Elegi Cendekia

27 Mar

Tolak demontrasi dengan cara yang lebih terdidik!  Mengkritiklah secara lebih elegan!

Sebenarnya saya masih memiliki banyak hutang tulisan yang belum dirampungkan, tergeletak begitu saja di dalam kotak “konsep terakhir” alias “draft”.

Secara mendadak saya merasa jadi orang paling tidak adil di dunia ketika saya bisa menyelesaikan tulisan instan ini, sementara ide-ide lama tetap menjadi onggokan kata yang entah kapan terselesaikan.

Tapi saya harus menulis. Saya harus mengungkapkannya.

Saya gemas. Saya geram. Saya tidak habis pikir.

Beberapa menit lalu, ketika saya–pada akhirnya–terbangun dari tidur yang sangat panjang, saya cukup dikejutkan dengan apa yang terjadi di dunia maya. Hanya dalam beberapa jam saja, linimasa jejaring sosial telah dipenuhi berbagai kicauan soal macam-macam hal.

Tapi ada beberapa tulisan yang menarik perhatian saya, yang dengan suksesnya membuat kening berkerut ketika membacanya. Berikut petikan beberapa kicauan tersebut :

“Bingung deh kenapa harus demo? Gak bisa beli bensin ya jgn bawa kendaraan, naik angkot kan bisa”

“Bbm naik 1500 aja sewot!”

Sungguh, saya sama sekali tidak bermaksud mendiskreditkan pihak yang berkicau. Adalah hak asasi tiap manusia untuk berpendapat, menyampaikan pemikiran dalam bentuk dan melalui media apapun.

Tapi terus terang, membaca kalimat-kalimat itu saya menjadi sedih.

Sedih karena kata-kata itu begitu tajam hingga bisa melukai, sedih karena kata-kata itu terlontar dari teman-teman yang intelektualitasnya tak diragukan lagi. Teman-teman dari institusi pendidikan yang sama dengan saya, institusi yang belakangan ini sedang gembar-gembor perihal meningkatkan taraf empati para peserta didiknya.

Saya tidak tahu harus memulai dari mana. Ada banyak serangan pemikiran menyerbu otak saya, mendesak ingin dikeluarkan secara frontal lewat rangkaian konsonan dan vokal berbalut bumbu sarkastik. Tapi saya juga manusia, tidak punya hak menghakimi. Sama seperti mereka, saya hanya ingin mengurai pemikiran–atau racauan lebih tepatnya.

Ini bukan soal kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Saya terlalu awam dan kerdil untuk membahas isu nasional sebesar itu.

Ini soal kesenjangan sosial yang semakin membudaya!

Saya sendiri tidak paham, mengapa saya menjadi begitu emosi ketika membaca kedua petikan kicauan di atas, kicauan yang sarat akan egoisme kaum muda yang hidupnya bak swalayan masa kini: serba ada.

Saya lantas sadar, begitu besarnya efek dari isu demonstrasi besar-besaran yang akan digelar. Begitu besarnya perhatian massa terhadap aksi yang kemungkinan (kecil) bisa mengubah kebijakan pemerintah mengenai kenaikan harga BBM. Sayangnya, perhatian yang begitu besar itu ternyata hanya berujung pada umpatan, makian, dan cacian.

Banyak orang beramai-ramai memboikot aksi demonstrasi yang kabarnya akan berlangsung di sejumlah ruas jalan ibu kota. Berkedok berbagai alasan, mereka sesumbar menolak diadakannya demonstrasi. Padahal, disadari atau tidak, alasan sesungguhnya hanyalah satu: takut macet. Mohon koreksi saya jika salah, tetapi itulah yang saya tangkap dari pendapat kebanyakan orang yang mencibir rencana demonstrasi esok hari.

Kalau memang alasannya adalah fobia akan kemacetan, saya rasa lebih baik opini-opini itu ditinjau kembali oleh penulisnya. Renungkan, betapa kata-kata itu terlampau egoistis dan sangat berpotensi menyakiti. Sudah lupa petikan kalimat tadi? Mari saya ingatkan kembali.

“Bingung deh kenapa harus demo? Gak bisa beli bensin ya jgn bawa kendaraan, naik angkot kan bisa”

“Bbm naik 1500 aja sewot!”

Saya tidak bisa–dan tidak berani–membayangkan apa reaksi masyarakat kalau membaca tulisan itu. Masyarakat yang saya maksud di sini adalah orang-orang yang hidupnya “serba pas-pasan”, bukan yang “serba ada” seperti teman-teman saya itu.

Memangnya yang boleh punya kendaraan hanya orang kaya? Memangnya yang boleh menyesaki jalanan ibu kota hanya orang-orang berdasi? Saya rasa semua warga negara Indonesia punya hak yang sama untuk itu. Memangnya teman saya itu sudah pernah merasakan naik angkot–paling tidak dalam jangka waktu sebulan saja–hingga berani-beraninya menawarkan solusi tidak konkret macam begitu? Memangnya dia tahu kondisi angkot seperti apa? Berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk ongkos transportasi umum? Apakah dia tahu, bahwa menggunakan angkot jauh lebih menguras dompet ketimbang membeli bensin untuk motor kreditan?

Apakah teman saya tahu, mengumpulkan rupiah senilai 1500 itu susahnya bagaimana? Mengumpulkan dalam arti membanting tulang mencari nafkah, bukan mengulurkan tangan pada orang tua. Ini bukan sekedar tentang 1500 perak. Toh menggunakan bensin tidak cuma sebatas 1 liter, kan? Coba kalkulasikan jumlah bensin yang diperlukan dengan sejumlah rupiah yang harus dibayar lebih banyak setelah kenaikan BBM. Itu tidak sedikit, bung! Belum lagi dampaknya terhadap kenaikan harga barang-barang lainnya, kematian usaha kecil menengah, atau bahkan kelumpuhan perekonomian. Bayangkan, “hanya” 1500 rupiah tapi bisa membuat hidup rakyat jadi semakin susah, kan!

Tanpa “melihat ke bawah”, beberapa orang dengan naifnya memaksa semua pihak untuk menganggap bahwa persoalan kenaikan harga BBM ini bukan masalah besar. Kenaikan harga “hanya” sebesar 1500 perak tidak akan membuat miskin. Iya, memang tidak akan memiskinkan mereka, tapi dapat membuat masyarakat menengah ke bawah semakin terpuruk. Dengan naif mereka mengumpat pihak-pihak yang prihatin akan nasib rakyat, pihak-pihak yang mau berjuang demi kesejahteraan rakyat. Memang kalau bukan dengan cara demonstrasi, apa mereka punya ide lain yang lebih jenius agar aspirasi rakyat bisa didengar para pembesar?

Bukankah egois namanya, jika menolak demonstrasi hanya karena alasan “bikin macet”? Tidakkah egois, setiap hari memonopoli jalan raya yang begitu besar dengan mobil-mobil mewah, sementara rakyat dilarang menginjaknya untuk memperjuangkan nasib satu hari saja?

Kenapa begitu egois? Jalan protokol bukan cuma milik orang kaya. Jangan lupa, ada uang rakyat di setiap sentimeter aspal yang mereka lewati.

Masih berani egois? Ingatlah, bukankah selama bertahun-tahun subsidi BBM justru dinikmati oleh orang-orang berpunya, alih-alih mereka yang memang membutuhkan!

Tidakkah orang-orang besar itu malu, bertahun-tahun menyabotase hak rakyat kecil, tetapi masih saja menuding mereka sebagai sumber masalah.

Di negara demokratis ini, setiap orang memang berhak berpendapat. Tapi bukankah lebih baik jika setiap pendapat disertai dasar pengetahuan yang jelas? Bukan hanya pengetahuan seperti ilmu alam atau aritmetika, tapi juga pengetahuan tentang kehidupan sosial.

Menolak adanya demonstrasi tidak salah, tapi lakukanlah dengan cara orang terpelajar. Seseorang yang terpelajar bukan hanya yang mengantongi pendidikan tinggi, tetapi juga harus memiliki hati. Tahu bagaimana harus bersikap, mengerti bagaimana seharusnya bertutur kata.

Saya setuju, belakangan ini demonstrasi di jalan memang lebih seperti arena adu otot. Tapi, bukankah akan sama saja seperti mereka, kalau kita yang ada di rumah hanya bisa berkomentar pedas tanpa memberikan kontribusi nyata? Sama-sama omong kosong.

Jangan sampai pemikiran yang diungkapkan para kaum terpelajar malah menyerupai bait elegi, cerminan atas kegagalan proses pembelajaran.

Menurut saya, jauh lebih terhormat mahasiswa-mahasiswa yang mau turun ke jalan (dengan cara terpelajar, tentunya) memperjuangkan nasib rakyat, ketimbang mereka yang hanya bisa berkicau kasar di jejaring sosial. Tidak solutif. 

*Simak juga tulisan terkait :

Sebuah pemikiran atas pergerakan mahasiswa dalam bentuk cerita pendek : Gema untuk Mei

2 Tanggapan to “Elegi Cendekia”

  1. samuel arman 28 Maret 2012 pada 1:21 am #

    tulisan yang kritis, tajam, dan pedas di saat yang bersamaan😀 saya berada di pihak yg mana yah, bingung jg hehe. sebenernya saya jg prihatin sama nasib rakyat kecil, tp saya ga bs bilang kl saya setuju ama aksi demo2 itu. sbnrnya yg masalah bukan demonya, tp yg jadi masalah, aksi demo itu sering disertai aksi anarkis. kl mau demo yah demo aja, ga usah sambil nimpukin batu, ngerobohin reklame, ato malah mukul2in mobil tak berdosa yang lewat. kl simpati yang mereka cari, alih2 mereka malah akan mendapatkan caci maki. sekian numpang lewat dari saya, misiii….:D

  2. cinthyayuanita 30 Maret 2012 pada 12:34 am #

    hai kak..
    setuju kok.
    saya juga tidak membenarkan aksi demo yang anarkis.
    tapi saya juga kurang respek sama mereka yang berkicau dengan kata-kata yang kurang nyaman dibaca.
    bukankah mereka jadi sama saja dengan pihak-pihak yang mereka rutuki itu? sama-sama tidak berbuat apapun, sama-sama tidak menghasilkan apapun.
    lantas, kenapa harus menghakimi? :’)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: