Angkot

1 Jun

Sadar atau tidak, kita sebagai manusia juga seringkali bertingkah seperti supir angkot itu. Terperangkap–atau sengaja menjebak diri sendiri–pada satu ruang atau waktu yang sama sekali tidak pasti. Meskipun berada dalam ketidakpastian, seringkali kita justru memilih bertahan tanpa membuat suatu perubahan, alih-alih berani mengambil risiko untuk bergerak maju.

Siang tadi, setelah absen beberapa minggu, akhirnya saya kembali menjajal moda tranportasi ini. Kali ini saya bukan ingin mengulas perihal angkot apa yang saya naiki, trayek mana yang saya lewati, atau setampan apa supir-supir yang mengantar saya. Tema ini sebenarnya sudah muncul sejak lama, tetapi menjadi semakin membuncah karena kejadian hari ini. Dengan berlatar angkot nomor 0* (disamarkan demi keselamatan pengelola angkot), saya mendapat ilham untuk membuat tulisan ini.

Siang tadi, seperti pengalaman yang sudah-sudah, saya dibikin kesal setengah mati oleh sang pengemudi angkot. Apa pasal? Sudah menjadi rahasia umum jika angkot memiliki hobi berhenti di sembarang tempat, ngetem istilahnya. Tapi, entah kenapa, angkot jurusan kampus saya ini terlalu gencar melakukan hobinya. Setiap beberapa meter sekali, supir-supir itu begitu rajin memarkir mobilnya sembarangan lalu bercokol di sana dalam waktu cukup lama. Ironisnya, entah mereka ini polos atau naif atau apa, mereka justru memberhentikan mobilnya di tempat-tempat sepi yang tidak potensial untuk mengambil penumpang. Saya sebagai penumpang senior–alias yang lebih dulu duduk di dalam–tentu bisa maklum jika si angkot berhenti untuk memenuhi kebutuhan penumpang lain yang juga ingin naik. Masalahnya, si abang angkot ini tetap berhenti walau tidak ada oknum yang menghentikan mobilnya untuk ditumpangi!

Tidak jarang si abang dengan sengaja ‘parkir’ di bawah sebuah jembatan penyeberangan yang sangat sepi. Sangat sepi, saya tekankan sekali lagi! Tidak ada satu orang pun yang berseliweran. Intinya, tidak ada tanda-tanda penumpang yang akan naik. Dan benar saja! Tebakan saya tepat. Setelah menunggu lama, tetap tidak ada penumpang baru yang datang. Kalaupun ada, biasanya mereka muncul setelah menit ke-5. Alhasil, waktu bisa habis di jalan bukan hanya karena kemacetan, melainkan juga ulah semena-mena supir angkot ini. Tragisnya, hampir semua abang angkot keras kepala bukan main. Hanya ada dua alasan yang membuat mereka sudi beranjak dari tempat persemayamannya: penumpang baru atau pelototan penumpang lama.

Ada lagi kejengkelan yang kerap membakar ubun-ubun saya saban kali berada di dalam angkot. Dengan gaya berkendara yang hampir menyaingi pembalap formula, para supir itu seolah tidak sadar ada beberapa nyawa yang dititipkan kepadanya. Mereka menyelip sesuka hati, mengerem mendadak tanpa tedeng aling-aling. Selain itu, ada satu hal lagi yang sering membuat saya panas. Mereka suka sekali memberikan harapan palsu. Ya, nggak heran sih, mereka kan juga laki-laki dan tiap laki-laki pasti suka banget jadi PHP, pemberi harapan palsu (loh, loh, kok bahasannya jadi begini?).

Seperti yang saya alami tadi siang. Alkisah, saya baru saja menyelesaikan suatu urusan di daerah S dan harus segera menuju kampus untuk mengikuti rapat penting. Guna mengejar waktu, tentu saya memilih angkot yang tidak ngetem. Ada satu angkot yang sekonyong-konyong merapat ke arah saya dengan supir yang ribut berteriak “Langsung, langsung, langsung!”. Ah, ini dia, abangnya keliatan semangat banget, pasti gue bisa cepet sampe kalo naik yang ini. Di dalemnya juga udah ada penumpang lain, cuma satu sih, tapi kan bisa meminimalisasi kemungkinan dia ngetem. Jadilah saya menaiki angkot yang ternyata penuh tipu daya itu.

Setelah saya naik, angkot itu ternyata tidak kunjung bergerak. Lima menit berlalu. Saya masih berusaha sabar meskipun dibayang-bayangi wajah geram teman-teman yang menunggu saya di kampus. Oh, oke, nggak apa-apa deh ngetem sebentar di terminal sini, yang penting nanti pas udah jalan nggak berhenti-berhenti lagi. Mencoba berpikir positif, saya terus optimistis bahwa abang angkot ini akan segera melepaskan pedal rem. Ternyata benar! Ah, memang tidak baik berprasangka buruk.

Namun, belum sampai 10 meter angkot itu bergerak, tiba-tiba dia berhenti lagi selama lima menit. Siklus ‘bergerak sepuluh meter-berhenti lima menit’ itu terus berulang hingga beberapa kali, tanpa mendapatkan hasil apa-apa. Puncaknya, di sebuah tikungan jalan, angkot ini memecahkan rekor ‘ngetem ilegal’ versi saya: 15 menit! Lima belas menit lamanya saya dan seorang penumpang lainnya dibuat kesal, menunggu dalam ketidakpastian. Abang angkot itu bahkan dengan cueknya membunyikan klakson berkali-kali dan meraungkan bunyi gas kuat-kuat, entah untuk apa. Untuk menarik minat penumpang? Kok saya tidak melihat esensinya, ya? Meskipun saya sudah melotot selebar saya bisa dan partner perjalanan saya sudah mulai mengoceh, abang angkot itu tetap tidak peduli. Dia tetap berhenti, memainkan klakson dan pedal gas, sambil berteriak “Langsung, langsung, langsung!”. Emosi saya sungguh bergolak mendidih. APA??! LANGSUNG?! Setelah apa yang lo lakukan ini, lo masih berani bilang ‘LANGSUNG’?! Tadi juga lo bilang ‘Langsung’, tapi nyatanya sampe sekarang jalan satu kilo pun belum ada!

Yang membuat saya tidak habis pikir adalah kenapa dia harus bertahan begitu lama di satu tempat yang tidak pasti? Sudah jelas-jelas tidak ada penumpang, kenapa dia hanya terus diam, alih-alih bergerak dan berpikir bahwa jalan masih panjang. Masih banyak kemungkinan mengais rezeki di depan sana, masih banyak penumpang yang perlu diangkut di tempat lain.

Sadar atau tidak, kita sebagai manusia juga seringkali bertingkah seperti supir angkot itu. Terperangkap–atau sengaja menjebak diri sendiri–pada satu ruang atau waktu yang sama sekali tidak pasti. Meskipun berada dalam ketidakpastian, seringkali kita justru memilih bertahan tanpa membuat suatu perubahan, alih-alih berani mengambil risiko untuk bergerak maju. Mungkin ini yang dinamakan dengan ‘sulitnya move on‘. Ya, memang benar bahwa kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di depan. Tapi, bukankah tidak ada yang menjamin juga bahwa dengan berdiam diri saja keadaan akan berubah menjadi lebih baik? Dari analogi supir angkot ini, saya malah menangkap kerugian yang begitu besar. Rugi waktu, rugi tenaga, rugi biaya, rugi kredibilitas, dan kerugian-kerugian lainnya.

Sialnya, bukan hanya diri kita sendiri yang kerap menanggung rugi. Dalam kasus ini, supir angkot itu juga merugikan saya dan penumpang lain yang terlanjur terlibat di dalamnya. Dalam realitanya, setiap keputusan yang kita ambil akan selalu memberikan dampak bagi orang lain, terlebih orang-orang terdekat. Orang-orang yang, baik secara sukarela maupun terpaksa, masuk ke dalam hidup kita. Apakah kita tega merugikan mereka melalui keputusan yang kita ambil? Seyogyanya, manusia yang arif adalah mereka yang mampu mengambil keputusan dengan mempertimbangkan keberadaan orang-orang di sekitarnya.

Dari ‘angkot penguras emosi’, saya pun belajar untuk lebih peka. Peka terhadap kesempatan untuk maju, alih-alih bertahan pada sesuatu yang tak tentu. Peka untuk lebih mengindahkan orang-orang terdekat, alih-alih mengabaikannya.

Saya tidak mau menjadi seperti angkot yang pada akhirnya akan dibenci dan ditinggalkan oleh penumpangnya. Bagaimana dengan Anda?

Satu Tanggapan to “Angkot”

Trackbacks/Pingbacks

  1. Manusia dan Ide-Ide Kembar | orkestraksara - 11 Mei 2013

    […] komentar. Lucunya, status yang ia buat saat itu mirip dengan tulisan yang pernah saya buat disini. Judulnya sama-sama “Angkot”. Ide yang dikemukakan pun hampir sama. Kami sama-sama […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: