Status

Udar Rasa : Hikayat Potong Kuku

5 Mar

Masih takikardi yang sama.

Masih palpitasi yang sama.

Masih satu nama yang sama.

Rasanya seperti memotong kuku yang kependekan.

Sakit.

Tapi tidak ada yang bisa dilakukan, selain menunggu waktu menyembuhkannya.

Hanya bisa mengistirahatkannya, tidak menggerakkannya. Membiarkannya sembuh dalam diam.

Atau sekadar melindunginya dari paparan lain yang dapat membuat luka kian membesar.

Bukan pemotong kuku yang salah, hanya aku yang memotongnya terlewat dalam.

3 Tanggapan to “Udar Rasa : Hikayat Potong Kuku”

  1. rezanufa 2 September 2014 pada 11:30 am #

    Aduh, ini bagus…

    • cinthyayuanita 2 September 2014 pada 1:25 pm #

      Aduh, Mas, selalu malu sendiri setiap liat notifikasi “like” atau komentar yang muncul. Apalah tulisan-tulisanku ini dibanding isi blogmu. Cuman butiran debu~

      Jangan nyesel kalo nanti ada serangan balasan “like” bertubi-tubi atau komentar yang menyampah di sana, loh, ya. Dari kemarin udah nahan-nahan soalnya. Semua bagus banget. Ini jari nggak bakal bisa berhenti kalo udah digerakkin sekali. :”)

      • rezanufa 2 September 2014 pada 2:37 pm #

        Ini sebetulnya berusaha tetep kalem; nggak nge-like dan nggak ngasih komen. Tapi kadang gak tahan. Nanti like dan komennya bakal kembali reda kalau seluruh isi blogmu selesai kubaca.😀

        Silakaaaan banget kalau mau balas dendam. Blog gue sepi komentar…. *terlalu jujur*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: