalan sampai membahas topik-topik ala bocah. Awalnya mereka masih sangat malu-malu dan terlihat takut, maka saya pun mulai putus asa dan berbalik arah ke rumah kakak saya.

Tapi, keadaan langsung berbanding terbalik beberapa saat kemudian. Tak dinyana tak diduga, tiba-tiba ketiga bocah itu muncul di balik pintu rumah kakak saya, terkikik-kikik memandang ke dalam. Sesaat kemudian, entah bagaimana caranya, tiba-tiba saya sudah ada di luar rumah, ditarik oleh tangan-tangan mungil itu. Kemudian mereka sibuk berteriak-teriak, “Tante, Tante, ayo main, Tante! Ayo, Tante, kita foto Tante! Ayo, ayo… Tante, Tante, Tanteeee…”. Ini nih bocah yang tadi pada malu-malu? Kenapa bisa tiba-tiba jadi brutal gini??!!

Empat hari di sana, saya cukup dibuat kewalahan dengan bocah-bocah itu. Mereka berulang kali menghampiri ke rumah, menarik keluar, mengajak main, daaaan… bicara dalam bahasa-bahasa yang tidak saya mengerti! Seringkali saya kesulitan mengerti apa yang mereka bicarakan sampai mereka harus mengulang-ulang perkataannya, bahkan tak jarang sampai membuat mereka kesal. Eji, si kecil, bahkan pernah sampai mengajari saya beberapa kosa kata Melayu dan menerjemahkannya ke Bahasa Indonesia! Saya tidak akan melupakan tiga bocah ajaib yang mewarnai hari-hari saya di sana. Sekarang saya bahkan sangat amat kangen dengan celotehan mereka, “Tante nak ape? tante nak ape?”.

Senja Pertama

Hari pertama di Belitung terasa sangat “hangat”, baik secara harfiah maupun konotatif. Cuaca saat itu memang sangat panas, matahari bersinar dengan sangat liar hingga panasnya seperti menusuk. Namun, kehangatan dalam konteks ini adalah mengenai relasi dengan penduduk sekitar. Begitu kami menginjakkan kaki di rumah dinas, beberapa tetangga—yang juga merupakan perawat atau petugas Puskesmas—langsung memberikan sambutan yang sangat ramah. Mereka mengundang kami berkunjung ke rumahnya, mengajak ngobrol tentang berbagai hal, bercerita panjang lebar mengenai tanah kelahiran mereka itu, bahkan ada yang mengajak jalan-jalan dan memberikan makanan khas setempat. Ah, ini dia lingkungan yang sangat saya idamkan, bukan yang individualistis seperti di ibukota. Masyarakat Belitung agaknya masih memiliki cita rasa kebersamaan dan tenggang rasa yang amat sangat kental. Mereka juga mengganggap tamu pendatang sebagai bagian dari mereka.

Sore itu, saya sedang bermain dengan bocah-bocah itu. Tiba-tiba saya dihampiri seorang bidan yang sedang jaga malam di puskesmas yang masih satu kompleks dengan rumah dinas. Bidan itu menyapa saya ramah lalu mengundang saya ke ruang keperawatan. Saya sungguh terkejut, tapi tetap memenuhi ajakannya. Di sana kami ngobrol begitu banyak hal, mulai dari tempat wisata di Belitung, kegiatan Puskesmas, atau membicarakan kebiasaan-kebiasaan kakak saya yang (katanya) dikenal sebagai dokter yang baik dan rajin. Awalnya saya agak sungkan dan (lagi-lagi) terkendala dengan bahasa, tapi lama-kelamaan kebekuan itu cair juga. Orang-orang di sana begitu baik, sampai sulit diungkapkan dengan kata-kata. Baru satu hari saya berada di sana, semua orang yang saya temui menunjukkan sikap yang amat baik. Bahkan keesokan paginya, tiba-tiba kakak bidan itu menjemput saya untuk mengajak jalan-jalan keliling desa. Ya ampun! Sungguh kejadian langka yang jarang saya jumpai di ibu kota!

Hanya dalam satu hari, mereka berhasil menciptakan citra yang sangat positif di mata saya. Hanya dalam satu senja, saya dibuat terpukau dengan kearifan lokal yang begitu kentara dalam kehidupan mereka. Saya akan sangat merindukan suasana ini. Itu pasti! Ah, andai saja kultur semacam ini bisa dijadikan oleh-oleh dan dibawa pulang ke Jakarta.

 

Lihat juga Eksplorasi Negeri Sejuta Pelangi: Sebuah Kebetulan Yang Manis

Bersambung ke Bagian 3 : Selamanya Koas Boneng

Satu Tanggapan to “Eksplorasi Negeri Sejuta Pelangi: Senja Pertama dan Kultur Syok”

Trackbacks/Pingbacks

  1. Eksplorasi Negeri Sejuta Pelangi: Sebuah Kebetulan yang Manis « orkestraksara - 6 Juni 2012

    […] Bersambung ke https://orkestraksara.wordpress.com/2012/06/06/eksplorasi-negeri-sejuta-pelangi-senja-pertama-dan-kul… […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: