Udar Rasa: Bahagia Itu (Tidak) Sederhana, Nona!

28 Mei

Sadarkah kita, ketika kita bahagia, hampir pasti ada orang lain yang terpaksa mengorbankan kebahagiaannya demi kebahagiaan kita?

Beberapa kali saya melihat ungkapan “Bahagia Itu Sederhana” di jejaring sosial. Yang paling sering adalah dijadikan tagar oleh beberapa teman ketika mereka menulis status pada linimasa. Setelah sarapan nasi uduk di tikungan jalan yang (menurutnya) nikmat luar biasa, tidak lupa mereka bubuhkan “#BahagiaItuSederhana” di akhir statusnya. Habis disenyumi oleh pujaan hati di kampus (yang mana belum tentu senyum itu benar-benar ditujukan untuk orang terkait), langsung meramaikan linimasa dengan #BahagiaItuSederhana. Dan sebagainya dan sebagainya.

Saya lantas berpikir. Apa benar sebegitu mudahnya proses merapai kebahagiaan? Bagi saya tidak demikian adanya. Awalnya saya acuh tak acuh terhadap fenomena tagar #BahagiaItuSederhana yang menyemarakkan jejaring sosial tersebut. Toh, yang merasakan kebahagiaan itu mereka, jadi memang mereka yang tahu seberapa besar kadar kebahagiaan yang bisa mengeksitasi ambang batasnya.

Tapi, malam ini saya sungguh terpaksa mengutarakan penolakan saya terhadap tiga kata keramat itu. Entahlah, setuju atau tidak, menurut saya bahagia itu sama sekali tidak sederhana. Setidaknya bagi saya seperti itu. Ya, saya: orang yang hampir tidak pernah bisa mengejar kebahagiaannya sendiri.

I ain’t worthy to pursue my own happiness. That’s my destiny. And I (try to) accept it :’)

Bahagia Vs Berkorban

Kembali lagi pada lead di atas. Ya, setelah melalui pemikiran panjang, sampailah saya pada rumusan di atas. Ketika kita bahagia, bisa jadi ada orang lain yang menderita di balik kebahagiaan kita. Contohnya sederhana. Misalnya saja, dalam perebutan kursi Perguruan Tinggi Negeri, mereka yang lolos tentu akan merasa bahagia bukan kepalang, terlebih jika sesuai dengan cita-cita yang diimpikannya. Namun, di sisi lain tentu banyak anak muda lain yang bersedih hati karena harus merelakan angan-angannya.

Ah, mungkin contoh itu terlalu muluk, ya. Bagaimana dengan konsep sebuah pertemanan atau hubungan sepasang kekasih? Seringkali demi menyenangkan salah satu pihak, pihak yang lain mengorbankan keinginannya sendiri. Misal, si cewek ingin belanja ini itu, ternyata sang cowok sudah punya rencana lain. Jadilah salah satu dari mereka harus mengalah. Selalu seperti itu. Siklus kehidupan (normal). Bahagia dan berkorban.

Tapi, berdasarkan penerawangan saya–saya bukan cenayang, hanya belajar dari 22 tahun kehidupan–di dunia ini ada dua kelompok orang. Ada orang-orang yang memang ditakdirkan bisa selalu mendapatkan apa yang mereka kehendaki. Dengan segala cara. Semacam putri raja atau pangeran antah berantah di dunia nyata. Bisa pergi ke sana ke sini, mendapatkan ini itu dengan mudahnya. Yang saya maksud di sini bukan soal materi, tapi proses mendapatkan sesuatu. Tentang keberuntungan, tentang hal kasat mata yang tak dimiliki setiap orang.

Saya? Saya tentu tidak termasuk di dalam kelompok itu. Sekalipun telah dihampiri oleh kesempatan, sekalipun telah mengusahakan, saya sungguh sulit meraih kebahagiaan karena satu dan lain hal. Entah kenapa. Takdir? Bisa jadi.

Forgetting is much easier than forgiving. Kalimat itu terkadang menjadi penghibur yang sangat mujarab. Melupakan cita-cita dan keinginan memang ternyata lebih mudah daripada memaafkan keadaan yang menjadi penghalang. Saya pribadi merasa akan lebih mudah berpura-pura amnesia bahwa saya memiliki cita-cita ini dan itu, punya keinginan untuk begini dan begitu. Dibandingkan berdamai dengan kenyataan.

Pada mulanya saya agak sulit menerima takdir semacam ini. Lagi-lagi, untuk kesekian kalinya saya mengatakan bahwa saya adalah penganut paham keadilan sosial. Seyogyanya semua seimbang, tidak ada yang timpang. Baiklah, mungkin memang takdir tidak bisa diubah. Tapi, bukankah kepribadian bisa diubah? Bukankah egosentrisitas bisa dilebur?

Sebenarnya tak masalah menjadi putri raja atau pangeran antah berantah. Meskipun terkadang mereka yang selalu beruntung itu secara tidak sadar bisa berbahagia di balik kemalangan pihak lain. Meskipun terkadang mengorbankan kebahagiaan kelompok yang tak beruntung. Yang menjadi masalah adalah kepekaan putri dan pangeran tersebut untuk berbagi. Mungkin karena terbiasa mendapatkan apa yang mereka mau, mereka menjadi lebih resisten terhadap toleransi. Tidak lagi mafhum akan perihal berempati. Lupa kalau ada orang lain yang juga berhak memburu kebahagiaannya.

Lagi-lagi, saya bukanlah tipikal putri raja yang mudah mendapat kebahagiaan. Bagi saya, kebahagiaan itu tidaklah sederhana. Seringkali saya dihadapkan pada pilihan buntu untuk meredam beberapa asa. Tidak sehat, itu sudah pasti. Tapi biarlah, toh terlalu sering mengalah juga tidak akan membuat kita cepat mati. Maka, saya belajar untuk berdamai dengan kondisi demikian. Untunglah, saya memiliki orang-orang yang selalu mengajarkan saya untuk selalu berbesar hati. Orangtua, kakak, dan sahabat selalu mengingatkan saya–si manusia tukang ngambek nomor satu ini–untuk selalu memiliki jiwa yang besar. Mengalah demi kebaikan, mereka bilang.

Sungguh tidak mudah mengaplikasikan pelajaran yang mereka berikan itu. Apalagi dengan sifat dasar saya yang kepala batu. Tapi makin hari saya makin paham. Mungkin saya tidak bisa terlalu sering mendapatkan thatsocalled-kebahagiaan seperti orang lainnya. Mungkin stok keberuntungan saya lebih sedikit dibandingkan orang lain. Atau mungkin justru kebahagiaan saya bisa didapat dengan cara membahagiakan orang lain (meski seringkali harus mengorbankan milik saya sendiri?).

Nah, kalau memang sudah jalannya seperti itu, kenapa saya justru harus menghambat jalan kebahagiaan saya dengan sibuk mengasihani nasib? Jadi, paling tidak kalau saya memang tidak belum bisa membahagiakan diri sendiri dan orang lain, ada baiknya saya mencoba untuk berhenti menyusahkan orang lain.🙂

2 Tanggapan to “Udar Rasa: Bahagia Itu (Tidak) Sederhana, Nona!”

  1. samuel arman 3 Juni 2012 pada 2:07 pm #

    Kadangkala, kebahagiaan justru dicapai saat kita berkorban untuk orang lain. Sounds cliche, right? but there’s a truth behind that sentence. Dan ak jg lagi belajar untuk mencernanya. Tp tergantung konteks “kebahagiaan” yg dimaksud di tulisan kamu nih hehe.

    • cinthyayuanita 5 Juni 2012 pada 9:49 pm #

      Sebenarnya tergantung definisi kebahagiaan bagi masing-masing orang. Kalau menurut saya, dan buat saya pribadi, kata “bahagia” itu merupakan kata yang sakral, yang tidak bisa serta merta diucapkan dengan begitu mudahnya. Karena tentu akan berbeda sekali perasaan “bahagia” pasca-makan nasi uduk dibandingkan dengan kebahagiaan ketika menemukan pasangan hidup. Setuju? :p

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: