Pintu Hati Punya Sesha

31 Mar

When one door closes, another opens. But we often look so long and so regretfully upon the closed door that we do not see the one which has opened for us*

Sesha berlari terengah-engah menyusuri trotoar. Pandangannya mengarah ke gerbang sekolah yang masih terpaut cukup jauh. Begitu tiba di pintu besar itu, Sesha mengelus dada, bersyukur bahwa Pak Mamat belum menutup gerbang hitam tersebut. Di samping satpam berkumis itu, terlihat sosok Rindra yang bertengger dengan wajah resah.

“Ndra!!!!” teriak Sesha sambil mengatur napas. Rindra kontan terkejut mendengar suara parau Sesha.

“Seshaa!! Gila, lama banget sih, lo. Buruan yuk, udah lewat lima belas menit nih. Makasi ya, Pak!”

Tanpa basa-basi Rindra menggaet Sesha yang masih ngos-ngosan menuju kelas mereka di lantai dua. Namun, langkah mereka terhenti waktu melihat Bu Damba, guru BP yang kelakuannya lebih mirip Satpol PP, sedang menempel pengumuman di dekat tangga.

“Aduh gawat! Ada Bu Damba lagi! Sini tas lo.”

Sesha cuma bisa melongo waktu Rindra memindahkan ranselnya ke pundak cowok itu. Belum sempat Sesha bertanya apa maunya Rindra, Bu Damba secara ajaib sudah berada di depan mereka.

“Wah, wah, wah! Hebat sekali kamu, Rindra. Jam segini baru datang! Apa kamu tidak malu?!” bentak guru itu sambil memasang muka sinis.

Sesha yang baru menyadari maksud kelakuan Rindra berusaha membela sahabatnya, “Bukan, Bu. Bukan Rindra yang …. Awwww!!!” Sesha batal melanjutkan kalimatnya karena Rindra buru-buru menarik rambutnya dari belakang.

“Iya, Bu. Maaf ya, Bu. Kemarin saya nonton bola jadi kesiangan.” tutur Rindra makin membuat Sesha terperangah.

“Baik, kalau begitu silakan kamu menghadap kepala sekolah! Sesha, cepat kamu masuk kelas!” seru Bu Damba lalu langsung pergi.

“Ndra, lo gila ya! Ngapain lo pake acara pura-pura telat?” Sesha segera menginterogasi Rindra begitu Bu Damba menghilang.

“Elo yang gila. Lo gak inget bulan ini udah dua kali lo masuk buku hitamnya Bu Damba gara-gara ketauan telat? Kalo sekali lagi ketauan, bisa-bisa lo diskors, Sha. Lagian lo kenapa nekad telat sih?”

“Maaf deh, Ndra. Kesiangan gara-gara kemaren keasikan nyobain kamera baru. Gue lagi belajar nih, siapa tau kalo gue jago foto, Saga bisa terpikat. Hahahaha..” tawa Sesha malah disambut amarah Rindra.

“Jadi lo telat gara-gara cowok itu? Apa sih bagusnya dia, Sha? Heran gue kok bisa lo suka sama cowok item kaya gitu.”

“Eh, Ndra, jangan sembarangan kalo ngomong! Dia emang ga cakep-cakep amat, tapi dia lumayan manis kok dan dia jago fotografi!” Shesa mati-matian membela gebetannya. Rindra merasa tidak berguna membalas omongannya.

“Yaudah masuk kelas sana.” kata Rindra sambil menarik rambut Sesha lagi.

***

Siangnya, Sesha bener-bener nggak bisa konsentrasi mengikuti pelajaran terakhir. Rasa kantuknya sukses mengalahkan semangat menggelora Pak Toar yang lagi menjelaskan konsep termodinamika. Peringatan-peringatan Rindra yang duduk disebelahnya tidak dihiraukan.   Sesha sedang dibuai mimpi manis tentang Saga, ketika tiba-tiba ia merasakan guncangan.

“Gempa!! Gempa!! Tolooongg, ada gempa! Ndra, gempa, Ndra!” Sesha malah sibuk teriak-teriak di depan Rindra tanpa tahu bahwa di belakangnya ada Pak Toar yang siap menerkam.

Sesha segera tahu bahwa hal buruk akan segera terjadi begitu Rindra memberikan kode-kode ke arahnya. Dan betul saja, tak lama kemudian suara Pak Toar membahana di seantero kelas.

“Sesha Irmia! Berani-beraninya kamu tidur di kelas saya! Keluar kamu, berdiri di lapangan sampai pulang!” bentakan Pak Toar tidak berani dibantah Sesha.

Sudah kira-kira satu jam Sesha berdiri di bawah tiang bendera. Ternyata hukuman ini nggak semudah perkiraannya. Cuaca siang itu benar-benar nggak bersahabat. Tidak ada awan sama sekali yang menutupi teriknya matahari.

Namun, semua penderitaan Sesha seakan langsung sirna ketika tiba-tiba ia samar melihat Saga. Sosok Saga yang semakin mendekat ke arahnya membuat Sesha tidak percaya dan mengira itu adalah semacam delusi.

“Hai, Sha. Ngapain?” suara ngebass Saga meyakinkan Shesa kalo ini bukan mimpi apalagi gejala mau masuk surga.

“Hmm..dihukum Pak Toar..hehe. Lo ngapain?” jawab Shesa cengar-cengir, nggak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.

“Oh, abis nganterin proposal ke ruang guru. Eh, iya, lo pengurus majalah sekolah kan? Kenalin ini Mona, dia yang bakal gantiin gue setor foto-foto buat majalah setiap bulannya. Dia masih kelas 1, jadi tolong dibantu ya.” Saking girangnya dapet kesempatan langka ngobrol sama Saga, Shesa nggak sadar kalo di sebelah Saga ada cewek.

“Oh, oke, Ga, tenang aja. Halo, Mona.” Sahut Shesa tanpa sedetik pun mengalihkan pandangan dari cowok idamannya.

“Makasih banyak, Sha. Sayang, ini Shesa, kamu bakal sering kerja bareng dia nanti.”

DUARRRR!!! Shesa merasa gendang telinganya mau pecah begitu mendengar kata-kata Saga barusan. Sayang?!! Barusan Saga manggil cewek itu ‘sayang’??!

“Sayang? Saga, kok lo …” tanya Shesa terbata-bata.

“Ah, iya, Sha. Hehe, Mona ini cewek gue, baru jadian kemarin.”

Jawaban Saga seperti petir di siang bolong. Seketika itu juga Sesha merasa dirinya limbung dan hanya bisa melihat silaunya cahaya matahari.

***

Sesha merasa kepalanya sangat pusing. Begitu membuka mata, tiba-tiba dia mendapati dirinya berada di UKS yang serba putih. Ketika menoleh ke samping, ia melihat Rindra yang tampak sangat cemas.

“Ndra, gue kok di sini? Eh, kocak deh, tadi gue mimpiin Saga! Masa dia jadian sama cewek kelas 1, si Mona lo kenal kan? Nggak mungkin banget ya,” seru Sesha sambil memegangi keningnya.

“Lo gak mimpi, Sha. Itu beneran. Tadi lo pingsan pas dijemur sama Pak Toar. Yang bawa lo kesini si Saga sama ceweknya itu. Mereka jadian kemarin waktu ekskul foto, tapi sebenernya udah deket dari lama” sahut Rindra pelan membuat Sesha kontan ternganga.

“Lo tau, Ndra? Semuanya? Kok lo ga pernah kasih tau gue?!” jerit Sesha berang.

“Gue ga mau lo tau. Gue ga mau lo sedih, Sha.”

“Lo jahat banget sih, Ndra!! Huh, kok bisa sih cewek itu mau sama Saga! Saga kan gak ganteng, tinggi badannya aja lebih pendek daripada tuh cewek!”

“Lah, elo kenapa suka sama kakak kelas itu?”

“Nggak tau, dari awal masuk sini gue udah suka aja. Hmm, Ndra, mereka baru jadian kan, berarti masih ada kesempatan menghancurkan rumah tangga mereka. Selama janur kuning belum melengkung, selama catering belum dipesen, selama … “ belum selesai Sesha berkata-kata, tanpa diduga Rindra langsung memotongnya dengan keras.

“Sesha!! Lo kenapa sih selalu ngomonginnya Saga, Saga, Saga terus! Lo suka sama orang yang bahkan kenal sama lo aja enggak! Lo nggak pernah nyadar apa kalo ada orang lain yang sebenernya punya perasaan sama lo?! Lo gak tau kalo ada orang lain yang pengen jadi lebih dari sekedar temenlo?! Gue, Sha! Gue! Kenapa sih lo nggak pernah nganggep gue?!” ucapan Rindra yang lebih mirip bentakan itu cuma bisa ditanggapi Sesha dengan kebisuan. Sementara Shesa masih syok sama semua yang Rindra katakan tadi, cowok itu langsung lari keluar meninggalkan Sesha dengan sejuta tanya.

***

Sejak kejadian di ruang UKS siang itu, hubungan Shesa dan Rindra jadi renggang. Shesa memilih untuk menjauhi Rindra. Meskipun waktu itu Rindra tidak secara eksplisit menyatakan perasaannya, tapi sebagai cewek normal Sesha bisa menyadari itu apalagi jika mengingat semua kebaikan Rindra selama ini. Tapi sayangnya, sejak dulu Sesha punya prinsip nggak akan pernah suka sama sahabatnya. Dia lebih suka sama orang-orang yang jauh dari kehidupannya, lebih menantang katanya. Melihat gelagat Sesha yang pasang tameng, Rindra pun tak lagi melanjutkan gerilyanya. Cowok itu menyerah, bahkan merasa bersalah telah mengacaukan persahabatan itu. Sudah genap tiga minggu mereka berdua melakukan aksi bisu. Masing-masing selalu bersikap seolah tak saling kenal. Sebenarnya Sesha sudah lelah dengan misi menjaga jarak ini. Sesha rindu semua kekonyolan yang biasa ia lakukan bersama Rindra. Sesha kangen kebiasaan Rindra menarik ujung rambutnya. Sesha kehilangan sosok yang selalu siap sedia di sampingnya.

Pagi itu, ketika Sesha hendak mengambil pakaian olahraganya, dia mendapati secarik kertas di dalam tasnya.

            Sha,kita jadi jauh ya sekarang. Gue nggak seharusnya bilang itu semua. Gue janji, Sha, pintu itu gak akan pernah gue ketuk, apalagi dobrak. Tapi lo harus tau, lo selalu bisa temuin gue di balik pintu itu kapanpun lo butuh. Gue harap lo akan dapet orang yang lebih sempurna, Sha.

Sesha terhenyak membaca isi kertas itu. Rindra memang suka menggunakan bahasa-bahasa yang filosofis, tapi rasanya yang ini cukup untuk membuat Sesha serasa ditampar.

***

Hari ini kecerobohan Sesha akan menimbulkan petaka lagi. Tugas peta dunia yang wajib dikumpulkan siang ini malah ia tinggal di atas tempat tidurnya.

“Maaf, Bu, peta saya ketinggalan.” Kata Sesha ketika Bu Rahmi yang sedang berkeliling memeriksa tugas murid-murid menyambangi tempat duduknya.

“Olala, Sesha! Nakal sekali kamu! Siapa lagi yang tidak mengerjakan tugas saya?”

Tidak ada yang menjawab pertanyaan Bu Rahmi. Hal itu menjadi pertanda bahwa Sesha kemungkinan besar akan dihukum berat. Tapi, tak lama kemudian ada suara yang memecah keheningan kelas.

“Oiya, Bu, saya juga lupa kalo ada tugas.” suara itu berasal dari Rindra.

***

Sesha terpaksa menghabiskan waktunya di perpustakaan untuk mengerjakan makalah pengganti peta dunia yang ketinggalan itu. Di sampingnya, Rindra yang juga dihukum tengah sibuk membolak-balik halaman buku tanpa sedikitpun mengacuhkannya. Tiba-tiba Sesha teringat kertas yang waktu itu ia temukan. Setelah berpikir panjang, ia akhirnya memutuskan untuk menghentikan mogok bicaranya dengan Rindra.

“Gue tau sebenernya lo buat tugas itu, kan?”

“Hm?” Rindra menatap Shesa tapi tidak menjawab pertanyaannya.

“Ndra, soal yang di kertas itu …” kalimat Sesha segera dipotong oleh Rindra.

“Sha gue minta maaf.”

“Bukan gitu maksud gue. Gue ..”

“Gue gak akan maksa elo punya perasaan itu juga, Sha. Gue cuma mau lo tahu,” lagi-lagi Rindra menyerobot hak bicara Shesa.

“Rindra, dengerin gue dulu!” kata Shesa habis sabar. “Soal pintu, gue gak akan bisa buka, Ndra, soalnya …”

“Iya, Sha, gue tau kok. Sekali lagi gue gak maksa. Gue …”

“Rindra, bisa nggak sih lo biarin gue selesai ngomong dulu?” kali ini giliran Sesha yang memotong omongan cowok itu. Rindra tertunduk lesu, terlihat tidak siap mendengarkan.

“Gue ga bisa buka, Ndra, karena gue sadar … hmm … gue sadar kalo pintu yang udah kebuka nggak akan bisa dibuka lagi. Gue juga baru sadar, pintu ini sebenernya udah kebuka lama banget dan cuma lo yang punya kuncinya.”

“Maksud lo, Sha?” tanya Rindra terperangah.

“Yaa..gue juga kurang paham sih. Kalo mau lebih jelas, lo tanya aja deh sana ke tukang pintu.” Sesha tersenyum lebar diikuti tawa Rindra.

“Oke, abis ini gue bakal beli gembok supaya ga ada lagi yang bisa buka pintu itu selain gue,” seru Rindra sambil menarik rambut Sesha

Salemba, 2009

*Sebuah kutipan dari Alexander Graham Bell, ilmuwan yang menciptakan dan mendirikan perusahan telepon pertama di dunia.

Ini cerita lama sebenarnya, saya temukan di tengah kumpulan file-file kuliah yang tersebar acak di laptop. Sebagian cerita diilhami dari kisah nyata, sebagian lagi merupakan efek intoksikasi teenlit  dan cerpen-cerpen remaja yang saya alami waktu itu. Jadi jangan heran, kalau ide, tema, bahasa, dan jalan ceritanya menunjukkan kelabilan tiada tara :p

Sumber ilustrasi : internet

*What a surprise! pada akhirnya, cerpen ini dimuat di majalah CosmoGirl edisi Agustus 2012🙂

2 Tanggapan to “Pintu Hati Punya Sesha”

  1. I'm 22 Agustus 2013 pada 2:35 am #

    Hahaha parah namanya toar. Fufufu. Your secret admirer

Trackbacks/Pingbacks

  1. What A Surprise-Part 2 | orkestraksara - 11 Agustus 2013

    […] lalu saya pernah posting tulisan dengan judul serupa, tepatnya  What A Surprise. Waktu itu, Pintu Hati Punya Sesha dimuat di majalah CosmoGirl Edisi Agustus […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: