Kisruh BBM Bersubsidi: Masih Ada Opsi Jalan Tengah!

31 Mar

Masih tentang BBM. Sangat terlambat sebenarnya jika saya baru menulis ini sekarang. Polemik telah usai semalam. Tapi entah kenapa, persoalan ini cukup menyita perhatian saya dan membuat saya begitu nyinyir  dalam menyikapinya. Topik hangat ini ibarat secangkir kafein dosis tinggi yang mampu membuat saya tetap terjaga sampai subuh lalu bangun dengan segar pada pagi harinya. Hanya untuk bersuara dalam rangkuman aksara, padahal belum tentu ada yang membaca.

Bukannya ingin berlagak seolah beban negara ada di punggung saya. Sederhana saja, saya hanya ingin meringankan hati dan kepala dengan mengeluarkan apa yang memang harus dikeluarkan. Saya bukanlah kritikus andal, sama sekali bukan. Saya juga bukan anak muda solutif yang memiliki ide-ide inovatif untuk menyelesaikan permasalahan negara. Saya tidak mengerti politik, saya bukan ahli ilmu kenegaraan.

Saya hanyalah seorang plegmatis, yang–dengan bodohnya–masih percaya bahwa win-win solution itu selalu ada. Meskipun realita hampir selalu mengajarkan bahwa win-win solution hanyalah isapan jempol belaka, saya tetap menaruh pengharapan kepada prinsip “keadilan sosial”.

Sama seperti permasalahan kenaikan tarif BBM bersubsidi. Berhari-hari sebelumnya, berbagai pendapat, pemikiran, dan kajian santer beredar. Sayang, semua kajian itu rasa-rasanya tidak ada yang mampu memuaskan seorang plegmatis seperti saya ini.

Di satu sisi, banyak pihak menolak dinaikkannya harga BBM bersubsidi tetapi hanya sampai pada tahap menolak, alih-alih merumuskan penyelesaian nyata. Di lain sisi, tidak sedikit pula pihak yang–entah karena terlalu naif atau tidak mengerti permasalahan–mendukung kenaikan harga BBM dengan alasan-alasan yang agak sulit diterima nalar.

Persoalannya di sini bukanlah menerima atau menolak, tetapi alasan di balik itu semua.

Yang paling membuat saya gatal ingin bersuara adalah fenomena yang kedua: menolak kenaikan tarif dengan alasan-alasan yang terlampau lugu. Lebih menyedihkan lagi, hal ini terjadi sangat dekat dengan saya, terjadi di lingkungan saya. Badan eksekutif fakultas secara terang-terangan menuliskan dalam kajiannya bahwa mereka menerima kenaikan harga BBM yang dinilai sebagai cara ampuh untuk mendongkrak anggaran negara yang hampir jebol. Kenaikan tarif ini juga dipercaya dapat mengatasi masalah krisis energi, menurunkan persoalan emisi, dan menjawab semua masalah dalam masyarakat. Dikatakan bahwa dengan dinaikkannya harga BBM bersubsidi, diharapkan subsidi akan lebih tepat sasaran. Selain itu, dana yang selama ini dialokasikan hanya untuk BBM dapat dialihkan untuk hal-hal yang jauh lebih produktif.

Begitu membaca kajian tersebut, sejenak saya hanya bisa diam. Banyak hal berkecamuk. Ini adalah perwakilan eksekutif-ekskutif kampus yang seharusnya mampu mewakili mahasiswa dan tentunya harus didukung penuh. Bukannya hendak membelot, tapi separuh nalar saya seketika menolak mentah-mentah analisis mereka yang terlampau naif.

Oh, ayolah, persoalan ini tidak sesederhana itu. Saya penasaran kira-kira kalau Arif Rahman Hakim* masih hidup, apa pendapat beliau tentang kebijakan-kebijakan yang dibuat para penerusnya di kampus perjuangan ini.

Saya tidak mempermasalahkan jika mereka ingin tampil beda, tidak sependapat dengan hampir semua fakultas lain di lingkup universitas. Tidak masalah jika mereka setuju menerima kenaikan tarif BBM bersubsidi. Yang menjadi masalah adalah kepolosan mereka dalam menyikapi masalah.

Mungkin pemahaman saya salah–saya malah berharap bahwa saya salah–tapi yang saya tangkap dari kajian tersebut adalah mereka memiliki kepercayaan yang begitu tinggi terhadap pemerintah. Sebegitu besarnya kepercayaan mereka sehingga rela menyerahkan lebih banyak lagi uang rakyat untuk dikorupsi para pejabat tambun itu. Apa mereka yakin bahwa dana subsidi yang berlebih itu akan benar-benar dialokasikan untuk hal-hal berguna bagi rakyat? Apa mereka cukup percaya bahwa dana-dana itu tidak masuk ke rekening gendut pembesar, alih-alih ditujukan bagi kepentingan rakyat?

Memang kita tidak boleh berprasangka buruk, tapi maaf, saya pribadi sulit rasanya untuk bisa percaya sepenuhnya dengan pemerintah. Terlalu banyak kekecewaan yang pada akhirnya menimbulkan resistensi keyakinan. Saya cukup berani bertaruh, dengan dinaikkannya harga BBM maka angka korupsi di negara ini juga akan turut melonjak, hutang negara membengkak, tirani semakin berkuasa. Tidakkah mereka pikirkan itu?

Belum lagi soal cita-cita muluk perihal mengurangi emisi, menyimpan cadangan energi, atau memberikan subsidi yang tepat sasaran. Sepertinya mimpi untuk memberikan subsidi tepat sasaran tidak akan pernah tercapai selama belum ada regulasi yang adil. Tentu saja subsidi tidak pernah sampai pada targetnya, lebih banyak dinikmati orang-orang kaya, wong yang punya lebih banyak kendaraan adalah mereka. Dalam satu keluarga bisa-bisa ada 5 kendaraan mewah yang semuanya tanpa malu-malu antre pada barisan BBM bersubsidi di SPBU. Orang-orang itu juga yang seharusnya bertanggung jawab atas menyusutnya cadangan energi dan peningkatan kadar polusi. Alih-alih menggunakan transportasi publik, mereka tetap bersikukuh membawa kendaraan pribadi. Satu orang satu mobil.

Baiklah, mengkritik saja memang mudah. Seorang teman yang sudi mendengarkan ocehan saya kemudian bertanya, “terus mau lo kayak gimana?”. Saya yang plegmatis ini kemudian mulai sok analis, menyampaikan solusi seadanya sesuai asas keadilan sosial yang selalu saya agungkan.

Mungkin ini juga naif. Mungkin juga tidak lebih dari omong kosong yang klise. Tapi menurut saya opsi jalan tengah itu masih ada!

Tarif BBM tidak perlu berubah. Yang perlu diubah adalah regulasi dan implementasi. Mengenai alokasi subsidi yang tidak tepat sasaran, misalnya. Saya rasa hal itu bisa teratasi jika saja pemerintah mau berusaha lebih keras menekan mobil-mobil mewah untuk sadar diri dan benar-benar beralih ke pertamax atau pertamax plus. Selain itu, kenaikan pajak mobil-mobil mewah juga dapat dipikirkan sebagai solusi konkret yang sepertinya tidak terlalu merepotkan, kan? Namun, tentu saja tranparansi harus dijunjung tinggi agar tidak lebih banyak lagi mafia pajak yang beraksi.

Jika hal ini dapat terlaksana maksimal, niscaya banyak persoalan yang bisa teratasi. Bukan hanya tentang keadilan target subsidi, tetapi juga tentang emisi dan energi. Bisa jadi orang-orang kaya kemudian meminimalisasi penggunaan kendaraan pribadi, polusi berkurang, angka kemacetan menurun, cadangan energi tersimpan aman.

Di samping itu, pemerintah juga harus bekerja ekstra untuk memperbaiki transportasi dan sarana umum. Agar semua orang, tanpa memandang status sosial, dapat menikmati fasilitas publik dengan nyaman. Orang kaya pun tidak lagi sungkan menggunakan angkutan umum.

Satu lagi, APBN bukan hanya tentang anggaran subsidi bahan bakar ataupun biaya belanja lainnya. Jangan lupa, ada alokasi pengeluaran bagi para birokrat yang sepertinya semakin hari semakin meningkat. Pemangkasan gaji pejabat bisa jadi bagai oase di tengah perekonomian rakyat yang kian merosot. Kalau memang gaji pejabat tidak mau diganggu gugat, cobalah lebih transparan. Rakyat juga tidak akan mendesak dan protes kalau memang APBN telah dipergunakan sebagaimana mestinya.

Ini tidak mudah memang. Bisa jadi ini semua terlalu utopis dan saya dicap hanya omong besar.

Tapi, dengan kemauan, kerja keras, serta hati yang bersih dari para pembesar negara, semua bisa terlaksana. Alih-alih repot membicarakan alokasi dana subsidi, mengapa mereka tidak mengalokasikan waktu untuk membenahi apa yang sudah ada?

Ada baiknya sebelum pemerintah sesumbar manja dan menggembar-gemborkan isu kenaikan BBM yang mencemaskan rakyat, carilah alternatif-alternatif yang lebih cerdas dan kreatif untuk menyelesaikan masalah.

 

*Arif Rahman Hakim adalah mahasiswa FKUI, salah seorang aktivis pergerakan mahasiswa, yang tewas tertembak saat melakukan aksi penolakan pelantikan “Kabinet Seratus Menteri” pada tanggal 24 Februari 1966. 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: