Potret Dekadensi Moral Bangsa dalam Rapat Wakil Rakyat

31 Mar

“Tak ada bangsa yang sekarang sangat sibuk merusak dirinya sendiri selain bangsa Indonesia,” – Prof. Dr. M.T. Zen, Guru Besar Emeritus Teknik Geofisika ITB

Akhirnya persoalan yang menjadi akar kekisruhan beberapa hari terakhir ini terjawab sudah. Pukul 1 dini hari tadi, Sidang Paripurna Dewan Perwakilan Rakyat menetapkan bahwa kenaikan tarif bahan bakar minyak bersubsidi tidak akan dilakukan dalam waktu dekat. Meskipun begitu, pemerintah tampaknya tidak sepenuhnya “serius” dalam menjamin keputusan sidang.

Pasalnya, sidang tersebut pada akhirnya menyetujui isi Pasal 7 ayat 6A Undang-Undang tentang APBN Tahun 2012, yang berbunyi “Pemerintah bisa menyesuaikan harga BBM jika harga rata-rata minyak mentah di Indonesia (ICP) naik atau turun hingga lebih dari 15 persen dalam waktu enam bulan“.

Pasal tersebut sangat kontras dengan pasal sebelumnya, Pasal 7 ayat 6 UU Nomor 22 Tahun 2011 tentang APBN 2012, yang secara tegas menyatakan bahwa harga jual eceran BBM bersubsidi tidak mengalami kenaikan.

Mari coba pahami kata per kata yang terkandung dalam pasal 7 ayat 6a, kemudian temukan keganjilan dan kerancuan di sana. Ayat tambahan tersebut tidak lebih dari kedok pemerintah untuk mencari muka di depan rakyat. Memainkan lakon sebagai tokoh yang pro rakyat, berpura-pura memperjuangkan nasib wong cilik, tapi toh tetap menciptakan kalimat-kalimat bersayap yang bisa diputarbalikkan kapan saja. Terlalu cari aman.

Di satu sisi, semua ingin tampak seperti malaikat di depan rakyat. Sibuk berkoar-koar menolak kenaikan BBM seraya mencuri kesempatan kampanye terselubung untuk kepentingan pemilihan umum 2014. Di sisi lain, mereka tetap memasang jebakan batman yang siap menerkam publik dalam waktu tak terduga.

Intinya, ada atau tidak ada rapat paripurna tadi, tidak  ada perubahan yang bermakna bagi rakyat. Tarif BBM bersubsidi memang batal naik pada awal April, tapi tidak juga berarti batal naik selamanya. Pemerintah tetap–dan akan selalu–punya celah untuk menaikkan harga BBM. Berbekal pasal 7 ayat 6a, pemerintah bisa dengan mudah membuat regulasi kenaikan tarif di kemudian hari.

Dan ketika saat itu tiba, kelimpungan akan kembali terjadi. Siklus demonstrasi-rapat-demonstrasi-rapat akan terus bergulir selama tidak ada solusi konkret yang ditawarkan oleh pemerintah.

Labilitas para wakil rakyat tidak hanya tergambar dari kebijakan yang mereka susun. Jutaan pasang mata yang menyaksikan secara langsung rapat paripurna malam tadi pasti menyuarakan satu pendapat: betapa memprihatinkan sikap para wakil kita.

Tidak terhitung lagi berapa banyak teriakan, sindiran, bahkan umpatan terlontar begitu jelas dari pengeras suara. Memang bukan cerita baru kalau anggota dewan memiliki hobi interupsi, mulai dari cara halus hingga paling kasar sekalipun. Maka tidaklah mengherankan, kalau suasana sidang tadi lebih mirip lokasi pasar malam dibandingkan ruang sidang para dewan yang terhormat. Masyarakat sudah terlalu mengenal tabiat wakilnya. Masyarakat bisa menerka situasi sidang dengan mudah, tidak perlu dengan sejumput daun teh ataupun bola kristal.

Pasar malam menjadi lebih hidup ketika terdapat arena tinju di dalamnya. Pada menit-menit terakhir sidang, usai pelaporan hasil voting, sebuah pemandangan menyedihkan sekaligus menyulut  emosi tampil di layar kaca. Sejumlah mahasiswa tampak dihajar oleh Petugas Pengamanan Dalam (Pamdal) Gedung DPR. Entah apa yang terjadi.  Ketika kamera menyorot balkon yang menjadi area mahasiswa beberapa menit sebelum kejadian, semua tampak terkendali. Mahasiswa hanya terlihat berdiri, memantau dan mengawal jalannya sidang dengan tertib tanpa anarkisme.

Namun, beberapa menit kemudian, itulah yang terjadi. Teman-teman dari almamater yang sama dengan saya dipukuli, didorong, ditendang, bahkan sampai ada adegan mengunci leher seperti pada pertandingan gulat! Sungguh, melihat pemandangan itu saya menjadi begitu terbawa emosi. Mungkin itu yang sering disebut di buku-buku sebagai “darahnya mendidih”. Tidak tega rasanya melihat jaket almamater itu ditarik paksa dan dijadikan sasaran tinju.

Dari linimasa saya mengetahui bahwa mahasiswa hanya berteriak, menyerukan pendapat, sama sekali tidak berulah anarkis. Tapi para wakil rakyat malah meminta mereka keluar karena dianggap mengganggu sidang. Maka terjadilah bentrokan itu.

Lucu ya. Kalau begitu aturan mainnya, harusnya ruang sidang sudah kosong sejak sore mengingat begitu banyak wakil rakyat yang berisik, berteriak-teriak seperti di pasar. Atau justru harusnya wakil rakyat itu yang dijatuhi bogem para Pamdal karena merekalah yang menghambat jalannya sidang dengan ocehan-ocehan tidak bermutu.

Begitulah. Potret demoralisasi itu kian nyata.

Ah, untungnya saya tidak ikut-ikut mengumpat oknum-oknum yang turun ke jalan kemarin.

Mungkin pihak-pihak yang kemarin sibuk menggerutu para pendemo kini menyesal dan sadar bahwa rutukan itu seharusnya ditujukan untuk siapa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: