Udar Rasa: Why So Serious?

8 Apr

Don’t judge a book by its cover, don’t judge people by their posts.

Suatu hari, seorang teman bertanya–ah, mungkin lebih tepatnya protes–kepada saya, begini katanya,

Cin, kenapa sih blog lo itu kebanyakan seriusnya? Gawat banget loh kalo orang yang nggak kenal sama lo, tau-tau baca tulisan-tulisan lo itu. Orang bisa ngeri kali sama lo, malesin banget. Semacam cewek yang hidupnya rumit, kebanyakan mikir, kata-katanya ribet. Cukup beda sama di kehidupan nyata. Padahal aslinya kan …” (disensor demi masa depan penulis)

Seorang teman lain pernah juga berkata begini,

“Yaah, padahal aku mengharapkan blogmu itu isinya lebih banyak cerpen, puisi, atau galau-galauan loh”

Menanggapi kedua teman tersebut saya cuma bisa tertawa. Tapi, habis tertawa itu kemudian saya jadi berpikir. Iya, memang sebagian besar isi blog ini adalah racauan-racauan yang tampak serius dan formal. Bukan hanya soal tema yang diangkat, melainkan juga karena pemilihan bahasanya. Seringkali saya memilih untuk menggunakan bahasa-bahasa formal, misalnya saja terkait pemilihan kata “saya” alih-alih “aku” atau “gue”.

Hmm, why so serious? Sebenarnya bukannya mau terlihat sok serius, tapi memang begini adanya. Kalau bicara soal tulis-menulis, entah kenapa saya lebih suka terikat pada pakem kebakuan, patuh pada Ejaan Yang Disempurnakan dan Kamus Besar Bahasa Indonesia. (Astagahh, ngeri ya?! :p)

Yaa…gimana lagi doong kakaaak, gue ini kayaknya emang agak obsesif kompulsif kalo soal nulis.

Sebenarnya persoalan ini sama saja seperti seorang pelukis aliran naturalis yang tidak ingin memasukkan unsur surealisme ke dalam karyanya. Atau sederhananya saja, jarang kan seorang perempuan penganut paham gothic yang menaburkan perona kelopak mata merah muda di tengah make up serba gelap?

Agak aneh memang, tapi (lagi-lagi) mau bagaimana lagi? Saya agak kurang sreg sejujurnya kalau harus berganti-ganti peran dari “saya”, “aku”, atau “gue”. Dan akhirnya saya putuskan konsisten meracau sebagai “saya” (dengan risiko dianggap sebagai manusia yang sangat amat serius dan kaku).

Mungkin kalau mau dirunut, semua kebakuan ini bisa jadi disebabkan karena terlalu lama bergaul dengan “jurnalistik”. Sejak sekolah menengah pertama saya sudah diracuni dengan bidang itu dan terus teradiksi hingga sekarang. Jadi jangan salahkan saya kalau saya kini menjadi begitu bergantung pada EYD. Saya begitu gatal jika melihat sebuah kata diubah semena-mena, misalnya “aktivitas” menjadi “aktifitas” atau “andal” menjadi “handal”. Saya juga tentu tidak sempurna perihal ejaan-ejaan itu. Tapi tidak ada salahnya menaati rambu-rambu penulisan, sama halnya seperti patuh pada peraturan lalu lintas.

Sayang kan kalo udah dibikin capek-capek tapi nggak dipake dan dilestarikan?

Kembali lagi pada lead di atas, hmm..bagaimana ya mengatakannya saya juga jadi bingung. Sulit dimungkiri memang, jika kebanyakan dari tulisan di media ini adalah hal-hal yang serius dan menjemukan. Tapi, bukankah manusia punya beragam sisi. Sesekali–malah seringkali–saya tidak bisa menahan godaan untuk menulis dengan gaya bahasa yang lain, yang lebih tidak serius–kalau kata orang. Sebelum saya menjadi sok serius seperti ini–dan sampai sekarang pun–saya mencoba gaya tulisan yang nge-pop. Keduanya sama-sama menyenangkan, kedua-duanya membuat saya nyaman.

Saya jadi ingat satu nama. Saya begitu mengagumi Rosihan Anwar, tokoh pers Indonesia yang juga dikenal sebagai penulis yang produktif. Di satu sisi beliau bisa menjadi jurnalis yang begitu kritis, namun di sisi lain ia mampu bertransformasi menjadi seorang pencipta imaji dalam novel-novel karangannya.

Pada akhirnya, kritik kedua teman itu bisa jadi masukan yang baik juga. Mungkin saya hanya perlu lebih banyak memaparkan tema yang santai dengan bahasa nonformal di media ini.

Anggap saja semacam berlatih meracik sebuah cita rasa baru.

Yaah..seenggaknya ngebuktiin ke diri sendiri (sukur-sukur ke orang lain) kalo gue ini masih “normal” kok. Masih suka ngelawak (seolah anggota srimulat), sering meracau nggak jelas, bikin gegalauan dan gegombalan yang absurd, dan tentunya selalu suka mainin kata buat menghibur umat manusia :p

Karena, sumpah, gue ini anaknya nyantee kok nyanteee!!! *nyante tapi kok banyak tanda serunya -..-” 

Sumber gambar: internet

4 Tanggapan to “Udar Rasa: Why So Serious?”

  1. samuel arman 9 April 2012 pada 12:38 am #

    just be yourself🙂

  2. rezanufa 2 September 2014 pada 11:42 am #

    Ah. Ini.

    • cinthyayuanita 2 September 2014 pada 5:55 pm #

      Ini?

      • rezanufa 3 September 2014 pada 7:11 pm #

        Gue sering dapat komentar sama. Tulisan di blog gue sering dituduh berat. Mungkin karena isinya cenderung depresif. Padahal penulisnya santai-santai aja kalau lagi bergaul.😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: